pixabay.com-1.png

Dukung istri, AyahASI Juga Bisa Disebut Hot Daddy

JawaPos.com – Ayah ideal atau disebut dengan istilah ‘Hot Daddy’ bisa diwujudkan dengan sikap atau aksi nyata. Ayah ideal pasti memprioritaskan apapun untuk keluarganya, anak dan istrinya. Dimulai dari menikah, suami siaga saat menjaga kehamilan istrinya, hingga ketika menjadi Ayah ASI.

Psikolog Klinis Liza Marielly Djapri menilai, ‘Hot Daddy’ bisa dimulai dari perjuangan ayah mau ikut membantu istri mengurus anaknya, menggendong bayinya, menggantikan popok, dan mendukung istri dalam pemberian ASI. Maka peran Ayah ASI bisa juga disebut sebagai ‘Hot Daddy’.

CoFounder Ayah ASI, Rahmat Hidayat menjelaskan, kampanye hashtag jargon ‘Hot Daddy ‘di media sosial tidak akan efektif jika dilakukan tanpa aksi. Meski begitu, menurutnya, para ayah zaman now semakin sadar untuk terlibat dalam pengasuhan anak.

” Gini deh, untuk jadi suami dan ayah, jadikan saja keluarga sebagai prioritas dalam hidup kita dengan begitu apapun yang keluarga butuhkan, kita ada,” tegas Rahmat kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Rahmat mengajak para ayah untuk terlibat mau terjun langsung membantu istri membesarkan buah hati bersama-sama. Seperti jargon para Ayah ASI yaitu ‘Bikinnya Berdua Urusnya Juga Berdua’.

“Hashtag sih enggak penting yah, yang jauh lebih penting sih makin ke sini banyak para suami yang semakin sadar pentingnya ikut terlibat di dalam pengasuhan anak. Kan biasanya urusan rumah dan anak-anak jatahnya ibu, nah sekarang banyak para ayah yang udah enggak malu untuk terlihat ngurusin anak di muka umum. Ini menurut kami (para ayah) penting sih, karena sejatinya pengasuhan adalah kerja bersama,” kata Rahmat.

Peran Ayah ASI, kata Rahmat, mendukung istri agar sukses memberikan ASI pada anak. Rahmat menyebut aksu itu hanya pintu masuk keterlibatan para suami pada pengasuhan.

“Reza Gunawan di buku Catatan Ayah ASI bilang bahwa siklus dari pacaran, nikah, hamil, melahirkan, menyusui dan tumbuh kembang anak harusnya menjadi rantai yang tidak terputus. Keterlibatan ayah enggak boleh berhenti pada salah satu tahapan tersebut, karena akan mempengaruhi tahapan berikutnya,” tutur Rahmat.

Menurutnya, untuk bisa terlibat yang utama itu harus menjalin komunikasi yang efektif. Suami-istri harus ngobrol soal pembagian tugas di rumah.

“Dari situ disepakati apa yang bisa dikerjakan suami, dan apa yang bisa dikerjakan istri. Selain menyusui, sebenarnya kan enggak ada satupun kerjaan di rumah yang ga bisa dilakukan oleh suami. Nah, jadi bagi tugas deh,” jelas Rahmat.

artikel asli bisa dilihat di sini

pixabay.com_.png

Komunitas Ayah ASI Minta Masyarakat Dukung Aktivitas Ibu Menyusui

JAKARTA, KOMPAS.com– Komunitas Ayah ASI menilai dukungan bagi ibu menyusui dari lingkungan dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan buah hati akan asupan air susu ibu (ASI), merupakan penyelamatan nyawa.

“Sebenarnya dengan mendukung ibu untuk beraktivitas memenuhi asupan ASI bagi bayinya sama dengan penyelamatan nyawa satu manusia,” kata Co-founder Ayah ASI, Agus Rahmat Hidayat, saat ditemui di peluncuran Kampanye 7 Menit Kehidupan, di Jakarta, Jumat (18/9/2015).

Penyelamatan tersebut, lanjut Agus, karena pemberian air susu ibu intensif pada bayi dalam usia enam bulan pertama bisa menurunkan potensi kematian bayi hingga enam persen.

“Di sinilah dukungan seorang ayah agar bisa memberikan asupan ASI pada bayinya secara intensif,” kata dia.

Para ayah bisa memberi dukungan kepada ibu dengan berbagai cara, seperti membuat ibu tenang dan senang sehingga ASI dapat keluar dengan volume yang banyak.

“Ayah juga bisa menjadi pencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai ASI, lalu bisa juga mendukung dengan berbagi peran dengan istri dalam hal mengurus anak,” tuturnya.

Dia melanjutkan, kerap para ibu yang menjadi wanita karir menghadapi situasi sulit karena ASI tidak bisa diberikan secara intensif, sebab harus bekerja, sehingga waktunya bersama buah hati menjadi tersita.

“Sesungguhnya hal itu bisa diatasi dengan cara memerah pada waktu tertentu misalnya ketika bangun di pagi hari, istirahat siang di kantor dan sebelum tidur atau waktu lainnya, lalu menampungnya di tempat yang steril kemudian ketika ibu tidak ada, ayah yang bertugas memberi ASI tersebut,” ujarnya

Akan tetapi, ujar dia, terkadang para ibu yang menjadi wanita karir menghadapi sikap kurang simpatik dari rekan kerjanya karena intensitas dalam kegiatan memerah dan menampung ASI tersebut dianggap mengganggu kinerja.

“Ini harus disadarkan bahwa dengan mendukung ibu untuk mengupayakan memberi ASI pada buah hatinya telah memberikan kesempatan hidup lebih baik pada anak. Karenanya dukungan dari semua pihak seperti penyediaan ruang laktasi di gedung adalah suatu kebutuhan dan kontribusi bagi dukungan kehidupan,” tuturnya.

artikel asli dapat dilihat di https://megapolitan.kompas.com/read/2015/09/19/05580071/Komunitas.Ayah.ASI.Minta.Masyarakat.Dukung.Aktivitas.Ibu.Menyusui

untitled-design-2.png

Podcast: Serunya Ayah Baru Belajar Jadi Ayah ASI

Ayah punya peran yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan ibu menyusui dan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan usia bayi. Setelah itu, menyusui juga masih harus dilanjutkan hingga bayi berusia 2 tahun atau lebih dengan disertai pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Ya Moms, untuk bisa menyusui hingga usia itu, mungkin saja ada banyak tantangan yang Anda hadapi, sehingga dukungan ayah tentu sangat dibutuhkan.

Untuk mendukung ibu menyusui, ada banyak cara yang bisa dilakukan ayah. Misalnya saja, ikut ambil peran dalam mengurus bayi, membantu meringankan pekerjaan rumah tangga, atau memijat ibu agar bisa rileks menyusui.
Tak hanya itu, ayah juga harus paham soal ilmu laktasi agar bisa selalu memberi semangat ibu untuk terus menyusui. Nah Moms, jika Anda adalah orang tua baru atau mungkin sedang menunggu kelahiran bayi, yuk ajak suami Anda mendengarkan podcast berikut.
Pada podcast kali ini, Pemimpin Redaksi kumparanOTO yang juga berstatus sebagai ayah baru, Gesit Prayogi, akan berbincang dan belajar soal menyusui dengan 2 orang co-founder Komunitas Ayah ASI, Sogi Indra Dhuaja dan Rahmat Hidayat.
untitled-design.png

Rahmat AyahASI: “Bikinnya Berdua, Ngurus Anaknya juga Berdua”

Jakarta, Jurnas.com – Gebrakan AyahASI yang dimunculkan via media sosial memberikan insight dan pandangan baru, khususnya untuk para suami dan ayah agar lebih memberikan ruang dan dukungan penuh untuk istri mereka.

Berikut wawancara Jurnas.com via instant messenger dengan Agus Rahmat Hidayat, Co-Founder AyahASI Indonesia.

