pixabay.com_.png

Komunitas Ayah ASI Minta Masyarakat Dukung Aktivitas Ibu Menyusui

JAKARTA, KOMPAS.com– Komunitas Ayah ASI menilai dukungan bagi ibu menyusui dari lingkungan dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan buah hati akan asupan air susu ibu (ASI), merupakan penyelamatan nyawa.

“Sebenarnya dengan mendukung ibu untuk beraktivitas memenuhi asupan ASI bagi bayinya sama dengan penyelamatan nyawa satu manusia,” kata Co-founder Ayah ASI, Agus Rahmat Hidayat, saat ditemui di peluncuran Kampanye 7 Menit Kehidupan, di Jakarta, Jumat (18/9/2015).

Penyelamatan tersebut, lanjut Agus, karena pemberian air susu ibu intensif pada bayi dalam usia enam bulan pertama bisa menurunkan potensi kematian bayi hingga enam persen.

“Di sinilah dukungan seorang ayah agar bisa memberikan asupan ASI pada bayinya secara intensif,” kata dia.

Para ayah bisa memberi dukungan kepada ibu dengan berbagai cara, seperti membuat ibu tenang dan senang sehingga ASI dapat keluar dengan volume yang banyak.

“Ayah juga bisa menjadi pencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai ASI, lalu bisa juga mendukung dengan berbagi peran dengan istri dalam hal mengurus anak,” tuturnya.

Dia melanjutkan, kerap para ibu yang menjadi wanita karir menghadapi situasi sulit karena ASI tidak bisa diberikan secara intensif, sebab harus bekerja, sehingga waktunya bersama buah hati menjadi tersita.

“Sesungguhnya hal itu bisa diatasi dengan cara memerah pada waktu tertentu misalnya ketika bangun di pagi hari, istirahat siang di kantor dan sebelum tidur atau waktu lainnya, lalu menampungnya di tempat yang steril kemudian ketika ibu tidak ada, ayah yang bertugas memberi ASI tersebut,” ujarnya

Akan tetapi, ujar dia, terkadang para ibu yang menjadi wanita karir menghadapi sikap kurang simpatik dari rekan kerjanya karena intensitas dalam kegiatan memerah dan menampung ASI tersebut dianggap mengganggu kinerja.

“Ini harus disadarkan bahwa dengan mendukung ibu untuk mengupayakan memberi ASI pada buah hatinya telah memberikan kesempatan hidup lebih baik pada anak. Karenanya dukungan dari semua pihak seperti penyediaan ruang laktasi di gedung adalah suatu kebutuhan dan kontribusi bagi dukungan kehidupan,” tuturnya.

artikel asli dapat dilihat di https://megapolitan.kompas.com/read/2015/09/19/05580071/Komunitas.Ayah.ASI.Minta.Masyarakat.Dukung.Aktivitas.Ibu.Menyusui

untitled-design.png

Rahmat AyahASI: “Bikinnya Berdua, Ngurus Anaknya juga Berdua”

Jakarta, Jurnas.com – Gebrakan AyahASI yang dimunculkan via media sosial memberikan insight dan pandangan baru, khususnya untuk para suami dan ayah agar lebih memberikan ruang dan dukungan penuh untuk istri mereka.

Berikut wawancara Jurnas.com via instant messenger dengan Agus Rahmat Hidayat, Co-Founder AyahASI Indonesia.

Seberapa penting peran Ayah dalam mendampingi dan mendukung ibu menyusui?

Penting banget. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa angka keberhasilan menyusui meningkat jika suami turut mendukung. Keberhasilan IMD misalnya bisa mencapai 81.2 persen, keberhasilan menyusui bisa mencapai 98 persen dan penggunaan susu formula lebih rendah jika ayah mendukung ibu menyusui.

AyahASI percaya bahwa suami adalah benteng pertahanan seorang istri untuk memberikan ASI, artinya suami harus menjaga istri dari segala mitos menyusui dan komentar negatif dari sekeliling yang bisa menyebabkan istri menjadi stres.

Dalam bentuk apa dukungan ayah yang bisa diberikan?

