wave-washing-away-inscription-2018_23-2147953500

Kegelisahan 2019

Bukan, ini bukan kegelisahan yang maksudnya kejang terus geli-geli basah yak. Ngeres aja lu.

Gini, mungkin 1-2 tahun belakangan ini gue berusaha banget untuk ngerem buat enggak ikutan komentar di sosial media, apalagi kaitannya sama agama dan politik. Bukan berarti gue enggak peduli, gue paham banget sama apa yang dibilang sama Buya Syafii kalo orang waras jangan diam!

Justru itu. Gue enggak memilih diam. Gue mau bergerak, mau ngajakin banyak orang untuk bergerak, bukan sekadar ngomong doang. Gue hanya merasa urusan komentar di sosial media udah banyak banget yang jago, udah cukup kayanya tanpa gue hadir pun.

Jadi gue memilih untuk tidak diam, tapi mau bantuin banyak orang untuk urusan ASI, Menyusui, Kesehatan Ibu dan Anak, Kontrasepsi, HIV dan TB. Enggak ahli juga sih soal itu semua, tapi ada pengalaman dan pengetahuan yang bisa gue bagi ke banyak orang. Berharap ilmunya bisa bermanfaat buat orang lain. aamiin.

Gue gelisah, kalo udah jadi orang waras eh tapi malah diam. Gue gelisah kalo udah mau 40 tahun tapi masih ngerasa belum berbuat banyak baik buat keluarga, orang banyak dan negara tercinta gue.

Lebai? bisa jadi. tapi dari pengalaman gue, bisa kok, meski mungkin enggak keliatan oleh banyak orang, minimal ada lah kontribusinya buat bangsa dan negara #tsaaah.

Untuk mengakomodir kegelisahan gue itu, gue mau bikin Yayasan. Belum ada duitnya sih, jadi kalo ada yang mau bantuin gue dengan skill dan ilmu yang elo punya, plis kontak gue yak.

Thanks

father-and-son_53876-13661

Merayakan World Breastfeeding Week

Hari ini adalah hari terakhir World Breastfeeding Week atau Pekan Menyusui Sedunia. Iyah, Week disini sebenarnya berarti Pekan, bukan Minggu. Meskipun saya AyahASI yang memberi dukungan agar istri saya menyusui anak-anak kami (Anak ke-1 menyusui hingga 2.2 tahun, anak ke-2 masih menyusui dan saat ini umurnya 8 bulan), saya memilih untuk merayakannya. Saya bahkan membuat infografis soal ASI dan Menyusui selama 7 hari berturut-turut untuk @ID_AyahASI, dan menyebut puluhan kali “perayaan” ini di akun social media. Meski baru kali ini saya menyebutnya di blog pribadi.

Karena buat saya, hal ini berguna untuk memberikan informasi soal ASI dan Menyusui. Saya dan istri pernah mengalami kesulitan dalam hal menyusui, pun begitu dengan para pendiri AyahASI. Itu kenapa kami membuat buku Catatan AyahASI dan mendirikan @ID_AyahASI, agar cukup kami saja yang mengalami kesulitan atau kegagalan dalam hal pemberian ASI, orang lain jangan sampe gagal. Iyah, saya memang bangga mengalami kesulitan soal ASI dan Menyusui dan kemudian berhasil melewatinya. Justru itu, saya ingin mengajak semua ibu-ibu untuk tidak gagal dan agar berhasil memberikan ASI untuk anaknya. Saya dan teman-teman @ID_AyahASI justru ingin merangkul ibu-ibu yang belum bisa memberikan ASI untuk belajar lagi soal ASI dan Menyusui agar bisa membantu teman-teman, tetangga bahkan familinya.

Pertama, bagi sebagian orang memberi ASI adalah perjuangan yang luar biasa. Perjuangan ini levelnya berbeda-beda.

Ada yang merasa perjuangan adalah begadang semalaman untuk menyusui. Sebenarnya enggak perlu begadang semalaman, ajak dong suami untuk membantu ketika memberikan ASI dimalam hari. Jika ibu merasa harus beristirahat, perah ASI, lalu minta suami untuk memberikan ASIP ketika anak kita terbangun dimalam hari. Disinilah dukungan AyahASI penting. Iyah betul, ini kan anak berdua, bukan anak si ibu aja. Jangan biarkan istri kita berjuang sendirian bung! Jangan!

Ada yang merasa perjuangan adalah puting digigit berulang kali sampai berdarah-darah. Ini sebenarnya bisa dihindari dengan beberapa tips dan trik yang sudah sering dibagi di akun @ID_AyahASI atau @aimi_asi. Menyusui itu harus menyenangkan, jika ada kesulitan atau merasa sakit, itu tandanya kita harus bertanya dan mencari informasi.

Ada yang harus makan sayur setiap hari baru ASI bisa deras keluar. Sebentar, kenapa makan sayur setiap hari harus dianggap perjuangan? Bukankah makan sayur itu sehat? Pemerintah kita aja kesulitan mempromosikan Pedoman Gizi Seimbang, masa ketika ada ibu menyusui yang mau makan sayur dianggap kegiatan yang menyusahkan? Ini juga mitos yang tampaknya ada sejak zaman Saur Sepuh, makan sayur dianggap bisa membuat ASI deras keluar. Nope! Makan sayur enggak ada hubungannya sama ASI deras keluar. Ibu menyusui cukup makan dengan porsi semampunya dengan pedoman gizi seimbang. Prinsipnya, nikmati dan batasi.

Ada yang harus minum susu setiap hari. Gini..andaikan semua orang yang peduli soal ASI dan Menyusui mau merayakan Pekan ASI Sedunia dengan informasi yang penting, mungkin kita bisa bilangin ke ibu menyusui bahwa ENGGAK HARUS minum susu setiap hari. Sayang ada juga yang enggak mau merayakannya, lalu diam.

Ada yang shopping setiap hari. Wait, WHAT? Sis..shopping is in their blood. Masa shopping biar ASI lancar juga dianggap menyulitkan? Kalo enggak shopping kan kasihan abang tukang sayur enggak ada yang beli.

Saya memang perlu merayakan semua hal tentang ASI dan Menyusui di World Breastfeeding Week. Ada juga teman-teman yang men-download sertifikat lulus ASI dan memamerkannya di social media. Atau ada juga yang menulis tentang tidak merayakan World Breastfeeding Week lalu memamerkannya di blog. Wait! Jadi sebenarnya merayakan World Breastfeeding Week dong, meski dari sudut pandang yang berbeda? anyway…

Pertanyaanya adalah? apakah semua upload foto soal ASI dan Menyusui lalu dianggap pamer? Lalu gimana dengan ibu hamil yang perutnya menonjol keluar? dianggap pamer? lalu harus menutupinya agar ibu-ibu yang belum bisa hamil terjaga perasaannya?

ya kan enggak begini juga kaaan…ya kan? ya ga sih? | kalau memang mau ngasih tau orang, kan bisa tulisannya dibuat positif gitu..

ya kalo pikirannya udah negatif ya susah juga sih…ini sama dengan orang yang enggak membolehkan ada pisau di rumah karena pisau bisa membunuh orang.

“Ibu-ibu seperti saya ini yang biasanya men-judge ibu-ibu yang tidak bisa memberi ASI”.

Nah kan ngaku..gini loh, kita justru mau mengajak agar tidak mudah menghakimi orang lain. Seorang Ibu enggak bisa disebut gagal menyusui,kenapa? karena menyusui dan memberikan ASI bukan tugas seorang ibu saja, menyusui dan memberikan ASI adalah tugas semua orang. Iyah, kita dan kamu harus mendukung seorang ibu untuk bisa berhasil menyusui. Bukan men-judge! Ga boleh itu. Kalo ada ibu yang belum berhasil menyusui, itu berarti kita dan kamu juga belum berhasil mendukung si ibu untuk berhasil. Ya salah kita juga! Kenapa diam? kenapa enggak membantu? kenapa enggak merayakan?

“Secara biologis ya memang ASI itu natural. Tapi ada faktor-faktor pemicu lain yang membuat seorang ibu gagal memberi ASI. Seperti support system dan kondisi psikologis.” Betul, saya setuju..justru saya dan teman-teman semua mengajak semua orang untuk membentuk supporting system yang baik bagi ibu menyusui. Bukan dengan memperlebar jarak dan menganggap ada 2 kubu yang berseberangan: IBU YANG PAMER vs IBU YANG DIHAKIMI.

Coba deh pola pikirnya diubah biar agak positif sedikit gitu, kaya gini: IBU BISA MENYUSUI vs IBU YANG HARUS DIBANTU.

“Support system yang baik di mana suami mendukung pemberian ASI, orangtua dan mertua mendukung pemberian ASI, kantor yang menyediakan ruang pompa ASI, komunitas yang merangkul dan memberi semangat untuk tetap memberi ASI.” – nah betul, tuh paham.