Seberapa penting peran Ayah dalam mendampingi dan mendukung ibu menyusui?

Penting banget. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa angka keberhasilan menyusui meningkat jika suami turut mendukung. Keberhasilan IMD misalnya bisa mencapai 81.2 persen, keberhasilan menyusui bisa mencapai 98 persen dan penggunaan susu formula lebih rendah jika ayah mendukung ibu menyusui.

AyahASI percaya bahwa suami adalah benteng pertahanan seorang istri untuk memberikan ASI, artinya suami harus menjaga istri dari segala mitos menyusui dan komentar negatif dari sekeliling yang bisa menyebabkan istri menjadi stres.

Dalam bentuk apa dukungan ayah yang bisa diberikan?

Berbagi tugas di rumah bisa dalam hal bermain sama anak, gendong anak atau bahkan mencuci piring dan menyiapkan makan sendiri. Di luar itu ayah bisa mencari tahu soal ASI dan Menyusui, jadi sumber informasi bagi ibu yang seringkali sudah tidak punya waktu untuk membaca.

Ayah juga bisa nyenengin istri dengan menjadi teman bicara karena ibu setiap hari hanya bisa bicara dengan bayi, ayah juga bisa memberikan kejutan-kejutan kecil untuk membahagiakan istri dan jangan lupa juga untuk mencari bantuan jika istri mendapat kesulitan menyusui

Mengapa masih saja ada anggapan beban mengasuh anak pasca-melahirkan sepenuhnya peran ibu?

Karena oleh masyarakat kita laki-laki tidak pernah disiapkan untuk menjadi seorang ayah, laki-laki oleh sebagian besar masyarakat kita hanya disiapkan untuk menjadi seorang suami yang tugasnya mencari nafkah dan bekerja diluar rumah.

Belum lagi adanya ketimpangan dalam pembagian peran gender tersebut akhirnya laki-laki merasa bahwa mengurus anak bukan menjadi tugasnya. Jadi jangan salahkan laki-lakinya terlebih dahulu, karena sebenarnya kita peduli dengan anak-istri kita, tapi seringkali masih ada halangan dari adat ketimuran kita ketika suami ingin bantu istri di rumah.

Langkah atau kampanye apa yang sudah pernah AyahASI lakukan?

AyahASI adalah sebuah gerakan sosial, kami secara konsisten menyebarkan informasi soal ASI dan Menyusui dengan cara yang mudah dipahami para laki-laki serta mengajak keterlibatan mereka dalam mengurus anak.

Kampanye “bikinnya berdua, ngurus anaknya juga berdua” kami lakukan dalam bentuk roadshow Kelas AyahASI yang khusus untuk Ayah. Materinya mulai dari cara kerja payudara mengeluarkan ASI, cara mengangkat dan menggendong bayi serta bagaimana memberikan respon yang tepat ketika istri berbicara. Semuanya itu berujung pada upaya melibatkan ayah dalam proses mendukung keberhasilan menyusui.

Sejauh mana pengaruh publik figure dalam peran AyahASI?

Sangat penting yah, tapi sangat disayangkan minim sekali public figure yang ikut serta mengampanyekan pemberian makan bayi dan anak yang baik dan benar. Sering sekali public figure sudah jadi brand ambassador makanan instan atau susu formula.

Padahal jika lebih banyak public figure yang mengampanyekan isu menyusui ini maka dampaknya akan luar biasa bagi Indonesia untuk menurunkan angka stunting.

Harapan Anda dalam Pekan ASI tahun ini?

Lebih banyak suami yang terlibat dalam mendukung istrinya menyusui dan pemerintah lebih tegas pada produsen yang melanggar kode pemasaran pengganti ASI yang dikeluarkan oleh WHO.

artikel asli dapat dilihat di http://www.jurnas.com/mobile/artikel/57165/Rahmat-AyahASI-Bikinnya-Berdua-Ngurus-Anaknya-juga-Berdua/

wave-washing-away-inscription-2018_23-2147953500

Kegelisahan 2019

Bukan, ini bukan kegelisahan yang maksudnya kejang terus geli-geli basah yak. Ngeres aja lu.

Gini, mungkin 1-2 tahun belakangan ini gue berusaha banget untuk ngerem buat enggak ikutan komentar di sosial media, apalagi kaitannya sama agama dan politik. Bukan berarti gue enggak peduli, gue paham banget sama apa yang dibilang sama Buya Syafii kalo orang waras jangan diam!

Justru itu. Gue enggak memilih diam. Gue mau bergerak, mau ngajakin banyak orang untuk bergerak, bukan sekadar ngomong doang. Gue hanya merasa urusan komentar di sosial media udah banyak banget yang jago, udah cukup kayanya tanpa gue hadir pun.

Jadi gue memilih untuk tidak diam, tapi mau bantuin banyak orang untuk urusan ASI, Menyusui, Kesehatan Ibu dan Anak, Kontrasepsi, HIV dan TB. Enggak ahli juga sih soal itu semua, tapi ada pengalaman dan pengetahuan yang bisa gue bagi ke banyak orang. Berharap ilmunya bisa bermanfaat buat orang lain. aamiin.

Gue gelisah, kalo udah jadi orang waras eh tapi malah diam. Gue gelisah kalo udah mau 40 tahun tapi masih ngerasa belum berbuat banyak baik buat keluarga, orang banyak dan negara tercinta gue.

Lebai? bisa jadi. tapi dari pengalaman gue, bisa kok, meski mungkin enggak keliatan oleh banyak orang, minimal ada lah kontribusinya buat bangsa dan negara #tsaaah.

Untuk mengakomodir kegelisahan gue itu, gue mau bikin Yayasan. Belum ada duitnya sih, jadi kalo ada yang mau bantuin gue dengan skill dan ilmu yang elo punya, plis kontak gue yak.

Thanks

father-and-son_53876-13661

Merayakan World Breastfeeding Week

Hari ini adalah hari terakhir World Breastfeeding Week atau Pekan Menyusui Sedunia. Iyah, Week disini sebenarnya berarti Pekan, bukan Minggu. Meskipun saya AyahASI yang memberi dukungan agar istri saya menyusui anak-anak kami (Anak ke-1 menyusui hingga 2.2 tahun, anak ke-2 masih menyusui dan saat ini umurnya 8 bulan), saya memilih untuk merayakannya. Saya bahkan membuat infografis soal ASI dan Menyusui selama 7 hari berturut-turut untuk @ID_AyahASI, dan menyebut puluhan kali “perayaan” ini di akun social media. Meski baru kali ini saya menyebutnya di blog pribadi.

Karena buat saya, hal ini berguna untuk memberikan informasi soal ASI dan Menyusui. Saya dan istri pernah mengalami kesulitan dalam hal menyusui, pun begitu dengan para pendiri AyahASI. Itu kenapa kami membuat buku Catatan AyahASI dan mendirikan @ID_AyahASI, agar cukup kami saja yang mengalami kesulitan atau kegagalan dalam hal pemberian ASI, orang lain jangan sampe gagal. Iyah, saya memang bangga mengalami kesulitan soal ASI dan Menyusui dan kemudian berhasil melewatinya. Justru itu, saya ingin mengajak semua ibu-ibu untuk tidak gagal dan agar berhasil memberikan ASI untuk anaknya. Saya dan teman-teman @ID_AyahASI justru ingin merangkul ibu-ibu yang belum bisa memberikan ASI untuk belajar lagi soal ASI dan Menyusui agar bisa membantu teman-teman, tetangga bahkan familinya.

Pertama, bagi sebagian orang memberi ASI adalah perjuangan yang luar biasa. Perjuangan ini levelnya berbeda-beda.