Berbagi tugas di rumah bisa dalam hal bermain sama anak, gendong anak atau bahkan mencuci piring dan menyiapkan makan sendiri. Di luar itu ayah bisa mencari tahu soal ASI dan Menyusui, jadi sumber informasi bagi ibu yang seringkali sudah tidak punya waktu untuk membaca.

Ayah juga bisa nyenengin istri dengan menjadi teman bicara karena ibu setiap hari hanya bisa bicara dengan bayi, ayah juga bisa memberikan kejutan-kejutan kecil untuk membahagiakan istri dan jangan lupa juga untuk mencari bantuan jika istri mendapat kesulitan menyusui

Mengapa masih saja ada anggapan beban mengasuh anak pasca-melahirkan sepenuhnya peran ibu?

Karena oleh masyarakat kita laki-laki tidak pernah disiapkan untuk menjadi seorang ayah, laki-laki oleh sebagian besar masyarakat kita hanya disiapkan untuk menjadi seorang suami yang tugasnya mencari nafkah dan bekerja diluar rumah.

Belum lagi adanya ketimpangan dalam pembagian peran gender tersebut akhirnya laki-laki merasa bahwa mengurus anak bukan menjadi tugasnya. Jadi jangan salahkan laki-lakinya terlebih dahulu, karena sebenarnya kita peduli dengan anak-istri kita, tapi seringkali masih ada halangan dari adat ketimuran kita ketika suami ingin bantu istri di rumah.

Langkah atau kampanye apa yang sudah pernah AyahASI lakukan?

AyahASI adalah sebuah gerakan sosial, kami secara konsisten menyebarkan informasi soal ASI dan Menyusui dengan cara yang mudah dipahami para laki-laki serta mengajak keterlibatan mereka dalam mengurus anak.

Kampanye “bikinnya berdua, ngurus anaknya juga berdua” kami lakukan dalam bentuk roadshow Kelas AyahASI yang khusus untuk Ayah. Materinya mulai dari cara kerja payudara mengeluarkan ASI, cara mengangkat dan menggendong bayi serta bagaimana memberikan respon yang tepat ketika istri berbicara. Semuanya itu berujung pada upaya melibatkan ayah dalam proses mendukung keberhasilan menyusui.

Sejauh mana pengaruh publik figure dalam peran AyahASI?

Sangat penting yah, tapi sangat disayangkan minim sekali public figure yang ikut serta mengampanyekan pemberian makan bayi dan anak yang baik dan benar. Sering sekali public figure sudah jadi brand ambassador makanan instan atau susu formula.

Padahal jika lebih banyak public figure yang mengampanyekan isu menyusui ini maka dampaknya akan luar biasa bagi Indonesia untuk menurunkan angka stunting.

Harapan Anda dalam Pekan ASI tahun ini?

Lebih banyak suami yang terlibat dalam mendukung istrinya menyusui dan pemerintah lebih tegas pada produsen yang melanggar kode pemasaran pengganti ASI yang dikeluarkan oleh WHO.

artikel asli dapat dilihat di http://www.jurnas.com/mobile/artikel/57165/Rahmat-AyahASI-Bikinnya-Berdua-Ngurus-Anaknya-juga-Berdua/

wave-washing-away-inscription-2018_23-2147953500

Kegelisahan 2019

Bukan, ini bukan kegelisahan yang maksudnya kejang terus geli-geli basah yak. Ngeres aja lu.

Gini, mungkin 1-2 tahun belakangan ini gue berusaha banget untuk ngerem buat enggak ikutan komentar di sosial media, apalagi kaitannya sama agama dan politik. Bukan berarti gue enggak peduli, gue paham banget sama apa yang dibilang sama Buya Syafii kalo orang waras jangan diam!

Justru itu. Gue enggak memilih diam. Gue mau bergerak, mau ngajakin banyak orang untuk bergerak, bukan sekadar ngomong doang. Gue hanya merasa urusan komentar di sosial media udah banyak banget yang jago, udah cukup kayanya tanpa gue hadir pun.

Jadi gue memilih untuk tidak diam, tapi mau bantuin banyak orang untuk urusan ASI, Menyusui, Kesehatan Ibu dan Anak, Kontrasepsi, HIV dan TB. Enggak ahli juga sih soal itu semua, tapi ada pengalaman dan pengetahuan yang bisa gue bagi ke banyak orang. Berharap ilmunya bisa bermanfaat buat orang lain. aamiin.