“Sementara faktor kondisi psikologis ini cukup tricky. Di satu sisi ibu harus bahagia agar ASI mengalir deras, tapi di sisi lain saat ASI nya berkurang, ibu langsung merasa down, stres, susah untuk bahagia. Padahal stres membuat ASI semakin berkurang.” – betul, ini bisa diatasi dengan Supporting System yang mba sebutin tadi, justru jangan dianggap kaya enggak bisa diatasi dan kok kayanya dianggap perjuangan ibu sendiri. Kalo ASI nya lagi berkurang, teman kantor kan bisa kasih dukungan positif misalnya, “ih segitu banyak loh, nanti pas pompa lagi aku temenin yah, biar lebih seru”. Gitu, jangan malah dipanas-panasin, entar kalo malah memilih enggak mau perah lalu gimana? karena menganggap enggak bisa diatasi? hayooo loh..

“Menurut saya pamer sertifikat dan pamer jumlah stok ASI perah hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial dan membuat ibu yang “gagal” menyusui semakin stres, semakin tidak bisa memberi ASI. Dan yang diberi sertifikat adalah bayinya. Make sense kah?” – Ini kalo pikirannya negatif yah..kalo pikirannya positif akan seperti ini “Ih si Annis keren banget udah ada sertifikat ASI dan stok ASInya banyak, aku mau ah belajar sama dia, mau diskusi sama dia biar aku juga banyak..aku mau minta dia untuk dukung aku ah” Nah, kalo pikiran positif seperti ini justru akan semakin menghilangkan kecemburuan social dan membuat ibu yang “gagal” menyusui menjadi bangkit dan berhasil menyusui.

Iyah…masa ada orang yang lagi jatuh terus kita bilang gini…”ih kalian ini malah jalan-jalan, jaga dong perasaan orang yang lagi jatuh, ga bisa berdiri tuh..ini kalian malah pamer pake sepatu baru dan jeans baru”.

Sementara disisi lain ada orang yang lagi jatuh terus kita bilang gini…”aku udah berhasil kasih ASI dan punya stok banyak..aku mau ah bantuin si Annis biar kaya aku..aku nanti kasih tau dia ah poto-poto aku menyusui..pokoknya aku pengen semua orang kaya aku, berhasil kasih ASI.”

Gituu..keliatan kan bedanya orang yang bikin panas sesuatu sama yang bikin adem?

“Untuk yang senang pamer kulkas berisi ratusan botol ASI perah, tahukah ada kondisi bernama hiperlaktasi di mana seorang ibu berlebihan memproduksi ASI? Ibu hiperlaktasi ini biasanya punya cadangan ASI perah berkulkas-kulkas karena ASI yang dia produksi lebih banyak dari yang dibutuhkan bayi.” – Begini..hiperlaktasi ini sebuah kondisi khusus yang positif,iyah betul..saya sebut kondisi khusus karena memang enggak semua ibu bisa seperti ini. Beberapa alasan hiperlaktasi adalah karena Alveoli yang banyak atau ada ketidakseimbangan hormon.

Jadi gini, kalo ada ibu yang punya stok ratusan botol ASI perah dikulkas itu bukan karena si ibu Hiperlaktasi..itu karena si ibu rutin memerah ASI. Jangan dianggap begini: “ih dia kan punya banyak stok ASI karena hiperlaktasi, aku kan enggak..sombong banget sih pamer-pamer foto”. Bukan gitu..boleh sih meng-kritik, tapi yang membangun sedikit dengan informasi dan data yang bener juga boleh kok. Produksi ASI itu prinsipnya sederhana, semakin sering ASI dikeluarkan, maka produksi ASI akan semakin cepat. Betul, itu bisa diatur, kita yang atur…bukan hiperlaktasi. Kita yang harus kasih informasi yang bener biar si ibu bisa memerah ASI dengan rutin.

Kedua, menurut saya ASI itu rezeki. Kalau rezeki tentu tidak sama bagi setiap orang dong.

Oh betul..ASI memang berbeda setiap orang, bahkan setiap hari aja kandungan ASI berbeda. Banyaknya ASI juga bisa berbeda, karena tergantung pada kebutuhan si bayi. Bayi A cuma butuh sedikit disbanding dengan Bayi B, yah ga apa-apa, memang segitu kebutuhannya.

“Sejak hamil, saya sendiri selalu menanamkan pola pikir rezeki ini. Bahwa saya akan bersyukur sekali kalau Tuhan melancarkan rezeki saya melalui ASI. Kalau pun ASI saya tidak keluar, saya berdoa agar diberi rezeki dalam bentuk lain karena susu formula kan mahal.” – Boleh ya enggak sependapat kan..lagian kan ini juga blog pribadi saya. Begini, saya beranggapan bahwa semua yang gratis dari Tuhan itu butuh usaha dari manusia. Contohnya begini..

Cinta itu gratis..tapi kita perlu usaha bertahun-tahun untuk mendapatkan jodoh? kalo diam saja kan juga enggak bisa. Tuhan justru pengen kita berusaha. ASI juga begitu, gratis dari Tuhan..tapi payudara perlu mendapat rangsangan, ibu perlu didukung agar pemberian ASI lancar ke bayi.

“Karena kalau pun ASI saya tidak lancar, masa mau menyalahkan Tuhan kan?” – Ya tentu enggak. Saya sih menyalahkan orang yang enggak mau bantuin nyebarin informasi penting di kala Pekan ASI Sedunia. Ada yang butuh bantuan, tapi enggak dibantu. Kan Kasihan. Kamu ih…

“Jadi memberi ASI ada yang memang sukses tanpa usaha,..” – oh mana adaaaa, coba tanya semua ibu menyusui…tanya apakah ada yang bisa memberi ASI dan sukses tanpa usaha? Kalo ada, sini saya traktir bakso 2 mangkok.

“Sangat tidak adil jika seorang ibu di-judge “tidak memberi yang terbaik” untuk anaknya karena gagal memberi ASI.” – ini seperti yang dibilang tadi –> “Ibu-ibu seperti saya ini yang biasanya men-judge ibu-ibu yang tidak bisa memberi ASI”. Ya jangan dong..jangan menghakimi. Ayo dibantu dengan merayakan World Breastfeeding Week, minggu lalu ada puluhan informasi yang beredar biar Ibu menyusui bisa sukses dikala bekerja. Bahkan AIMI diberbagai kota memberikan informasi gratis dengan dating ke kantor-kantor loh. Iyah, mereka bergerak. Bukan sekedar enggak mau merayakan lalu menghakimi.

“Ayo kampanye ASI, bahwa ASI makanan terbaik bagi bayi karena murah dan mudah. Karena membuat bayi lebih sering berada di pelukan ibunya. Kampanyekan pada para ayah untuk  membuat ibu selalu bahagia. Kampanyekan pada para nenek dan kakek bahwa ASI lebih baik dari susu formula.

Bukan berkampanye dalam bentuk perayaan ramai-ramai mengunggah foto sertifikat dan jumlah ASI perah. Yang membuat ibu-ibu lain semakin tertekan secara psikologis dan semakin sulit memberi ASI.”

Satu lagi..Ayo Berkampanye untuk tidak berpikiran negatif, yuk selalu ajak orang untuk berpikiran positif.

Disclaimer: Tulisan ini adalah sepenuhnya opini dan pandangan penulis dan tidak mewakili opini @ID_AyahASI secara komunitas/keseluruhan.

*blog sendiri sih, ga usah pake nama lah ya*

wedding-moments-newly-wed-couple-s-hands-with-wedding-rings_8353-5792

Same Sex Marriage; Yes or No?

Artikel dibawah ini terlalu menarik untuk enggak gue taro di blog ini. Kurang lebih mewakili pendapat gue soal Same Sex Marriage yang baru aja dilegalkan di US. Gue sendiri enggak ada masalah soal LGBT, bertahun-tahun kerjaan gue juga berhubungan sama temen-temen ini. Prinsip gue sederhana, elo udah dewasa, gue menghargai pilihan elo, soal dosa itu urusan elo sama Tuhan. Itu kenapa sampe sekarang gue berteman baik dengan temen-temen LGBT.

Tulisan ini menarik karena ditulis oleh seorang gay, meski dia menggunakan nama samaran. Silahkan dibaca.

____________________________________________________________

I’m Gay, And I Oppose Same-Sex Marriage; I want nothing in this world more than to be a father. Yet I can’t bring myself to celebrate same-sex marriage.

Gay marriage has gone from unthinkable to reality in the blink of an eye. A recent Washington Post/ABC News poll shows that support for gay marriage is now at 61 percent—the highest it’s ever been. On Tuesday, the Supreme Court will hear arguments in the case that many court-watchers believe will deliver the final blow to those seeking to prevent the redefinition of marriage. By all measures, this fight is over. Gay marriage won.

As a 30-year-old gay man, one would expect me to be ecstatic. After all, I’m at that age where people tend to settle down and get married. And there is nothing in this world I want more than to be a father and raise a family. Yet I can’t seem to bring myself to celebrate the triumph of same-sex marriage. Deep down, I know that every American, gay or straight, has suffered a great loss because of this.