Ada yang merasa perjuangan adalah begadang semalaman untuk menyusui. Sebenarnya enggak perlu begadang semalaman, ajak dong suami untuk membantu ketika memberikan ASI dimalam hari. Jika ibu merasa harus beristirahat, perah ASI, lalu minta suami untuk memberikan ASIP ketika anak kita terbangun dimalam hari. Disinilah dukungan AyahASI penting. Iyah betul, ini kan anak berdua, bukan anak si ibu aja. Jangan biarkan istri kita berjuang sendirian bung! Jangan!

Ada yang merasa perjuangan adalah puting digigit berulang kali sampai berdarah-darah. Ini sebenarnya bisa dihindari dengan beberapa tips dan trik yang sudah sering dibagi di akun @ID_AyahASI atau @aimi_asi. Menyusui itu harus menyenangkan, jika ada kesulitan atau merasa sakit, itu tandanya kita harus bertanya dan mencari informasi.

Ada yang harus makan sayur setiap hari baru ASI bisa deras keluar. Sebentar, kenapa makan sayur setiap hari harus dianggap perjuangan? Bukankah makan sayur itu sehat? Pemerintah kita aja kesulitan mempromosikan Pedoman Gizi Seimbang, masa ketika ada ibu menyusui yang mau makan sayur dianggap kegiatan yang menyusahkan? Ini juga mitos yang tampaknya ada sejak zaman Saur Sepuh, makan sayur dianggap bisa membuat ASI deras keluar. Nope! Makan sayur enggak ada hubungannya sama ASI deras keluar. Ibu menyusui cukup makan dengan porsi semampunya dengan pedoman gizi seimbang. Prinsipnya, nikmati dan batasi.

Ada yang harus minum susu setiap hari. Gini..andaikan semua orang yang peduli soal ASI dan Menyusui mau merayakan Pekan ASI Sedunia dengan informasi yang penting, mungkin kita bisa bilangin ke ibu menyusui bahwa ENGGAK HARUS minum susu setiap hari. Sayang ada juga yang enggak mau merayakannya, lalu diam.

Ada yang shopping setiap hari. Wait, WHAT? Sis..shopping is in their blood. Masa shopping biar ASI lancar juga dianggap menyulitkan? Kalo enggak shopping kan kasihan abang tukang sayur enggak ada yang beli.

Saya memang perlu merayakan semua hal tentang ASI dan Menyusui di World Breastfeeding Week. Ada juga teman-teman yang men-download sertifikat lulus ASI dan memamerkannya di social media. Atau ada juga yang menulis tentang tidak merayakan World Breastfeeding Week lalu memamerkannya di blog. Wait! Jadi sebenarnya merayakan World Breastfeeding Week dong, meski dari sudut pandang yang berbeda? anyway…

Pertanyaanya adalah? apakah semua upload foto soal ASI dan Menyusui lalu dianggap pamer? Lalu gimana dengan ibu hamil yang perutnya menonjol keluar? dianggap pamer? lalu harus menutupinya agar ibu-ibu yang belum bisa hamil terjaga perasaannya?

ya kan enggak begini juga kaaan…ya kan? ya ga sih? | kalau memang mau ngasih tau orang, kan bisa tulisannya dibuat positif gitu..

ya kalo pikirannya udah negatif ya susah juga sih…ini sama dengan orang yang enggak membolehkan ada pisau di rumah karena pisau bisa membunuh orang.

“Ibu-ibu seperti saya ini yang biasanya men-judge ibu-ibu yang tidak bisa memberi ASI”.

Nah kan ngaku..gini loh, kita justru mau mengajak agar tidak mudah menghakimi orang lain. Seorang Ibu enggak bisa disebut gagal menyusui,kenapa? karena menyusui dan memberikan ASI bukan tugas seorang ibu saja, menyusui dan memberikan ASI adalah tugas semua orang. Iyah, kita dan kamu harus mendukung seorang ibu untuk bisa berhasil menyusui. Bukan men-judge! Ga boleh itu. Kalo ada ibu yang belum berhasil menyusui, itu berarti kita dan kamu juga belum berhasil mendukung si ibu untuk berhasil. Ya salah kita juga! Kenapa diam? kenapa enggak membantu? kenapa enggak merayakan?

“Secara biologis ya memang ASI itu natural. Tapi ada faktor-faktor pemicu lain yang membuat seorang ibu gagal memberi ASI. Seperti support system dan kondisi psikologis.” Betul, saya setuju..justru saya dan teman-teman semua mengajak semua orang untuk membentuk supporting system yang baik bagi ibu menyusui. Bukan dengan memperlebar jarak dan menganggap ada 2 kubu yang berseberangan: IBU YANG PAMER vs IBU YANG DIHAKIMI.

Coba deh pola pikirnya diubah biar agak positif sedikit gitu, kaya gini: IBU BISA MENYUSUI vs IBU YANG HARUS DIBANTU.

“Support system yang baik di mana suami mendukung pemberian ASI, orangtua dan mertua mendukung pemberian ASI, kantor yang menyediakan ruang pompa ASI, komunitas yang merangkul dan memberi semangat untuk tetap memberi ASI.” – nah betul, tuh paham.

“Sementara faktor kondisi psikologis ini cukup tricky. Di satu sisi ibu harus bahagia agar ASI mengalir deras, tapi di sisi lain saat ASI nya berkurang, ibu langsung merasa down, stres, susah untuk bahagia. Padahal stres membuat ASI semakin berkurang.” – betul, ini bisa diatasi dengan Supporting System yang mba sebutin tadi, justru jangan dianggap kaya enggak bisa diatasi dan kok kayanya dianggap perjuangan ibu sendiri. Kalo ASI nya lagi berkurang, teman kantor kan bisa kasih dukungan positif misalnya, “ih segitu banyak loh, nanti pas pompa lagi aku temenin yah, biar lebih seru”. Gitu, jangan malah dipanas-panasin, entar kalo malah memilih enggak mau perah lalu gimana? karena menganggap enggak bisa diatasi? hayooo loh..

“Menurut saya pamer sertifikat dan pamer jumlah stok ASI perah hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial dan membuat ibu yang “gagal” menyusui semakin stres, semakin tidak bisa memberi ASI. Dan yang diberi sertifikat adalah bayinya. Make sense kah?” – Ini kalo pikirannya negatif yah..kalo pikirannya positif akan seperti ini “Ih si Annis keren banget udah ada sertifikat ASI dan stok ASInya banyak, aku mau ah belajar sama dia, mau diskusi sama dia biar aku juga banyak..aku mau minta dia untuk dukung aku ah” Nah, kalo pikiran positif seperti ini justru akan semakin menghilangkan kecemburuan social dan membuat ibu yang “gagal” menyusui menjadi bangkit dan berhasil menyusui.

Iyah…masa ada orang yang lagi jatuh terus kita bilang gini…”ih kalian ini malah jalan-jalan, jaga dong perasaan orang yang lagi jatuh, ga bisa berdiri tuh..ini kalian malah pamer pake sepatu baru dan jeans baru”.

Sementara disisi lain ada orang yang lagi jatuh terus kita bilang gini…”aku udah berhasil kasih ASI dan punya stok banyak..aku mau ah bantuin si Annis biar kaya aku..aku nanti kasih tau dia ah poto-poto aku menyusui..pokoknya aku pengen semua orang kaya aku, berhasil kasih ASI.”

Gituu..keliatan kan bedanya orang yang bikin panas sesuatu sama yang bikin adem?

“Untuk yang senang pamer kulkas berisi ratusan botol ASI perah, tahukah ada kondisi bernama hiperlaktasi di mana seorang ibu berlebihan memproduksi ASI? Ibu hiperlaktasi ini biasanya punya cadangan ASI perah berkulkas-kulkas karena ASI yang dia produksi lebih banyak dari yang dibutuhkan bayi.” – Begini..hiperlaktasi ini sebuah kondisi khusus yang positif,iyah betul..saya sebut kondisi khusus karena memang enggak semua ibu bisa seperti ini. Beberapa alasan hiperlaktasi adalah karena Alveoli yang banyak atau ada ketidakseimbangan hormon.