I’m not alone in thinking this. The big secret in the LGBT community is that there are a significant number of gays and lesbians who oppose same-sex marriage, and an even larger number who are ambivalent. You don’t hear us speak out because gay rights activists (most of whom are straight) have a history of viciously stamping out any trace of individualism within the gay community. I asked to publish this article under a pseudonym, not because I fear harassment from Christian conservatives, but because I know this article will make me a target of the Gaystapo.

Marriage Is More than a Contract
The wheels of my Pride Parade float came off the moment I realized that the argument in support of gay marriage is predicated on one audaciously bald-faced lie: the lie that same-sex relationships are inherently equal to heterosexual relationships. It only takes a moment of objective thought to realize that the union of two men or two women is a drastically different arrangement than the union of a man and a woman. It’s about time we realize this very basic truth and stop pretending that all relationships are created equal.

Why was government invited to regulate marriages but not other interpersonal relationships, like friendships? This inherent inequality is often overlooked by same-sex marriage advocates because they lack a fundamental understanding of what marriage actually is. It seems as though most people view marriage as little more than a love contract. Two people fall in love, agree to stick together (for a while, at least), then sign on the dotted line. If marriage is just a love contract, then surely same-sex couples should be allowed to participate in this institution. After all, two men or two women are capable of loving each other just as well as a man and a woman.

But this vapid understanding of marriage leaves many questions unanswered. If marriage is little more than a love contract, why do we need government to get involved? Why was government invited to regulate marriages but not other interpersonal relationships, like friendships? Why does every religion hold marriage to be a sacred and divine institution? Surely marriage must be more than just a love contract.
People have forgotten that the defining feature of marriage, the thing that makes marriage marriage, is the sexual complementarity of the people involved. Marriage is often correctly viewed as an institution deeply rooted in religious tradition. But people sometimes forget that marriage is also based in science. When a heterosexual couple has sex, a biological reaction can occur that results in a new human life.

Government got into the marriage business to ensure that these new lives are created in a responsible manner. This capacity for creating new life is what makes marriage special. No matter how much we try, same-sex couples will never be able to create a new life. If you find that level of inequality offensive, take it up with Mother Nature. Redefining marriage to include same-sex couples relegates this once noble institution to nothing more than a lousy love contract. This harms all of society by turning marriage, the bedrock of society, into a meaningless anachronism.

A Good Dad Puts Kids First
Same-sex relationships not only lack the ability to create children, but I believe they are also suboptimal environments for raising children. On a personal level, this was an agonizing realization for me to come to. I have always wanted to be a father. I would give just about anything for the chance to have kids. But the first rule of fatherhood is that a good dad will put the needs of his children before his own—and every child needs a mom and a dad. Period. I could never forgive myself for ripping a child away from his mother so I could selfishly live out my dreams.

Same-sex relationships, by design, require children to be removed from one or more of their biological parents and raised absent a father or mother. This hardly seems fair. So much of what we do as a society prioritizes the needs of adults over the needs of children. Social Security and Medicare rob the young to pay the old. The Affordable Care Act requires young and healthy people to buy insurance to subsidize the cost for the old and sick. Our schools seem more concerned with keeping the teachers unions happy than they are educating our children. Haven’t children suffered enough to make adults’ lives more convenient? For once, it would be nice to see our society put the needs of children first. Let’s raise them in homes where they can enjoy having both a mom and a dad. We owe them that.

At its core, the institution of marriage is all about creating and sustaining families. Over thousands of years of human civilization, the brightest minds have been unable to come up with a successful alternative. Yet in our hubris we assume we know better. Americans need to realize that same-sex relationships will never be equal to traditional marriages. You know what? I’m okay with that.

Paul Rosnick is a pseudonym.

artikel asli dapat dibaca di sini

top-view-of-blank-slate-with-apples-and-water-bottle_23-2147601786

Diet Mayo Yang Nyaho!

Disclaimer:

Gue pribadi sebenarnya bukan pendukung segala macam diet-dietan yang bertujuan untuk menguruskan badan. Buat gue pribadi, yang utama adalah tubuh mendapatkan asupan yang dibutuhkan, tubuh harus sehat, bukan kurus! Kalo badan sehat, maka berat badan yang turun adalah bonusnya. Tulisan soal Mayo Diet ini cuma sekedar meluruskan apa yang saat ini lagi nge-trend dan beredar di Indonesia. Kenapa harus diluruskan? Ya karena menurut gue udah beda jauh banget sama aslinya. Sayang kan, udah makan “ga enak” tapi ternyata salah. Gue sendiri adalah pelaku Food Combining.

Diet Mayo vs The Mayo Clinic Diet

Kok ada dua sih? itu sama apa beda?

Beda!

Diet Mayo 13 Days atau yang sekarang kita kenal dengan Tantangan 13 Hari Diet Mayo bukan bikinan Mayo Clinic seperti yang kebanyakan orang bilang. Dalam beberapa blog bahkan ada yang bilang kalo Diet Mayo ini diperkenalkan oleh Mayo Clinic pada tahun 2008. Aneh! Mayo Clinic aja baru bikin buku soal The Mayo Clinic Diet pada tahun 2010. Diet Mayo ini ga jelas asal muasalnya dan ga tau juga siapa yang bikin. Bahkan sebenarnya udah dimulai sejak tahun 1930an. Diet Mayo 13 Days ini punya banyak nama, sebut aja 13 Days Metabolism Diet dan Holywood Diet. Gue jelasin lebih lanjut dibawah.

The Mayo Clinic Diet. Nah, yang ini baru dikenalkan secara resmi pada tahun 2010. Bersamaan dengan terbitnya sebuah buku dengan judul yang sama. Jadi terkenal banget karena MayoClinic.org emang lembaga penelitian kesehatan ternama, dijadiin referensi soal kesehatan oleh jutaan orang, termasuk gue sendiri.

Terus apa bedanya?

farmer-milking-a-cow_1205-312

Catatan Kritis Revolusi Putih

Revolusi Putih di Dokumen Visi-Misi Pasangan Prabowo-Hatta

Revolusi Putih di Dokumen Visi-Misi Pasangan Prabowo-Hatta

Pasangan Prabowo-Hatta menuliskan soal Revolusi Putih ini di dokumen visi-misi yang disampaikannya kepada KPU. Untuk jelasnya, dokumen visi-misi pasangan Prabowo-Hatta bisa lihat disini. Revolusi Putih pada paparan visi-misi tersebut (seperti pada gambar diatas) tertulis begini, “Menggerakkan revolusi putih mandiri dengan menyediakan susu untuk anak-anak miskin di sekolah melalui peternakan sapi dan kambing perah”.

Sayangnya, agak susah mencari dokumen resmi yang menjelaskan konsep revolusi putih mandiri tersebut. Gambaran yang cukup lengkap bisa ditemukan pada website TIDAR (Tunas Indonesia Raya), TIDAR sendiri merupakan organisasi sayap partai Gerindra. Pada website tersebut ada artikel yang berjudul ‘Latar Belakang Informasi Revolusi Putih’, lengkapnya bisa baca disini. Jadi, untuk saat ini, artikel tersebut gue jadikan ukuran tentang konsep revolusi putih yang disampaikan oleh pasangan Prabowo-Hatta.

Berikut adalah beberapa kutipan dari artikel dengan judul Latar Belakang Informasi Revolusi Putih tersebut:

Revolusi Putih adalah gerakan meningkatkan konsumsi susu terutama bagi anak dan remaja agar terjadi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. Dengan tujuan agar terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan gizi sejak dini. Bagi negara, Revolusi Putih tidak sekedar meningkatkan konsumsi susu masyarakat tetapi juga produksi susu yang mampu menopang target konsumsi susu. Hal tersebut harus mulai dari politik anggaran yang memprioritaskan perbaikan sumber daya manusia Indonesia.

Survei yang dilakukan Kementerian Pertanian Republik Indonesia pada tahun 2011 memaparkan fakta bahwa konsumsi susu di Indonesia paling rendah dibandingkan konsumsi susu di negara ASEAN maupun Eropa. Konsumsi susu masyarakat per kapita per tahun di Cina 24 liter, Vitenam 12,1 liter, Filipina 22,1 liter, Malaysia 22,1 liter, Thailand 33,7 liter, India 42,8 liter, dan Indonesia 11,9 liter. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya lima tetes sehari, masih sangat rendah.

Di Indonesia prevalensi kekurangan gizi pada anak balita komposisinya sekitar 13 persen anak mengalami gizi kurang dan 4,9 persen gizi buruk sesuai dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010. Revolusi Putih berfungsi sebagai upaya memperbaiki gizi bangsa dan mengurangi bahkan mengentaskan gizi buruk. Dengan memperbaiki gizi bangsa berarti memperbaiki kualitas sumber daya manusia, meningkatkan indeks perkembangan manusia serta meningkatkan kesejahteraan. Semakin tinggi kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan maka kemiskinan juga dapat berkurang.

Pada awal tahun 1950-an Prof Poorwo Sudarmo (Bapak Gizi Indonesia) mencetuskan empat sehat lima sempurna dengan menempatkan susu pada urutan terakhir. Program peningkatan gizi tersebut sempat berjalan dengan baik selama beberapa waktu namun tidak mampu dijalankan secara konsisten dan nasional sehingga peningkatan gizi anak bangsa belum mencapai target yang diinginkan dan mengubah kualitas penduduk bangsa Indonesia seperti pada negara Jepang, Cina dan India.

Secara umum Revolusi Putih menyebutkan bahwa perbaikan gizi pada anak-anak miskin adalah dengan meningkatkan konsumsi susu. Ini yang gue kurang setuju, soal perbaikan ekonomi dengan peternakan sapi dan kambing perah, gue setuju, asal dikelola dengan jujur dan baik tentunya.

Perjalanan Sejarah Pedoman Gizi Indonesia
Soal pedoman gizi ini enggak bisa enggak harus kita bahas, karena jelas berpengaruh sama pola makan masyarakat Indonesia, dan efeknya pada kesehatan masyarakat. Sorry to say, pemerintah seakan-akan terlalu menganggap remeh soal pedoman cara makan ini. Gue yakin, sebagian besar dari kita masih mengenalkan konsep 4 Sehat 5 Sempurna (4S5S) sebagai pedoman cara makannya, beberapa teman bahkan menyebutkan konsep 4S5S ini masih disampaikan di sekolah-sekolah TK dan SD.

Soekirman, Direktur Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI) mengatakan bahwa pada tahun 1930an, ilmu gizi hanya mengenal 3 zat gizi utama, yaitu protein, karbohidrat dan lemak, ketiganya sumber energi. Baru kemudian ditemukan vitamin dan mineral. Atas dasar DKBM hasil penelitian BPP, USDA menyusun Pedomanan Makanan (“Food Guide”) dengan mengelompokkan bahan makanan atas dasar sumber zat gizinya. Di tahun 1930an USDA mengelompokkan menjadi 12 kelompok makanan. Tahun 1940an dikecilkan menjadi 7 kelompok, dan tahun 1956 menjadi 4 kelompok yang di Amerika dikenal sebagai “Basic Four Food Guide”. Pedoman ini sejak tahun 1950an diikuti oleh banyak negara lain dengan Basic Fournya masing-masing, termasuk Indonesia dengan Empat Sehat Lima Sempurnanya.

Gambar Basic Four versi USDA

Gambar Basic Four versi USDA

Gambar: 4 Sehat 5 Sepurna

Gambar: 4 Sehat 5 Sepurna

Amerika kemudian melakukan studi untuk mengevaluasi pedoman gizi tersebut. Hasil survey gizi yang dikeluarkan pada 1970 tersebut mengatakan bahwa pola makan orang Amerika ternyata tidak berubah bahkan cenderung lebih buruk, yaitu  tinggi lemak, tinggi gula, tinggi garam, dan  rendah  serat.  Tidak ada keseimbangan antara asupan energi dari makanan yang masuk dengan pengeluaran energi.  Susunan makanan demikian  memicu timbulnya kegemukan. Akibatnya jumlah orang yang gemuk dan gemuk sekali (obis)  dengan dampak negatifnya terus meningkat di USA. Akhirnya disimpulkan bahwa  pedoman “Basic Four”  yang dipakai sejak tahun 1940an ternyata tidak efektif.

Sialnya, kita tidak melakukan evaluasi terhadap konsep 4 Sehat 5 Sempurna. Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan di Amerika sendiri melakukan kajian bersama untuk selalu melakukan evaluasi terhadap Pedoman Makanan (Food Guide) setiap 5 tahun sekali. Bayangkan ini, konsep 4 Sehat 5 Sempurna yang menjadi Pedoman ‘Resmi’ Makanan masyarakat Indonesia selama 45 tahun (1950-1995) tidak pernah dievaluasi. Padahal Amerika sudah banyak melakukan evaluasi.

Pada tahun 1991 ada kejadian yang menarik terjadi di Amerika, khususnya soal penetapan Pedoman Makanan (Food Guide) ini. Menteri Pertanian Amerika tampak ragu-ragu mengeluarkan Pedoman Makanan yang baru, ia mengatakan bahwa pedoman makanan yang baru ini tampak akan membingungkan bagi anak-anak. The Eating Right Pyramid yang baru itu sejatinya akan diluncurkan dengan ilustrasi angka 8 yang kurang lebih isinya adalah ada kelompok Gandum, Sayuran, Buah-buahan, dengan pengurangan konsumsi pada Daging dan Susu serta pengurangan konsumsi pada makanan yang tinggi lemak dan gula. Konsep ini kabarnya mendapat penentangan dari Industri Daging dan Produsen Susu, karena dikhawatirkan akan mengurangi produksi mereka. Dalam sejarahnya, penentuan Pedoman Makanan (Food Guide) di Amerika memang tidak pernah terlepas dari lobi-lobi industri makanan, pun termasuk produsen susu.

Balik lagi soal 4 Sehat 5 Sempurna, jadi pada tahun 1970, Amerika saja sudah mengadakan studi terhadap pedoman makanannya dan hasilnya adalah  pedoman “Basic Four”  yang dipakai sejak tahun 1940an ternyata tidak efektif. Pedoman ini ternyata menimbulkan masalah baru, yaitu Obesitas dan Kegemukan. Sementara di Indonesia? Iya, kita terus menggunakan konsep itu dan tidak melakukan evaluasi hingga akhirnya dijadikan pedoman makan kita selama hampir lebih dari 45 tahun.

Basic Four yang kemudian diadaptasi oleh kita dengan slogan 4 Sehat 5 Sempurna berangkat dari kondisi perang dunia kedua. Pedoman Makanan ini dibuat sedemikian rupa agar masyarakat dapat dengan cepat dan mudah mempelajari apa yang harus dimakan agar tubuh sehat. Kondisi perang dunia kedua tentu sangat mengkhawatirkan, tingkat pendidikan rendah, ekonomi hancur lebur, komunikasi terbatas dan lain sebagainya. Sehingga konsep ini memang dibuat agar masyarakat belajar cara makan dengan mudah. Konsep ini menekankan pentingnya empat golongan makanan berupa sumber kalori untuk tenaga, protein untuk pembangun, sayur dan buah sumber vitamin dan mineral untuk pemelihara.

Beberapa kekurangan konsep 4 Sehat 5 Sempurna ini adalah:

  1. Kebutuhan nutrisi setiap orang berbeda tergantung berbagai faktor
  2. Susu bukan makanan sempurna. Susu adalah sumber protein hewani yang juga terdapat pada telur, ikan dan daging. Oleh karena itu, susu ditempatkan dalam satu kelompok dengan sumber protein hewani yang lain
  3. Tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan ilmu gizi
  4. Susunan makanan yang terdiri atas 4 kelompok belum tentu sehat, bergantung pada porsi dan jenis zat gizinya apakah telah sesuai dengan kebutuhan.

Kondisi Gizi di Indonesia

Menteri Kesehatan pada sebuah kesempatan pernah mengatakan bahwa permasalahan gizi yang masih sulit dikendalikan adalah terkait kekurangan gizi dan pendek (stunting). Pada tahun 2010 prevalensi anak stunting 35.6 %, artinya 1 diantara tiga anak kita kemungkinan besar pendek. Sementara prevalensi gizi kurang telah turun dari 31% (1989), menjadi 17.9% (2010). Dengan capaian ini target MDGs sasaran 1 yaitu menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi 15.5% pada tahun 2015 diperkirakan dapat dicapai.

Revolusi Putih yang dicanangkan oleh pasangan Prabowo-Hatta merujuk pada ‘Operation Flood” pada tahun 1970 di India. Artikel di website TIDAR tersebut menulis begini, “India adalah salah satu negara yang memulai Revolusi Putih pada tahun 1970 melalui programnya ‘Operation Flood’ yang diprakarsai oleh Dr. Verghese Kurien. Revolusi Putih India yang berhasil meningkatkan produksi dan konsumsi susu, gizi masyarakat, dan ekonomi rakyat. Berkat Revolusi Putih yang dilakukan, India berhasil meningkatkan angka konsumsi susu masyarakatnya hingga mencapai 42,8 liter per kapita per tahun dan menjadi produsen susu terbesar di dunia”.

Oke, sekarang lihat data dibawah ini..