Jadi gini, kalo ada ibu yang punya stok ratusan botol ASI perah dikulkas itu bukan karena si ibu Hiperlaktasi..itu karena si ibu rutin memerah ASI. Jangan dianggap begini: “ih dia kan punya banyak stok ASI karena hiperlaktasi, aku kan enggak..sombong banget sih pamer-pamer foto”. Bukan gitu..boleh sih meng-kritik, tapi yang membangun sedikit dengan informasi dan data yang bener juga boleh kok. Produksi ASI itu prinsipnya sederhana, semakin sering ASI dikeluarkan, maka produksi ASI akan semakin cepat. Betul, itu bisa diatur, kita yang atur…bukan hiperlaktasi. Kita yang harus kasih informasi yang bener biar si ibu bisa memerah ASI dengan rutin.

Kedua, menurut saya ASI itu rezeki. Kalau rezeki tentu tidak sama bagi setiap orang dong.

Oh betul..ASI memang berbeda setiap orang, bahkan setiap hari aja kandungan ASI berbeda. Banyaknya ASI juga bisa berbeda, karena tergantung pada kebutuhan si bayi. Bayi A cuma butuh sedikit disbanding dengan Bayi B, yah ga apa-apa, memang segitu kebutuhannya.

“Sejak hamil, saya sendiri selalu menanamkan pola pikir rezeki ini. Bahwa saya akan bersyukur sekali kalau Tuhan melancarkan rezeki saya melalui ASI. Kalau pun ASI saya tidak keluar, saya berdoa agar diberi rezeki dalam bentuk lain karena susu formula kan mahal.” – Boleh ya enggak sependapat kan..lagian kan ini juga blog pribadi saya. Begini, saya beranggapan bahwa semua yang gratis dari Tuhan itu butuh usaha dari manusia. Contohnya begini..

Cinta itu gratis..tapi kita perlu usaha bertahun-tahun untuk mendapatkan jodoh? kalo diam saja kan juga enggak bisa. Tuhan justru pengen kita berusaha. ASI juga begitu, gratis dari Tuhan..tapi payudara perlu mendapat rangsangan, ibu perlu didukung agar pemberian ASI lancar ke bayi.

“Karena kalau pun ASI saya tidak lancar, masa mau menyalahkan Tuhan kan?” – Ya tentu enggak. Saya sih menyalahkan orang yang enggak mau bantuin nyebarin informasi penting di kala Pekan ASI Sedunia. Ada yang butuh bantuan, tapi enggak dibantu. Kan Kasihan. Kamu ih…

“Jadi memberi ASI ada yang memang sukses tanpa usaha,..” – oh mana adaaaa, coba tanya semua ibu menyusui…tanya apakah ada yang bisa memberi ASI dan sukses tanpa usaha? Kalo ada, sini saya traktir bakso 2 mangkok.

“Sangat tidak adil jika seorang ibu di-judge “tidak memberi yang terbaik” untuk anaknya karena gagal memberi ASI.” – ini seperti yang dibilang tadi –> “Ibu-ibu seperti saya ini yang biasanya men-judge ibu-ibu yang tidak bisa memberi ASI”. Ya jangan dong..jangan menghakimi. Ayo dibantu dengan merayakan World Breastfeeding Week, minggu lalu ada puluhan informasi yang beredar biar Ibu menyusui bisa sukses dikala bekerja. Bahkan AIMI diberbagai kota memberikan informasi gratis dengan dating ke kantor-kantor loh. Iyah, mereka bergerak. Bukan sekedar enggak mau merayakan lalu menghakimi.

“Ayo kampanye ASI, bahwa ASI makanan terbaik bagi bayi karena murah dan mudah. Karena membuat bayi lebih sering berada di pelukan ibunya. Kampanyekan pada para ayah untuk  membuat ibu selalu bahagia. Kampanyekan pada para nenek dan kakek bahwa ASI lebih baik dari susu formula.

Bukan berkampanye dalam bentuk perayaan ramai-ramai mengunggah foto sertifikat dan jumlah ASI perah. Yang membuat ibu-ibu lain semakin tertekan secara psikologis dan semakin sulit memberi ASI.”

Satu lagi..Ayo Berkampanye untuk tidak berpikiran negatif, yuk selalu ajak orang untuk berpikiran positif.

Disclaimer: Tulisan ini adalah sepenuhnya opini dan pandangan penulis dan tidak mewakili opini @ID_AyahASI secara komunitas/keseluruhan.

*blog sendiri sih, ga usah pake nama lah ya*

wedding-moments-newly-wed-couple-s-hands-with-wedding-rings_8353-5792

Same Sex Marriage; Yes or No?

Artikel dibawah ini terlalu menarik untuk enggak gue taro di blog ini. Kurang lebih mewakili pendapat gue soal Same Sex Marriage yang baru aja dilegalkan di US. Gue sendiri enggak ada masalah soal LGBT, bertahun-tahun kerjaan gue juga berhubungan sama temen-temen ini. Prinsip gue sederhana, elo udah dewasa, gue menghargai pilihan elo, soal dosa itu urusan elo sama Tuhan. Itu kenapa sampe sekarang gue berteman baik dengan temen-temen LGBT.

Tulisan ini menarik karena ditulis oleh seorang gay, meski dia menggunakan nama samaran. Silahkan dibaca.

____________________________________________________________

I’m Gay, And I Oppose Same-Sex Marriage; I want nothing in this world more than to be a father. Yet I can’t bring myself to celebrate same-sex marriage.

Gay marriage has gone from unthinkable to reality in the blink of an eye. A recent Washington Post/ABC News poll shows that support for gay marriage is now at 61 percent—the highest it’s ever been. On Tuesday, the Supreme Court will hear arguments in the case that many court-watchers believe will deliver the final blow to those seeking to prevent the redefinition of marriage. By all measures, this fight is over. Gay marriage won.

As a 30-year-old gay man, one would expect me to be ecstatic. After all, I’m at that age where people tend to settle down and get married. And there is nothing in this world I want more than to be a father and raise a family. Yet I can’t seem to bring myself to celebrate the triumph of same-sex marriage. Deep down, I know that every American, gay or straight, has suffered a great loss because of this.

I’m not alone in thinking this. The big secret in the LGBT community is that there are a significant number of gays and lesbians who oppose same-sex marriage, and an even larger number who are ambivalent. You don’t hear us speak out because gay rights activists (most of whom are straight) have a history of viciously stamping out any trace of individualism within the gay community. I asked to publish this article under a pseudonym, not because I fear harassment from Christian conservatives, but because I know this article will make me a target of the Gaystapo.

Marriage Is More than a Contract
The wheels of my Pride Parade float came off the moment I realized that the argument in support of gay marriage is predicated on one audaciously bald-faced lie: the lie that same-sex relationships are inherently equal to heterosexual relationships. It only takes a moment of objective thought to realize that the union of two men or two women is a drastically different arrangement than the union of a man and a woman. It’s about time we realize this very basic truth and stop pretending that all relationships are created equal.

Why was government invited to regulate marriages but not other interpersonal relationships, like friendships? This inherent inequality is often overlooked by same-sex marriage advocates because they lack a fundamental understanding of what marriage actually is. It seems as though most people view marriage as little more than a love contract. Two people fall in love, agree to stick together (for a while, at least), then sign on the dotted line. If marriage is just a love contract, then surely same-sex couples should be allowed to participate in this institution. After all, two men or two women are capable of loving each other just as well as a man and a woman.

But this vapid understanding of marriage leaves many questions unanswered. If marriage is little more than a love contract, why do we need government to get involved? Why was government invited to regulate marriages but not other interpersonal relationships, like friendships? Why does every religion hold marriage to be a sacred and divine institution? Surely marriage must be more than just a love contract.
People have forgotten that the defining feature of marriage, the thing that makes marriage marriage, is the sexual complementarity of the people involved. Marriage is often correctly viewed as an institution deeply rooted in religious tradition. But people sometimes forget that marriage is also based in science. When a heterosexual couple has sex, a biological reaction can occur that results in a new human life.