Laporan Nutrisi UNICEF tentang Jumlah Anak Pendek (stunting)

Laporan Nutrisi UNICEF tentang Jumlah Anak Pendek (stunting)

Laporan Gizi yang dikeluarkan UNICEF pada tahun 2013 itu menyebutkan bahwa 80% jumlah anak pendek (stunting) didunia ternyata berada di 14 negara, dan India adalah negara terbanyak yang memiliki jumlah anak pendek (stunting), Indonesia sendiri berada di rangking ke-5. Pertanyaannya, apakah kita akan mengikuti Revolusi Putih India jika melihat bahwa ternyata India adalah negara tertinggi dengan populasi anak pendek (stunting) terbanyak di dunia?

Masih berdasarkan laporan UNICEF tersebut, Indonesia mengalami beban ganda terhadap masalah gizi ini. Beban ganda tersebut adalah terkait dengan kekurangan gizi dan kegemukan. 1 dari 3 anak di Indonesia yang berusia dibawah 5 tahun cenderung pendek dan secara bersamaan 1 dari 7 anak di Indonesia kegemukan atau kelebihan berat badan. Pola konsumsi yang baik tentu menjadi solusi untuk mengatasi permasalah gizi tersebut, dan tentu letaknya bukan hanya di peningkatan konsumsi susu.

Pemerintah Indonesia melalui Bappenas pada tahun 2013 telah meluncurkan program Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK). Gerakan ini tentu sebaiknya juga menjadi pegangan bagi Pasangan Capres untuk melakukan program perbaikan gizi di Indonesia.

1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak janin dalam kandungan hingga ulang tahun kedua seorang anak, merupakan periode yang sangat penting karena kebanyakan kerusakan atau terhambatnya pertumbuhan yang disebabkan oleh kurang gizi terjadi selama periode tersebut. Gagal tumbuh terjadi diantaranya karena terhambatnya perkembangan otak yang tidak dapat diperbaiki pada kehidupan selanjutnya. Oleh sebab itu, sangatlan penting untuk memfokuskan perhatian pada periode 1000 hari pertama kehidupan, dan memastikan bahwa ibu mendapat gizi yang cukup selama kehamilan dan bahwa berbagai langkah harus diambil untuk mencegah anak menjadi kurang gizi selama dua tahun pertama kehidupannya.

Beberapa penyebab kekurangan gizi di Indonesia secara umum adalah: 1) Permasalahan ketahanan pangan di rumah tangga, saat rumah tangga tidak mampu menghasilkan atau membeli makanan yang cukup, 2) Minimnya pola asuh yang baik, terutama pemberian ASI, makanan pendamping ASI, dan perawat terhadap ibu sebelum dan selama kehamilan serta setelah persalinan, 3) Air, Sanitasi dan hygiene yang buruk yang meningkatkan penularan berbagai penyakit seperti misalnya diare, 4) Layanan Kesehatan yang kurang memadai, 5) Kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan.

Dari beberapa penyebab kekurangan gizi di Indonesia yang tercantum dalam dokumen Bappenas tersebut, tidak ada satupun yang mengatakan bahwa rendahnya konsumsi susu menjadi penyebab anak Indonesia kekurangan gizi. Jadi, kita harusnya tidak perlu khawatir terhadap rendahnya konsumsi susu di Indonesia, atau jangan-jangan, ada lobi dari industri susu untuk mengangkat isu ini? Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, 80% susu di Indonesia adalah hasil impor. Jika Revolusi Putih berjalan, siapa yang akan diuntungkan? Peternak Sapi Perah atau justru Industri Susu? Dan, Revolusi Putih sebenarnya tidak perlu ada, justru sebaiknya mengedepankan Revolusi Hijau dan Pelangi, meningkatkan konsumi sayur-sayuran dan buah-buahan.

Balik lagi soal Pedomanan Makanan, lalu bagaimana nasib kita setelah 4 Sehat 5 Sempurna tidka dipakai lagi? Indonesia baru pada tahun 2009 secara resmi memasukkan istilah Gizi Seimbang pada UU Kesenatan No36/2009. Tahun 2014 ini Kementerian Kesehatan baru mengeluarkan Pedoman Gizi Seimbang. Prinsip Gizi Sseimbang terdiri dari 4 Pilar yang pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memonitor berat badan secara teratur. Empat pilar tersebut adalah:

  1. Mengonsumsi makanan beragam
  2. Membiasakan perilaku hidup bersih
  3. Melakukan aktifitas fisik
  4. Mempertahankan dan memantau berat badan ideal

Kementerian Kesehatan meluncurkan gambar untuk memudahkan promosi gizi seimbang. Ada 2 gambar yang dikenalkan, yaitu 1) Tumpeng Gizi Seimbang dan 2) Piring Makanku. Ini adalah gambar Tumpeng Gizi Seimbang.

Tumpeng Gizi Seimbang

Tumpeng Gizi Seimbang

Perhatikan, pada tingkat ke-3, Susu hanya menjadi salah satu bagian dari sumber protein. Susu tidak lagi menjadi hal yang istimewa, bukan penyempurna makanan.

Lalu ada juga gambar Piring Makanku, juga tidak ada gambar Susu. Perhatikan perbedaan antara Piring Makanku (versi Indonesia) dengan gambar MyPlate (versi Amerika).

Perbadingan MyPlate dan Piring Makanku

Perbadingan MyPlate dan Piring Makanku

Perhatikan, di konsep MyPlate, masih ada tulisan DAIRY (Produk Susu), sementara konsep PIRING MAKANKU sudah tidak ada susu dan minumnya cukup Air Putih.

Jadi, jika memang berniat ingin mengentaskan permasalahan gizi di Indonesia, maka ikutilah Gerakan 1000 HPK dan promosikan Pedoman Gizi Seimbang. Ganti Revolusi Putih dengan #IndonesiaMakanSayur.

Dokumen terkait:

  1. Pedoman Gerakan 1000 HPK: http://www.bappenas.go.id/files/5013/8848/0466/PEDOMAN_SUN_10_Sept_2013.pdf
  2. FAQ tentang Gerakan 1000 HPK: http://www.bappenas.go.id/files/3913/8848/0509/FAQ-Indonesia-13-10-03.pdf
  3. Laporan Nutrisi UNICEF: http://www.unicef.org/publications/files/Nutrition_Report_final_lo_res_8_April.pdf
  4. Pedoman Gizi Seimbang 2014: http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2

Bahan Bacaan:

http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2

http://health.kompas.com/read/2013/05/21/09390826/Konsep.Gizi.Seimbang.Pengganti.4.Sehat.5.Sempurna

http://sosok.kompasiana.com/2014/02/11/prabowo-revolusi-putih-631168.html

http://partaigerindra.or.id/2012/01/29/partai-gerindra-canangkan-revolusi-putih.html

http://tidar.or.id/app/berita/176-latar-belakang-informasi-revolusi-putih

http://www.kfindonesia.org/index.php?pgid=12&contentid=22

http://www.danonenutrindo.org/sejarah_gizi_seimbang.php

http://health.kompas.com/read/2011/01/22/15365715/Tinggalkan.4.Sehat.5.Sempurna.

http://engkani.blogspot.com/2011/07/sejarah-lengkap-perkembangan-gizi-ilmu.html

http://www.michaelfarms.com/pdfs/BriefHistoryOfNutritionGuidelinesInU.S.pdf

http://www.pcrm.org/search/?cid=1536

http://theincidentaleconomist.com/wordpress/what-the-heck-are-we-supposed-to-be-eating/

http://www.rivertea.com/blog/evolution-food-pyramid/

http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_USDA_nutrition_guides

http://www.foodpolitics.com/wp-content/uploads/caduceus_93.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8375951

http://www.nal.usda.gov/fnic/history/7551v.gif

http://www.emedicinehealth.com/nutrition_and_diet/page4_em.htm

http://www.cnpp.usda.gov/Publications/MyPyramid/OriginalFoodGuidePyramids/FGP/FGPBackgroundAndDevelopment.pdf

http://finance.detik.com/read/2013/11/07/173233/2406625/1036/ini-penyebab-ri-ketergantungan-80-susu-impor

http://www.tempo.co/read/news/2014/05/23/090579827/Indonesia-Masih-Impor-Susu-45-Juta-Liter-per-Hari

http://health.kompas.com/read/2012/11/14/14190612/Status.Terkini.Gizi.Anak.Indonesia

elevated-view-of-fresh-vegetables-on-wooden-plank_23-2147882086

[Mungkin Emang] Ga Perlu Maksa Anak Makan Sayur

Sebenarnya udah lama mau nulis cerita ini, cerita soal anak gue, Keenandra Ilham, yang belakang ini doyan sayur. Gue dan istri juga kaget, ga ada petir, badai dan halilintar padahal. Ga ada yang memicu, udah aja tiba-tiba makan sayur.

Jadi gini ceritanya.