Government got into the marriage business to ensure that these new lives are created in a responsible manner. This capacity for creating new life is what makes marriage special. No matter how much we try, same-sex couples will never be able to create a new life. If you find that level of inequality offensive, take it up with Mother Nature. Redefining marriage to include same-sex couples relegates this once noble institution to nothing more than a lousy love contract. This harms all of society by turning marriage, the bedrock of society, into a meaningless anachronism.

A Good Dad Puts Kids First
Same-sex relationships not only lack the ability to create children, but I believe they are also suboptimal environments for raising children. On a personal level, this was an agonizing realization for me to come to. I have always wanted to be a father. I would give just about anything for the chance to have kids. But the first rule of fatherhood is that a good dad will put the needs of his children before his own—and every child needs a mom and a dad. Period. I could never forgive myself for ripping a child away from his mother so I could selfishly live out my dreams.

Same-sex relationships, by design, require children to be removed from one or more of their biological parents and raised absent a father or mother. This hardly seems fair. So much of what we do as a society prioritizes the needs of adults over the needs of children. Social Security and Medicare rob the young to pay the old. The Affordable Care Act requires young and healthy people to buy insurance to subsidize the cost for the old and sick. Our schools seem more concerned with keeping the teachers unions happy than they are educating our children. Haven’t children suffered enough to make adults’ lives more convenient? For once, it would be nice to see our society put the needs of children first. Let’s raise them in homes where they can enjoy having both a mom and a dad. We owe them that.

At its core, the institution of marriage is all about creating and sustaining families. Over thousands of years of human civilization, the brightest minds have been unable to come up with a successful alternative. Yet in our hubris we assume we know better. Americans need to realize that same-sex relationships will never be equal to traditional marriages. You know what? I’m okay with that.

Paul Rosnick is a pseudonym.

artikel asli dapat dibaca di sini

top-view-of-blank-slate-with-apples-and-water-bottle_23-2147601786

Diet Mayo Yang Nyaho!

Disclaimer:

Gue pribadi sebenarnya bukan pendukung segala macam diet-dietan yang bertujuan untuk menguruskan badan. Buat gue pribadi, yang utama adalah tubuh mendapatkan asupan yang dibutuhkan, tubuh harus sehat, bukan kurus! Kalo badan sehat, maka berat badan yang turun adalah bonusnya. Tulisan soal Mayo Diet ini cuma sekedar meluruskan apa yang saat ini lagi nge-trend dan beredar di Indonesia. Kenapa harus diluruskan? Ya karena menurut gue udah beda jauh banget sama aslinya. Sayang kan, udah makan “ga enak” tapi ternyata salah. Gue sendiri adalah pelaku Food Combining.

Diet Mayo vs The Mayo Clinic Diet

Kok ada dua sih? itu sama apa beda?

Beda!

Diet Mayo 13 Days atau yang sekarang kita kenal dengan Tantangan 13 Hari Diet Mayo bukan bikinan Mayo Clinic seperti yang kebanyakan orang bilang. Dalam beberapa blog bahkan ada yang bilang kalo Diet Mayo ini diperkenalkan oleh Mayo Clinic pada tahun 2008. Aneh! Mayo Clinic aja baru bikin buku soal The Mayo Clinic Diet pada tahun 2010. Diet Mayo ini ga jelas asal muasalnya dan ga tau juga siapa yang bikin. Bahkan sebenarnya udah dimulai sejak tahun 1930an. Diet Mayo 13 Days ini punya banyak nama, sebut aja 13 Days Metabolism Diet dan Holywood Diet. Gue jelasin lebih lanjut dibawah.

The Mayo Clinic Diet. Nah, yang ini baru dikenalkan secara resmi pada tahun 2010. Bersamaan dengan terbitnya sebuah buku dengan judul yang sama. Jadi terkenal banget karena MayoClinic.org emang lembaga penelitian kesehatan ternama, dijadiin referensi soal kesehatan oleh jutaan orang, termasuk gue sendiri.

Terus apa bedanya?

farmer-milking-a-cow_1205-312

Catatan Kritis Revolusi Putih

Revolusi Putih di Dokumen Visi-Misi Pasangan Prabowo-Hatta

Revolusi Putih di Dokumen Visi-Misi Pasangan Prabowo-Hatta

Pasangan Prabowo-Hatta menuliskan soal Revolusi Putih ini di dokumen visi-misi yang disampaikannya kepada KPU. Untuk jelasnya, dokumen visi-misi pasangan Prabowo-Hatta bisa lihat disini. Revolusi Putih pada paparan visi-misi tersebut (seperti pada gambar diatas) tertulis begini, “Menggerakkan revolusi putih mandiri dengan menyediakan susu untuk anak-anak miskin di sekolah melalui peternakan sapi dan kambing perah”.

Sayangnya, agak susah mencari dokumen resmi yang menjelaskan konsep revolusi putih mandiri tersebut. Gambaran yang cukup lengkap bisa ditemukan pada website TIDAR (Tunas Indonesia Raya), TIDAR sendiri merupakan organisasi sayap partai Gerindra. Pada website tersebut ada artikel yang berjudul ‘Latar Belakang Informasi Revolusi Putih’, lengkapnya bisa baca disini. Jadi, untuk saat ini, artikel tersebut gue jadikan ukuran tentang konsep revolusi putih yang disampaikan oleh pasangan Prabowo-Hatta.

Berikut adalah beberapa kutipan dari artikel dengan judul Latar Belakang Informasi Revolusi Putih tersebut:

Revolusi Putih adalah gerakan meningkatkan konsumsi susu terutama bagi anak dan remaja agar terjadi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. Dengan tujuan agar terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan gizi sejak dini. Bagi negara, Revolusi Putih tidak sekedar meningkatkan konsumsi susu masyarakat tetapi juga produksi susu yang mampu menopang target konsumsi susu. Hal tersebut harus mulai dari politik anggaran yang memprioritaskan perbaikan sumber daya manusia Indonesia.

Survei yang dilakukan Kementerian Pertanian Republik Indonesia pada tahun 2011 memaparkan fakta bahwa konsumsi susu di Indonesia paling rendah dibandingkan konsumsi susu di negara ASEAN maupun Eropa. Konsumsi susu masyarakat per kapita per tahun di Cina 24 liter, Vitenam 12,1 liter, Filipina 22,1 liter, Malaysia 22,1 liter, Thailand 33,7 liter, India 42,8 liter, dan Indonesia 11,9 liter. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya lima tetes sehari, masih sangat rendah.

Di Indonesia prevalensi kekurangan gizi pada anak balita komposisinya sekitar 13 persen anak mengalami gizi kurang dan 4,9 persen gizi buruk sesuai dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010. Revolusi Putih berfungsi sebagai upaya memperbaiki gizi bangsa dan mengurangi bahkan mengentaskan gizi buruk. Dengan memperbaiki gizi bangsa berarti memperbaiki kualitas sumber daya manusia, meningkatkan indeks perkembangan manusia serta meningkatkan kesejahteraan. Semakin tinggi kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan maka kemiskinan juga dapat berkurang.

Pada awal tahun 1950-an Prof Poorwo Sudarmo (Bapak Gizi Indonesia) mencetuskan empat sehat lima sempurna dengan menempatkan susu pada urutan terakhir. Program peningkatan gizi tersebut sempat berjalan dengan baik selama beberapa waktu namun tidak mampu dijalankan secara konsisten dan nasional sehingga peningkatan gizi anak bangsa belum mencapai target yang diinginkan dan mengubah kualitas penduduk bangsa Indonesia seperti pada negara Jepang, Cina dan India.