Gue dan istri pada awalnya memang sengaja mencoba mengatur pilihan asupan buat anak gue, MPASI jelas homemade, ga ada yang instan, bahkan biscuit sekalipun. MPASI yang dimasak pun ga pake gula-garam hingga anak gue berusia 1.5 tahun. Setelah itu boleh nyobain beberapa cemilan dan minuman yang manis, sudah tentu, Teh Botol menjadi favoritnya 😀

Sampai sini masih aman, MPASI dengan sayuran masih mau. Buah masih belum mau sampe sekarang. Khawatir? Kalo ngeliat sekarang doyan sayur sih, ga khawatir banget. Nah, setelah usia 1.5 tahun – 2 tahunan ada lah masa dimana kita enggak konsisten menyediakan sayur di asupan dia. Sampai ada masa dia mengeluarkan lagi semua sayuran dimakanannya, hingga akhirnya enggak mau makan sayur apapun.

Name it, semua cara udah gue coba, mulai dari ngumpetin makanan, menghias makanan, sampe sugesti positif. Enggak ada yang berhasil, bahkan sampe pernah kita bilang begini “adanya cuma sayur, kalo ga mau ya makan sendiri aja”. Dan beneran loh, anak gue makan sendiri…sayurnya dipinggirin 😀

Gue dan istri jelas khawatir, maklum, kita sehari-hari sebisa mungkin jalanin Food Combining, sarapan semaksimal mungkin selalu pake buah, sayuran pasti selalu ada dalam setiap menu makan. Kurang contoh apa coba? Indikator pup anak gue pun enggak bagus, selalu hitam atau abu-abu, padahal gue tau banget, pup yang baik itu berwarna kuning cerah merona #halah

Gue sampe baca buku yang menurut gue inspiring banget, judulnya French Kids Eat Everyhting – Karen Le Billon. Buku ini soal keluarga amerika yang pindah ke Perancis dan karena dorongan lingkungan akhirnya bisa makan semua jenis makanan, bahkan sayur dan buah, makanan yang sebelumnya jarang dimakan sewaktu di Amerika. Buku ini juga yang sedikit mengubah pola piker gue sama ‘American Style Parenting’

Tapi ternyata ga mudah mengaplikasikan apa yang ada dibuku itu meski menarik, faktor lingkungan dan pola makan masyarakat Perancis sangat jauh berbeda dengan di Indonesia. Jadi toh, pada akhirnya gue juga enggak bisa mengaplikasikan langsung, meski ada beberapa hal kecil yang bisa.

Pada akhirnya, kita agak sedikit “nyerah”, udah lah, ga mau maksa banget, pelan-pelan aja. Meski kita ga tau juga mau pake strategi apa. Jadi ya udah, kita ga pernah memaksa dan membahas lagi soal makan sayuran.

Beberapa kali istri gue emang mencoba memasukkan bin ngumpetin sayuran dimakanan, awalnya semua dilepeh, dikeluarin, anak gue minta sayurannya dipisahin. Kalo udah begini, biasanya kita bahas, “ini kan enak”, “ini cuma sedikit kok”, “cobain satuu aja” dan kalimat “memaksa” lainnya. Ternyata ini gengges juga yak buat anak…hahaha. Jadi ada awal istri gue masukin sayuran ke dalam makananya, tapi ga dibahas. Kalo makan ya syukur, kalo pas dia nemuin, ya udah woles aja, ga memaksa dia untuk makan. Mulai dengan jagung didalam telor dadar, tempe yang dia kira nugget (udah dibilangin itu tempe tapi anak gue maksa kalo itu nugget, ya udah, kita malah bersyukur..hahaha). Dan ketika anak gue makan itu semua, ya udah kita ga bahas-bahas banget, kalo makan itu dibilang pinter, kalo ga makan ya udah, ga maksa. Ternyata, pelan-pelan dia nyobain berbagai sayuran, istri gue sih iseng aja, eh tapi dimakan…hahaha, sayur sop dimakan, sayur daun singkong dimakan, sayur bayam dimakan, bahkan kangkung aja dimakan juga. Horeee.

Terus gue kan bingung, lah jadi apa yang sebenarnya memicu anak gue jadi doyan makan sayur? Dulu nyobain berbagai strategi para pakar ternyata gagal, eh tapi pas ga ngapa-ngapain malah dia makan sendiri. Jadi mungkin emang kita ga perlu maksa banget kali yah, meski untuk cemilan manis gue tetap membatasi, biar dia ga kelewat batas.

Oh ada satu hal yang gue setuju banget soal pola makan orang perancis. Menurut mereka, anak kecil itu belum paham apa yang dia mau, jadi mulai dari kecil harus diatur makannya, jangan dibiarin menentukan sendiri. Karena begitu kita memberikan kebebasan si anak untuk mengatur makanan, maka justru kita yang akan diatur. Coba deh, pernah ga elo bilang begini, “coklatnya satu aja, yah..besok lagi” 15 menit kemudian anak elo minta lagi, dan kita kasih, 1 jam kemudian minta lagi, dan kita kasih..begitu seterusnya. By the end of the day, our child rules the world. Hahahaha

Jadi pesen gue soal makan anak begini:

Tunggu Dia Lapar

Gue dan istri ga pernah memaksa anak gue makan, ga pernah juga khawatir anak gue kelaparan. Sejak dia mulai MPASI, kalo anak gue udah ga mau makan, kita berhenti, ga nawarin lagi dan ga maksain dia untuk makan lagi, meski kita tahu makannya baru sedikit. Tugas kita sebagai orang tua hanya menawarkan makan. Kalo ga makan seharian gimana? Ga mungkin, pasti anak kita makan, meski bukan nasi. Anak gue sih doyan makan biskuit, hasilnya jelas, dia udah kenyang dengan biskuit jadi ga doyan makan nasi. Gue nawarin, dia ga mau, ya udah kelar. Jadi, pliiis jangan memaksa anak buat makan, biarkan dia juga belajar mengetahui rasa lapar dan rasa kenyang. Tenang, seorang anak enggak akan membiarkan dirinya kelaparan kok. Bayi aja suka nangis kalo lapar kan?

Sugesti Positif

Jangan lupa selalu ngobrol juga sama anak, minta pendapatnya, dalam hal ini anak akan belajar soal makanan enak, makanan yang disuka, dan lainnya soal makanan. Gue dan istri selalu membiasakan menawarkan menu makanan ke anak, mau makan apa? mau ayam apa ikan? mau nugget apa telor? dan lainnya. Lalu juga membahas soal, mau berapa rotinya? enak ga makanannya? kamu suka kerupuk yah? dan lain-lain, menurut gue hal ini bisa ngajak anak jadi bertanggung jawab sama pilihan makanannya dan jadi ga parno sama yang namanya makan.

Udeh sih gitu aja…ntar kalo inget lagi gue tambahin

small-soft-bright-hearts-on-table_23-2147992962

Menyoal Poligami dan Akhwat

Disclaimer:

Tulisan ini mungkin akan terlihat sensitif dan dianggap sebagai kampanye hitam saat menjelang pemilu. Well, it’s not. Tulisan ini gue bikin karena gue pengen tahu soal poligami dan keingin tahuan gue soal kenapa “kalangan PKS” seperti akrab dengan poligami ini. Jadi, silahkan baca dulu hingga selesai

________________________________________________

Banyak orang termasuk gue yang memandang negatif poligami, bahkan di twitter beberapa minggu kemaren lagi rame sama hashtag #TolakPartaiPoligami, dalam 5 Panduan Memilih Caleg Bersih yang dibuat oleh akun @Bersih2014, poin pertamanya menyebutkan “Tidak memilih caleg yang melanggar HAM, Melakukan Korupsi, Berpoligami, Merusak Lingkungan, Berpihak Pada Buruh Murah, Anti Toleransi & Setuju dengan cara-cara kekerasan”.

Enggak dulu, enggak sekarang, melakukan Poligami adalah salah! paling enggak persepsi itulah yang tampaknya “sengaja” dibangun.

gue jadi mikir, kok kaya enggak ada yang bener soal Poligami ini, kalo emang enggak bener, lalu kenapa Rasulullah kasih contoh?

Membaca Ulang Lagi Soal Poligami

Eh bentar, gue baru tau ternyata ada tiga istilah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terkait Poligami ini, ketiganya yaitu:

poligami /po·li·ga·mi/ n sistem perkawinan yg salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dl waktu yg bersamaan;

poligini /po·li·gi·ni/ n sistem perkawinan yg membolehkan seorang pria memiliki beberapa wanita sbg istrinya dl waktu yg bersamaan

poliandri /po·li·an·dri/ n sistem perkawinan yg membolehkan seorang wanita mempunyai suami lebih dr satu orang dl waktu yg bersamaan

communication-travel-geography-simple-africa_1232-3757

Khilafah menurut gue..

Gue bukan orang yang ahli agama, bukan juga orang yang ahli masalah politik atau pemerintahan, bukan juga orang yang paham sejarah Islam. Iyah, gue hanya segelintir orang awam yang gatel pengen komentar seputar Khilafah menurut pemahaman gue sendiri.

Tulisan ini juga bukan tulisan ilmiah dengan penelitian yang mendalam, tapi lebih pada keresahan otak gue terhadap gerakan untuk mewujudkan Khilafah Islamiyah.