Secara umum Revolusi Putih menyebutkan bahwa perbaikan gizi pada anak-anak miskin adalah dengan meningkatkan konsumsi susu. Ini yang gue kurang setuju, soal perbaikan ekonomi dengan peternakan sapi dan kambing perah, gue setuju, asal dikelola dengan jujur dan baik tentunya.

Perjalanan Sejarah Pedoman Gizi Indonesia
Soal pedoman gizi ini enggak bisa enggak harus kita bahas, karena jelas berpengaruh sama pola makan masyarakat Indonesia, dan efeknya pada kesehatan masyarakat. Sorry to say, pemerintah seakan-akan terlalu menganggap remeh soal pedoman cara makan ini. Gue yakin, sebagian besar dari kita masih mengenalkan konsep 4 Sehat 5 Sempurna (4S5S) sebagai pedoman cara makannya, beberapa teman bahkan menyebutkan konsep 4S5S ini masih disampaikan di sekolah-sekolah TK dan SD.

Soekirman, Direktur Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI) mengatakan bahwa pada tahun 1930an, ilmu gizi hanya mengenal 3 zat gizi utama, yaitu protein, karbohidrat dan lemak, ketiganya sumber energi. Baru kemudian ditemukan vitamin dan mineral. Atas dasar DKBM hasil penelitian BPP, USDA menyusun Pedomanan Makanan (“Food Guide”) dengan mengelompokkan bahan makanan atas dasar sumber zat gizinya. Di tahun 1930an USDA mengelompokkan menjadi 12 kelompok makanan. Tahun 1940an dikecilkan menjadi 7 kelompok, dan tahun 1956 menjadi 4 kelompok yang di Amerika dikenal sebagai “Basic Four Food Guide”. Pedoman ini sejak tahun 1950an diikuti oleh banyak negara lain dengan Basic Fournya masing-masing, termasuk Indonesia dengan Empat Sehat Lima Sempurnanya.

Gambar Basic Four versi USDA

Gambar Basic Four versi USDA

Gambar: 4 Sehat 5 Sepurna

Gambar: 4 Sehat 5 Sepurna

Amerika kemudian melakukan studi untuk mengevaluasi pedoman gizi tersebut. Hasil survey gizi yang dikeluarkan pada 1970 tersebut mengatakan bahwa pola makan orang Amerika ternyata tidak berubah bahkan cenderung lebih buruk, yaitu  tinggi lemak, tinggi gula, tinggi garam, dan  rendah  serat.  Tidak ada keseimbangan antara asupan energi dari makanan yang masuk dengan pengeluaran energi.  Susunan makanan demikian  memicu timbulnya kegemukan. Akibatnya jumlah orang yang gemuk dan gemuk sekali (obis)  dengan dampak negatifnya terus meningkat di USA. Akhirnya disimpulkan bahwa  pedoman “Basic Four”  yang dipakai sejak tahun 1940an ternyata tidak efektif.

Sialnya, kita tidak melakukan evaluasi terhadap konsep 4 Sehat 5 Sempurna. Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan di Amerika sendiri melakukan kajian bersama untuk selalu melakukan evaluasi terhadap Pedoman Makanan (Food Guide) setiap 5 tahun sekali. Bayangkan ini, konsep 4 Sehat 5 Sempurna yang menjadi Pedoman ‘Resmi’ Makanan masyarakat Indonesia selama 45 tahun (1950-1995) tidak pernah dievaluasi. Padahal Amerika sudah banyak melakukan evaluasi.

Pada tahun 1991 ada kejadian yang menarik terjadi di Amerika, khususnya soal penetapan Pedoman Makanan (Food Guide) ini. Menteri Pertanian Amerika tampak ragu-ragu mengeluarkan Pedoman Makanan yang baru, ia mengatakan bahwa pedoman makanan yang baru ini tampak akan membingungkan bagi anak-anak. The Eating Right Pyramid yang baru itu sejatinya akan diluncurkan dengan ilustrasi angka 8 yang kurang lebih isinya adalah ada kelompok Gandum, Sayuran, Buah-buahan, dengan pengurangan konsumsi pada Daging dan Susu serta pengurangan konsumsi pada makanan yang tinggi lemak dan gula. Konsep ini kabarnya mendapat penentangan dari Industri Daging dan Produsen Susu, karena dikhawatirkan akan mengurangi produksi mereka. Dalam sejarahnya, penentuan Pedoman Makanan (Food Guide) di Amerika memang tidak pernah terlepas dari lobi-lobi industri makanan, pun termasuk produsen susu.

Balik lagi soal 4 Sehat 5 Sempurna, jadi pada tahun 1970, Amerika saja sudah mengadakan studi terhadap pedoman makanannya dan hasilnya adalah  pedoman “Basic Four”  yang dipakai sejak tahun 1940an ternyata tidak efektif. Pedoman ini ternyata menimbulkan masalah baru, yaitu Obesitas dan Kegemukan. Sementara di Indonesia? Iya, kita terus menggunakan konsep itu dan tidak melakukan evaluasi hingga akhirnya dijadikan pedoman makan kita selama hampir lebih dari 45 tahun.

Basic Four yang kemudian diadaptasi oleh kita dengan slogan 4 Sehat 5 Sempurna berangkat dari kondisi perang dunia kedua. Pedoman Makanan ini dibuat sedemikian rupa agar masyarakat dapat dengan cepat dan mudah mempelajari apa yang harus dimakan agar tubuh sehat. Kondisi perang dunia kedua tentu sangat mengkhawatirkan, tingkat pendidikan rendah, ekonomi hancur lebur, komunikasi terbatas dan lain sebagainya. Sehingga konsep ini memang dibuat agar masyarakat belajar cara makan dengan mudah. Konsep ini menekankan pentingnya empat golongan makanan berupa sumber kalori untuk tenaga, protein untuk pembangun, sayur dan buah sumber vitamin dan mineral untuk pemelihara.

Beberapa kekurangan konsep 4 Sehat 5 Sempurna ini adalah:

  1. Kebutuhan nutrisi setiap orang berbeda tergantung berbagai faktor
  2. Susu bukan makanan sempurna. Susu adalah sumber protein hewani yang juga terdapat pada telur, ikan dan daging. Oleh karena itu, susu ditempatkan dalam satu kelompok dengan sumber protein hewani yang lain
  3. Tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan ilmu gizi
  4. Susunan makanan yang terdiri atas 4 kelompok belum tentu sehat, bergantung pada porsi dan jenis zat gizinya apakah telah sesuai dengan kebutuhan.

Kondisi Gizi di Indonesia

Menteri Kesehatan pada sebuah kesempatan pernah mengatakan bahwa permasalahan gizi yang masih sulit dikendalikan adalah terkait kekurangan gizi dan pendek (stunting). Pada tahun 2010 prevalensi anak stunting 35.6 %, artinya 1 diantara tiga anak kita kemungkinan besar pendek. Sementara prevalensi gizi kurang telah turun dari 31% (1989), menjadi 17.9% (2010). Dengan capaian ini target MDGs sasaran 1 yaitu menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi 15.5% pada tahun 2015 diperkirakan dapat dicapai.

Revolusi Putih yang dicanangkan oleh pasangan Prabowo-Hatta merujuk pada ‘Operation Flood” pada tahun 1970 di India. Artikel di website TIDAR tersebut menulis begini, “India adalah salah satu negara yang memulai Revolusi Putih pada tahun 1970 melalui programnya ‘Operation Flood’ yang diprakarsai oleh Dr. Verghese Kurien. Revolusi Putih India yang berhasil meningkatkan produksi dan konsumsi susu, gizi masyarakat, dan ekonomi rakyat. Berkat Revolusi Putih yang dilakukan, India berhasil meningkatkan angka konsumsi susu masyarakatnya hingga mencapai 42,8 liter per kapita per tahun dan menjadi produsen susu terbesar di dunia”.

Oke, sekarang lihat data dibawah ini..

Laporan Nutrisi UNICEF tentang Jumlah Anak Pendek (stunting)

Laporan Nutrisi UNICEF tentang Jumlah Anak Pendek (stunting)

Laporan Gizi yang dikeluarkan UNICEF pada tahun 2013 itu menyebutkan bahwa 80% jumlah anak pendek (stunting) didunia ternyata berada di 14 negara, dan India adalah negara terbanyak yang memiliki jumlah anak pendek (stunting), Indonesia sendiri berada di rangking ke-5. Pertanyaannya, apakah kita akan mengikuti Revolusi Putih India jika melihat bahwa ternyata India adalah negara tertinggi dengan populasi anak pendek (stunting) terbanyak di dunia?

Masih berdasarkan laporan UNICEF tersebut, Indonesia mengalami beban ganda terhadap masalah gizi ini. Beban ganda tersebut adalah terkait dengan kekurangan gizi dan kegemukan. 1 dari 3 anak di Indonesia yang berusia dibawah 5 tahun cenderung pendek dan secara bersamaan 1 dari 7 anak di Indonesia kegemukan atau kelebihan berat badan. Pola konsumsi yang baik tentu menjadi solusi untuk mengatasi permasalah gizi tersebut, dan tentu letaknya bukan hanya di peningkatan konsumsi susu.

Pemerintah Indonesia melalui Bappenas pada tahun 2013 telah meluncurkan program Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK). Gerakan ini tentu sebaiknya juga menjadi pegangan bagi Pasangan Capres untuk melakukan program perbaikan gizi di Indonesia.

1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak janin dalam kandungan hingga ulang tahun kedua seorang anak, merupakan periode yang sangat penting karena kebanyakan kerusakan atau terhambatnya pertumbuhan yang disebabkan oleh kurang gizi terjadi selama periode tersebut. Gagal tumbuh terjadi diantaranya karena terhambatnya perkembangan otak yang tidak dapat diperbaiki pada kehidupan selanjutnya. Oleh sebab itu, sangatlan penting untuk memfokuskan perhatian pada periode 1000 hari pertama kehidupan, dan memastikan bahwa ibu mendapat gizi yang cukup selama kehamilan dan bahwa berbagai langkah harus diambil untuk mencegah anak menjadi kurang gizi selama dua tahun pertama kehidupannya.

Beberapa penyebab kekurangan gizi di Indonesia secara umum adalah: 1) Permasalahan ketahanan pangan di rumah tangga, saat rumah tangga tidak mampu menghasilkan atau membeli makanan yang cukup, 2) Minimnya pola asuh yang baik, terutama pemberian ASI, makanan pendamping ASI, dan perawat terhadap ibu sebelum dan selama kehamilan serta setelah persalinan, 3) Air, Sanitasi dan hygiene yang buruk yang meningkatkan penularan berbagai penyakit seperti misalnya diare, 4) Layanan Kesehatan yang kurang memadai, 5) Kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan.

Dari beberapa penyebab kekurangan gizi di Indonesia yang tercantum dalam dokumen Bappenas tersebut, tidak ada satupun yang mengatakan bahwa rendahnya konsumsi susu menjadi penyebab anak Indonesia kekurangan gizi. Jadi, kita harusnya tidak perlu khawatir terhadap rendahnya konsumsi susu di Indonesia, atau jangan-jangan, ada lobi dari industri susu untuk mengangkat isu ini? Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, 80% susu di Indonesia adalah hasil impor. Jika Revolusi Putih berjalan, siapa yang akan diuntungkan? Peternak Sapi Perah atau justru Industri Susu? Dan, Revolusi Putih sebenarnya tidak perlu ada, justru sebaiknya mengedepankan Revolusi Hijau dan Pelangi, meningkatkan konsumi sayur-sayuran dan buah-buahan.

Balik lagi soal Pedomanan Makanan, lalu bagaimana nasib kita setelah 4 Sehat 5 Sempurna tidka dipakai lagi? Indonesia baru pada tahun 2009 secara resmi memasukkan istilah Gizi Seimbang pada UU Kesenatan No36/2009. Tahun 2014 ini Kementerian Kesehatan baru mengeluarkan Pedoman Gizi Seimbang. Prinsip Gizi Sseimbang terdiri dari 4 Pilar yang pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memonitor berat badan secara teratur. Empat pilar tersebut adalah:

  1. Mengonsumsi makanan beragam
  2. Membiasakan perilaku hidup bersih
  3. Melakukan aktifitas fisik
  4. Mempertahankan dan memantau berat badan ideal

Kementerian Kesehatan meluncurkan gambar untuk memudahkan promosi gizi seimbang. Ada 2 gambar yang dikenalkan, yaitu 1) Tumpeng Gizi Seimbang dan 2) Piring Makanku. Ini adalah gambar Tumpeng Gizi Seimbang.

Tumpeng Gizi Seimbang

Tumpeng Gizi Seimbang

Perhatikan, pada tingkat ke-3, Susu hanya menjadi salah satu bagian dari sumber protein. Susu tidak lagi menjadi hal yang istimewa, bukan penyempurna makanan.

Lalu ada juga gambar Piring Makanku, juga tidak ada gambar Susu. Perhatikan perbedaan antara Piring Makanku (versi Indonesia) dengan gambar MyPlate (versi Amerika).

Perbadingan MyPlate dan Piring Makanku

Perbadingan MyPlate dan Piring Makanku

Perhatikan, di konsep MyPlate, masih ada tulisan DAIRY (Produk Susu), sementara konsep PIRING MAKANKU sudah tidak ada susu dan minumnya cukup Air Putih.

Jadi, jika memang berniat ingin mengentaskan permasalahan gizi di Indonesia, maka ikutilah Gerakan 1000 HPK dan promosikan Pedoman Gizi Seimbang. Ganti Revolusi Putih dengan #IndonesiaMakanSayur.

Dokumen terkait:

  1. Pedoman Gerakan 1000 HPK: http://www.bappenas.go.id/files/5013/8848/0466/PEDOMAN_SUN_10_Sept_2013.pdf
  2. FAQ tentang Gerakan 1000 HPK: http://www.bappenas.go.id/files/3913/8848/0509/FAQ-Indonesia-13-10-03.pdf
  3. Laporan Nutrisi UNICEF: http://www.unicef.org/publications/files/Nutrition_Report_final_lo_res_8_April.pdf
  4. Pedoman Gizi Seimbang 2014: http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2

Bahan Bacaan:

http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2

http://health.kompas.com/read/2013/05/21/09390826/Konsep.Gizi.Seimbang.Pengganti.4.Sehat.5.Sempurna

http://sosok.kompasiana.com/2014/02/11/prabowo-revolusi-putih-631168.html

http://partaigerindra.or.id/2012/01/29/partai-gerindra-canangkan-revolusi-putih.html

http://tidar.or.id/app/berita/176-latar-belakang-informasi-revolusi-putih

http://www.kfindonesia.org/index.php?pgid=12&contentid=22

http://www.danonenutrindo.org/sejarah_gizi_seimbang.php

http://health.kompas.com/read/2011/01/22/15365715/Tinggalkan.4.Sehat.5.Sempurna.

http://engkani.blogspot.com/2011/07/sejarah-lengkap-perkembangan-gizi-ilmu.html

http://www.michaelfarms.com/pdfs/BriefHistoryOfNutritionGuidelinesInU.S.pdf

http://www.pcrm.org/search/?cid=1536

http://theincidentaleconomist.com/wordpress/what-the-heck-are-we-supposed-to-be-eating/

http://www.rivertea.com/blog/evolution-food-pyramid/

http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_USDA_nutrition_guides

http://www.foodpolitics.com/wp-content/uploads/caduceus_93.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8375951

http://www.nal.usda.gov/fnic/history/7551v.gif

http://www.emedicinehealth.com/nutrition_and_diet/page4_em.htm

http://www.cnpp.usda.gov/Publications/MyPyramid/OriginalFoodGuidePyramids/FGP/FGPBackgroundAndDevelopment.pdf

http://finance.detik.com/read/2013/11/07/173233/2406625/1036/ini-penyebab-ri-ketergantungan-80-susu-impor

http://www.tempo.co/read/news/2014/05/23/090579827/Indonesia-Masih-Impor-Susu-45-Juta-Liter-per-Hari

http://health.kompas.com/read/2012/11/14/14190612/Status.Terkini.Gizi.Anak.Indonesia

elevated-view-of-fresh-vegetables-on-wooden-plank_23-2147882086

[Mungkin Emang] Ga Perlu Maksa Anak Makan Sayur

Sebenarnya udah lama mau nulis cerita ini, cerita soal anak gue, Keenandra Ilham, yang belakang ini doyan sayur. Gue dan istri juga kaget, ga ada petir, badai dan halilintar padahal. Ga ada yang memicu, udah aja tiba-tiba makan sayur.