Jelas, karena gue orang awam, pasti tulisan ini juga akan sangat mudah disanggah, gue juga enggak bertujuan untuk menggoyahkan keyakinan sebagian temen gue yang turut mendukung gerakan itu, tapi ini lebih pada pergolakan otak gue terhadap Khilafah Islamiyah itu sendiri.

Semacam resah sendiri gitu. Makanya gue tulis di blog gue.

Gue sengaja membaca “Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia; Indonesia, Khilafah dan Penyatuan Kembali Umat Islam” untuk sekedar memahami visi-misi mereka. Tapi membaca manifesto tersebut kesan pertama gue adalah, “kok ini semacam CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) yah?”, kaya mengagungkan masa lalu, sekedar mengenang romantisme kejayaan Islam zaman dahulu, semacam ga move-on gitu.

Khilafah dan Umat Islam menurut gue kaya permainan tebak-tebakan, semacam pertanyaan duluan mana sebenarnya telur sama ayam?

Mana yang perlu dipersiapkan dulu, Daulah Khilafah (Negara Islam) -nya kah? atau menyiapkan Umat Islam yang teguh menjalani syariat Islamnya dulu? Soekarno, pada tanggal 17 Agustus 1966, dalam pidato terakhirnya yang terkenal dengan JAS MERAH “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” seakan mengingatkan gue untuk juga jangan lupa terhadap perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam.

beberapa hari yang lalu, gue sempet ngetwit begini, “sebenarnya Rasulullah itu diperintahkan Allah untuk bikin negara Islam ga sih?” salah satu teman gue yang juga seorang dosen bilang sepanjang yang dia tau dan baca, dia ga menemukan perintah Allah untuk mendirikan negara Islam. Dari sedikit sejarah yang gue tahu tentang Nabi Muhammad SAW juga hampir ga pernah gue menemukan cerita tentang usaha Nabi membentuk sebuah Negara Islam (kalo salah silahkan dikoreksi, namanya juga manusia dan orang awam)

Nabi enggak diperintahkan Allah untuk membentuk partai politik.
Nabi enggak diperintahkan Allah untuk membentuk organisasi masyarakat (ORMAS).

Perlahan tapi pasti, Nabi menyebarkan Agama Islam dengan damai. Nabi membentuk masyarakat Arab menjadi masyarakat yang beradab menurut syariat Islam. Nabi menyiapkan umat-Nya. Nabi melatih umat-Nya agar mampu mengamalkan apa yang diperintahkan Allah SWT. Syariat Islam, karena keberhasilan dakwah Rasul, bukan lagi sebuah tuntutan yang harus diperjuangkan namun sudah menjadi nafas dan gerak masyarakat Arab. Sehingga kemudian jelas, semua aturan sosial dan sistem pemerintahannya pun sesuai dengan syariat Islam. Islam kala itu sudah mendarah daging dan menjadi nafas masyarakat Arab.

Analoginya begini, orang Jepang terkenal dengan budaya kerjanya yang disiplin, tepat waktu, cepat mengambil keputusan dan pekerja keras. Ketika banyak perusahaan Jepang masuk ke Indonesia, budaya kerja orang Jepang itu dibawa juga ke Indonesia, ada banyak pelatihan terkait dengan budaya kerjanya. Tapi di Jepang? enggak ada tuh pelatihan budaya kerja orang Jepang, kenapa? karena budaya kerja yang begitu itu udah jadi kebiasaan mereka sejak kecil, sejak didalam keluarga. Jadi yah ga perlu diajarin lagi. Nah, menurut gue ini yang jauh lebih penting, menjadikan Islam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, jadi bagian dari keseharian kita, ini yang – gue liat, bahkan sama gue sendiri – belum kejadian. Kalo Islam udah mengalir di darah daging kita, menjadi nafas dalam setiap gerak setiap orang, maka menurut gue ga perlu mendirikan Negara Islam bukan? Karena toh Islam sudah menjadi bagian dalam sistem sosial dan pemerintahan.

Pun begitu dengan Daulah Khilafah, menurut gue, terwujudnya Negara Islam atau Negara dengan Syariat Islam adalah hasil akhir – yang sementara ini , menurut gue, bahkan Nabi pun kayanya enggak kepikiran bikin negara waktu diangkat menjadi Rasul – dan menyiapkan umat Islam untuk kembali menjalankan Syariat Islam secara Kaffah adalah hal yang utama. Hal yang harusnya didahulukan (menurut gue).

Dulu sih mungkin mudah, karena masih ada Rasul, ada satu panutan, sumbernya jelas, Nabi Muhammad SAW. Tapi sekarang?

“Sesunggunya agama (ummat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok), 72 di (ancam masuk ke) dalam Neraka dan satu yang didalam Surga, dia adalah Al-Jama’ah”.  (HR. Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu”

Dalam hadistnya, Nabi saja sudah memprediksi bahwa ummat-Nya akan terpecah menjadi 73 kelompok. Lalu kelompok mana yang harus kita ikuti? bukankah semua juga berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah? Apakah musti ada 73 negara? atau kita musti ikut sama negaranya HTI?

Menurut gue, jauh lebih penting menyiapkan umat Islam terlebih dahulu untuk kembali menegakkan Syariat Islam. Jauh lebih penting membuktikan bahwa Islam adalah Rahmat bagi seluruh Alam. Bukan dengan mendirikan Negara Islam lalu baru menegakkan Syariat Islam. Bayangkan, jika seluruh manusia bisa menerima Syariat Islam, bukankah Amerika bisa saja Undang-Undangnya sejalan dengan Islam, meski dipimpin oleh Non-Muslim misalnya?

Ga usah jauh-jauh deh, bukankah banyak dari kita yang pergi haji berkali-kali namun tetangga dekatnya masih kelaparan?

Bukankah masih banyak yang berhutang untuk pergi Umroh sementara familinya kesulitan membayar SPP sekolah anaknya?

Cmon, start with something small first will ya? Nabi aja memulai menyebarkan agama Islam dari lingkungan terdekatnya bukan?

Gue bukan enggak setuju dengan adanya Negara yang sistem pemerintahannya sesuai dengan Syariat Islam, gue jelas setuju banget. Tapi membentuk partai politik dan melakukan gerakan untuk menjatuhkan sebuah negara berdaulat lalu kemudian mendirikan Negara Islam adalah bukan hal yang bijak menurut gue.

Segala hal yang ambisius menurut gue enggak akan berakhir baik. Nabi aja enggak berambisi menjadi Kepala Negara Madinah bukan? Umat Islam mengalami kemunduran bukan karena enggak ada Negara Islam, tapi karena kebanyakan dari kita sendiri sudah menjauh dari Al-Qur’an dan Hadist. Zaman Nabi, mungkin sangat mudah menemukan orang yang hafal Al-Qur’an, tapi sekarang? hafal arti bacaan Shalat aja udah syukur kali.

Gue cuma mau bilang gini, gimana mendirikan rumah kalo elo enggak melatih tukang bangunannya? gimana caranya mendirikan rumah tapi cuma ngajak orang rame-rame untuk mendirikan rumah yang elo impikan?

Satukan umat Islam dengan mengajak setiap orang untuk memahami kembali ajaran Allah SWT. Mendirikan Negara Islam menurut gue bukan jalannya, kayanya juga enggak ada dari 25 Nabi yang diperintah Allah untuk mendirikan sebuah Negara bukan?

ah, ada terlalu banyak tanya yang masih belum gue temukan kenapa ada gerakan untuk mendirikan Daulah Khilafah?

Oh iya, buat yang belum tau, Hizbut Tahrir adalah partai politik Islam ideologis. politik adalah aktivitasnya, dan Islam sebagai ideologinya. Didirikan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pada 14 Maret 1953 M.

Hizbut Tahrir adalah partai politik dengan skala Internasional, hadir di lebih 40 negara.

Pertanyaan sederhana gue, terakhir, gimana gue bisa yakin kalo Islam bisa berjaya dengan sebuah partai politik? Semacam mengkerdilkan tujuan mulia dari Agama Islam sebagai Rahmat bagi seluruh Alam.

Wallahu A’lam Bishawab. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan gue, aamiin.

shining-business-businessman-finance-studio_1134-685

Kriminalisasi Pembeli Seks; Belum Saatnya

Belakangan isu kriminalisasi pembeli seks ramai dibicarakan dikalangan penggiat isu HIV-AIDS. PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) adalah LSM yang pertama kali mencetuskan ide ini secara luas. “Sikap resmi” ini disuarakan oleh PKBI pada peringatan Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember 2013 di Bundara HI. Banyak pihak yang menolak ide ini, KPAN dalam pernyataan resminya[1] juga menolak wacana yang berkembang ini, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi juga tampaknya tidak sejalan dengan ide ini, beliau mengatakan bahwa pada tahap ini kita coba dulu dengan motivasi, dengan mendorong penggunaan kondom. Kalau memang bisa dihukum, dengan agama itu mungkin bisa. Kalau kita dari sisi kesehatan, setiap orang dibantu untuk sehat[2].