Jadi gini ceritanya.

Gue dan istri pada awalnya memang sengaja mencoba mengatur pilihan asupan buat anak gue, MPASI jelas homemade, ga ada yang instan, bahkan biscuit sekalipun. MPASI yang dimasak pun ga pake gula-garam hingga anak gue berusia 1.5 tahun. Setelah itu boleh nyobain beberapa cemilan dan minuman yang manis, sudah tentu, Teh Botol menjadi favoritnya 😀

Sampai sini masih aman, MPASI dengan sayuran masih mau. Buah masih belum mau sampe sekarang. Khawatir? Kalo ngeliat sekarang doyan sayur sih, ga khawatir banget. Nah, setelah usia 1.5 tahun – 2 tahunan ada lah masa dimana kita enggak konsisten menyediakan sayur di asupan dia. Sampai ada masa dia mengeluarkan lagi semua sayuran dimakanannya, hingga akhirnya enggak mau makan sayur apapun.

Name it, semua cara udah gue coba, mulai dari ngumpetin makanan, menghias makanan, sampe sugesti positif. Enggak ada yang berhasil, bahkan sampe pernah kita bilang begini “adanya cuma sayur, kalo ga mau ya makan sendiri aja”. Dan beneran loh, anak gue makan sendiri…sayurnya dipinggirin 😀

Gue dan istri jelas khawatir, maklum, kita sehari-hari sebisa mungkin jalanin Food Combining, sarapan semaksimal mungkin selalu pake buah, sayuran pasti selalu ada dalam setiap menu makan. Kurang contoh apa coba? Indikator pup anak gue pun enggak bagus, selalu hitam atau abu-abu, padahal gue tau banget, pup yang baik itu berwarna kuning cerah merona #halah

Gue sampe baca buku yang menurut gue inspiring banget, judulnya French Kids Eat Everyhting – Karen Le Billon. Buku ini soal keluarga amerika yang pindah ke Perancis dan karena dorongan lingkungan akhirnya bisa makan semua jenis makanan, bahkan sayur dan buah, makanan yang sebelumnya jarang dimakan sewaktu di Amerika. Buku ini juga yang sedikit mengubah pola piker gue sama ‘American Style Parenting’

Tapi ternyata ga mudah mengaplikasikan apa yang ada dibuku itu meski menarik, faktor lingkungan dan pola makan masyarakat Perancis sangat jauh berbeda dengan di Indonesia. Jadi toh, pada akhirnya gue juga enggak bisa mengaplikasikan langsung, meski ada beberapa hal kecil yang bisa.

Pada akhirnya, kita agak sedikit “nyerah”, udah lah, ga mau maksa banget, pelan-pelan aja. Meski kita ga tau juga mau pake strategi apa. Jadi ya udah, kita ga pernah memaksa dan membahas lagi soal makan sayuran.

Beberapa kali istri gue emang mencoba memasukkan bin ngumpetin sayuran dimakanan, awalnya semua dilepeh, dikeluarin, anak gue minta sayurannya dipisahin. Kalo udah begini, biasanya kita bahas, “ini kan enak”, “ini cuma sedikit kok”, “cobain satuu aja” dan kalimat “memaksa” lainnya. Ternyata ini gengges juga yak buat anak…hahaha. Jadi ada awal istri gue masukin sayuran ke dalam makananya, tapi ga dibahas. Kalo makan ya syukur, kalo pas dia nemuin, ya udah woles aja, ga memaksa dia untuk makan. Mulai dengan jagung didalam telor dadar, tempe yang dia kira nugget (udah dibilangin itu tempe tapi anak gue maksa kalo itu nugget, ya udah, kita malah bersyukur..hahaha). Dan ketika anak gue makan itu semua, ya udah kita ga bahas-bahas banget, kalo makan itu dibilang pinter, kalo ga makan ya udah, ga maksa. Ternyata, pelan-pelan dia nyobain berbagai sayuran, istri gue sih iseng aja, eh tapi dimakan…hahaha, sayur sop dimakan, sayur daun singkong dimakan, sayur bayam dimakan, bahkan kangkung aja dimakan juga. Horeee.

Terus gue kan bingung, lah jadi apa yang sebenarnya memicu anak gue jadi doyan makan sayur? Dulu nyobain berbagai strategi para pakar ternyata gagal, eh tapi pas ga ngapa-ngapain malah dia makan sendiri. Jadi mungkin emang kita ga perlu maksa banget kali yah, meski untuk cemilan manis gue tetap membatasi, biar dia ga kelewat batas.

Oh ada satu hal yang gue setuju banget soal pola makan orang perancis. Menurut mereka, anak kecil itu belum paham apa yang dia mau, jadi mulai dari kecil harus diatur makannya, jangan dibiarin menentukan sendiri. Karena begitu kita memberikan kebebasan si anak untuk mengatur makanan, maka justru kita yang akan diatur. Coba deh, pernah ga elo bilang begini, “coklatnya satu aja, yah..besok lagi” 15 menit kemudian anak elo minta lagi, dan kita kasih, 1 jam kemudian minta lagi, dan kita kasih..begitu seterusnya. By the end of the day, our child rules the world. Hahahaha

Jadi pesen gue soal makan anak begini:

Tunggu Dia Lapar

Gue dan istri ga pernah memaksa anak gue makan, ga pernah juga khawatir anak gue kelaparan. Sejak dia mulai MPASI, kalo anak gue udah ga mau makan, kita berhenti, ga nawarin lagi dan ga maksain dia untuk makan lagi, meski kita tahu makannya baru sedikit. Tugas kita sebagai orang tua hanya menawarkan makan. Kalo ga makan seharian gimana? Ga mungkin, pasti anak kita makan, meski bukan nasi. Anak gue sih doyan makan biskuit, hasilnya jelas, dia udah kenyang dengan biskuit jadi ga doyan makan nasi. Gue nawarin, dia ga mau, ya udah kelar. Jadi, pliiis jangan memaksa anak buat makan, biarkan dia juga belajar mengetahui rasa lapar dan rasa kenyang. Tenang, seorang anak enggak akan membiarkan dirinya kelaparan kok. Bayi aja suka nangis kalo lapar kan?

Sugesti Positif

Jangan lupa selalu ngobrol juga sama anak, minta pendapatnya, dalam hal ini anak akan belajar soal makanan enak, makanan yang disuka, dan lainnya soal makanan. Gue dan istri selalu membiasakan menawarkan menu makanan ke anak, mau makan apa? mau ayam apa ikan? mau nugget apa telor? dan lainnya. Lalu juga membahas soal, mau berapa rotinya? enak ga makanannya? kamu suka kerupuk yah? dan lain-lain, menurut gue hal ini bisa ngajak anak jadi bertanggung jawab sama pilihan makanannya dan jadi ga parno sama yang namanya makan.

Udeh sih gitu aja…ntar kalo inget lagi gue tambahin

Copyright 2019 hidayatrahmat.id © All Rights Reserved