Saya tidak ingin membahas apakah wacana kriminalisasi pembeli seks ini akan berdampak signifikan terhadap penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia, tapi saya ingin melihatnya dari sisi lain, dari sisi negara yang menjadi acuannya. Ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa program HIV-AIDS di Indonesia yang telah berjalan hampir belasan tahun di Indonesia tidak membawa pengaruh yang signifikan terhadap kasus HIV-AIDS. Karenanya kemudian muncullah keinginan untuk mengangkat wacana baru dalam gerakan penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia, “PKBI” kemudian mengusulkan wacana kriminalisasi laki-laki yang membeli seks. Menurut mereka, pelanggan inilah yang memiliki peran besar terhadap penyebaran virus HIV, dan menyebabkan semakin tingginya kasus HIV di ibu rumah tangga. Karenanya, harus di hukum.

plate

GTM; sebuah opini

Iya, gue mungkin salah satu orang yang enggak percaya anak ga mau makan. Buat gue yang ada hanya anak belum mau makan. Itu kenapa gue ga percaya adanya GTM (Gerakan Tutup Mulut) pada anak. Kenapa harus bingung kalo anak ga mau makan? Beberapa jawaban kalo gue kasih pertanyaan itu pasti begini, “apa ga kelaperan nanti anaknya?” atau “nanti gizinya dari mana kalo ga makan?”.

Okeeeh..sebelum di rentet dengan berbagai pertanyaan, gue mau jelasin alasan kenapa gue ga percaya dengan GTM ini:

1.Kenalkan Rasa Lapar

Secara alami manusia udah dikasih rasa lapar. Prinsipnya sederhana, kalo lapar maka kita akan makan. Ini ga terjadi secara tiba-tiba tapi ada hormon yang mengaturnya.  Jadi sebenarnya anak ga akan membiarkan dirinya kelaparan. Pertanyaan mendasar buat kita orang tua adalah? Apakah anak kita merasa lapar? Atau hanya kita yang mengira-ngira kalo anak kita lapar?

Okeh, ini agak sedikit akademis, tapi menurut gue ini penting untuk tau bagaimana tubuh menciptakan rasa lapar dan rasa kenyang. Ini penting karena kalo anak ga pernah merasa lapar anak ga akan makan. Jadi, kenalkanlah anak dengan rasa lapar.

Jadi gini, didalam tubuh kita ada dua hormon yang bekerja kaya saklar lampu, matiin dan hidupin. Namanya Hormon Ghrelin dan Hormon Leptin, Hormon Ghrelin mengeluarkan rasa lapar dan Hormon Leptin menekan rasa lapar atau kasih tanda kalo kita udah kenyang. Lapar terjadi karena tubuh butuh energi untuk metabolisme, ketika butuh energi maka tubuh akan bekerja secara otomatis untuk meminta bahan bakar. Pada tahap ini biasanya tingkat gula darah dalam tubuh juga rendah. Ketika tidak ada bahan bakar didalam tubuh, yang itu berarti ketika perut kita kosong maka lambung akan mengeluarkan hormon ghrelin, hormon ini akan mengirim sinyal ke otak, menimbulkan rasa lapar dan memerintahkan kita untuk segera makan. Nah, coba tanya sama diri sendiri, anak kita udah lapar belum? Ini kenapa gue percaya seorang bayi / anak enggak akan membiarkan dirinya kelaparan.

Ada lagi yang namanya Hormon Leptin, hormon ini tugasnya untuk menekan rasa lapar atau bikin tanda kenyang. Leptin disimpan di lemak, makan dengan gizi yang tidak seimbang dan cenderung banyak lemak dapat merusak kadar leptin dan responnya. Sehingga kita bisa makan terus meski sebenarnya tubuh sudah cukup asupan. Disinilah obesitas dimulai.

Masalah anak ga mau makan menurut gue dimulai dari anak enggak mengenal rasa lapar. Karena kelewat parno, anak dijejelin mulu sama makanan kecil, apa aja dikasih asal masuk makanan. Atau bahkan sebagian besar akhirnya memilih memberikan susu formula atau UHT. Susu sapi seperti kita tahu adalah minuman tinggi lemak. Sederhana aja buat gue, kalo anak ga mau makan, jangan gantikan dengan minuman. Karena susu sapi tinggi lemak maka anak akan merasa mudah kenyang. Dalam jangka panjang, anak akan lebih memilih minum susu yang cenderung rasanya lebih enak, ga ribed minumnya dan dalam seketika bikin kenyang. Sederhana lagi kan, karena udah merasa kenyang dengan susu sapi, apakah salah kalo anak kita ga mau makan? Ada kalanya anak emang enggak mau makan pada jam makan, bisa karena menu belum pas, bisa karena belum mau makan karena masih mau main dan bisa karena belum mau makan karena masih kenyang.

Yang gue lakuin kalo anak gue ga mau makan cuma satu, gue berhenti kasih dia makan dan membiarkannya bermain dan tidak menggantikannya dengan yang lain.

So there you go, ada hormon dalam tubuh kita yang mengatur rasa lapar. Jadi seorang anak ga akan membiarkan dirinya kelaparan, tapi hormon lapar ini enggak akan pernah muncul kalo anak selalu merasa kenyang. Apalagi ketika ga mau makan malah dikasih makanan yang manis-manis, tentu asupan gula darah akan tetap meningkat, bahan bakar untuk energi akan tetap ada dan mekanisme alami seperti yang gue jelaskan diatas tidak akan pernah terjadi.

Hasilnya sederhana, tubuh ga merasa butuh bahan bakar, ga merasa lapar dan ga belum butuh makan.

2.Jangan jadi bos

Jadilah asisten pribadi buat anak kita yang tugasnya mengingatkan jadwal makan, menyiapkan makan dan bahkan me-nyuapi makan. Harusnya kita melanjutkan apa yang terjadi ketika menyusui, pada masa itu kan yang jadi bos malah anak kita. Kalo dia lapar tinggal minta lewat tangisan. Begitu pun ketika anak sudah makan. Ingatkan jadwal makannya, variasikan menu dan berhenti ketika dia sudah tidak mau makan.

Yang sering terjadi adalah kita kelewat jadi bos, menganggap anak udah waktunya makan dan menganggap anak harusnya udah lapar. Ga mau makan nasi akhirnya kita sediakan semua jenis makanan (baca: cemilan atau minuman).

Jadi kalo anak belum makan maka berhenti menawarkan dia makan. Tawarkan makan pada 30 menit atau 60 menit kemudian.Pada saatnya dia lapar maka mekanisme alami dalam tubuh akan bekerja. Pada saat ini, secara otomatis anak pasti akan meminta makan.

Yang jadi bos harus anaknya, biarkan dia yang mengatur kapan mau makan atau tidak. Tugas kita sekedar mengingatkan waktu makan dan menyiapkan makan.

3.Buang konsepsi kalo makan harus nasi

Ada yang lucu dengan istilah GTM-Gerakan Tutup Mulut ini, anaknya disebut ga mau makan karena ga mau makan nasi. Tapi masih mau makan pas dikasih buah, biskuit, susu atau cemilan lainnya. Okeh, itu berarti anak lo ga menutup mulutnya bukan?

Tau ga kalo 2 buah pisang nilai gizinya itu sama dengan 1 piring nasi? Dalam pedoman gizi seimbang (buat yang belum tau, pemerintah Indonesia udah enggak pake konsep 4 Sehat 5 Sempurna lagi sejak tahun 1995, iya itu berarti sejak 17 tahun yang lalu, sekarang namanya Pedoman Umum Gizi Seimbang) disebutin kalo nasi hanya SALAH SATU sumber karbohidrat, jadi masih banyak pilihan.

Buang jauh-jauh kalo yang namanya makan itu harus NASI. Anak kita makan buah-buahan, ya itu makan. Anak kita makan sayuran, ya itu juga makan bukan?

4.Libatkan anak

Biasakan selalu melibatkan anak dalam proses makan. Mulai dari menyiapkan makanan di dapur, posisi makan yang baik, berdoa sebelum makan hingga kebiasaan selesai makan. Pada akhirnya, ketika lapar anak akan mengikuti kebiasaan itu, mencari makanan sendiri ke dapur misalnya.

Kita terlalu sering menganggap bahwa anak itu engga tau apa-apa, tapi sebenarnya anak itu sedang merekam kebiasaan kita. Kita enggap pernah mengajarkan anak kita cara menelepon bukan? Tapi karena terlalu sering melihat kita menggunapan handphone untuk menelepon, seketika dia tau bahwa telpon harus diletakkan di telinga. Begitu juga dengan kebiasaan makan.

Ajarkan anak bahwa makan harus duduk, kebiasaan ini bisa dibentuk dari sejak kecil kok.

Copyright 2019 hidayatrahmat.id © All Rights Reserved