Gue gelisah, kalo udah jadi orang waras eh tapi malah diam. Gue gelisah kalo udah mau 40 tahun tapi masih ngerasa belum berbuat banyak baik buat keluarga, orang banyak dan negara tercinta gue.

Lebai? bisa jadi. tapi dari pengalaman gue, bisa kok, meski mungkin enggak keliatan oleh banyak orang, minimal ada lah kontribusinya buat bangsa dan negara #tsaaah.

Untuk mengakomodir kegelisahan gue itu, gue mau bikin Yayasan. Belum ada duitnya sih, jadi kalo ada yang mau bantuin gue dengan skill dan ilmu yang elo punya, plis kontak gue yak.

Thanks

newborn-baby-legs-on-white-bed_1150-787

1st Baby Premature

Gue mau cerita aja pengalaman proses persalinan Ayu Damayantie (@adamayantie) yang begitu seru, hehehe, seseru nonton film This Is It-nya Michael Jackson karena berasa nonton konser, penontonnya nyanyi bareng dan tepuk tangan ketika lagu kesayangannya dinyanyikan. Seru karena prosesnya memakan waktu kurang lebih 23 jam. Seru karena sebelum istri gue melahirkan, ada 3 orang pasien yang juga melahirkan lebih dulu dan semuanya bayi perempuan. Seru karena suster, dokter dan bidan mondar-mandir pindah dari satu ruangan ke ruangan yang lain untuk menangani proses persalinan yang waktunya hampir berdekatan. Seru, karena kita harus pindah 3 ruangan, dari ruang tindakan, ruangan persalinan normal, dan ruang persalinan resiko tinggi. Cerita ini secara singkat udah sempet gue share di akun pekicau (baca: twitter) gue, yang mau tau silahkan follow di @a_rahmathidayat.

pre.ma.tur
[a ] belum (waktunya) masak (matang); sebelum waktunya; belum cukup bulan; pradini

Usia kehamilannya Ayu baru aja memasuki usia 32 minggu, hari Senin, 20 September 2010 kita baru aja mengunjungi dr.Didi Hendrawan, dokter kandungan yang kita pilih untuk kontrol kandungan di RS.Hermina. Ini bukan kontrol rutin, tapi emang sengaja cek kondisi Ayu aja, soalnya udah 2 hari doi menggigil tanpa sebab. Karena khawatir terjadi apa-apa, jadilah kita sengaja cek ke dokter. Hasilnya, aman, ga ada gangguan apapun, dokter bilang itu hanya menggigil biasa aja, apalagi ternyata Ayu emang ada masalah dengan pengatur suhu di tubuhnya. Keadaan bayi juga Alhamdulillah sehat. Nothing to worry then.

Tapi semalaman itu, Ayu kelihatan ga nyenyak tidur, bolak-balik aja ke kamar mandi, si bayi emang udah sering bergerak hebat dan kadang sakit. Ternyata semaleman itu Ayu ngerasa ada kontraksi, soalnya sakit banget, tapi kita curiga itu kontraksi palsu. Karena dari buku yang kit abaca kontraksi palsu emang rentan terjadi pada trimester ketiga, di saat otot-otot pada dinding rahim ibu hamil mulai berlatih kontraksi. Terkadang kontraksi ini terasa begitu kencang, sehingga sang ibu menduga akan mengalami proses persalinan. Salah satu cirinya adalah kontraksi akan hilang kalau ibu hamil berbaring atau duduk bersandar sambil menyelonjorkan kaki, nah ini juga yang dirasain sama istri gue. Oke deh, kita ga khawatir lagi, mungkin emang Ayu butuh istirahat dulu. But wait, sometin’ happen…

 

A doller bills in a wallet

let go and let god

aa gym, pada sebuah kesempatan ceramahnya bilang begini sama jamaah,”semisal masing-masing dari kita semua yang hadir disini tiba-tiba dikasih rezeki sama Allah uang sebesar 50 juta, kira-kira nih, mau ga semuanya di sedekahin?”, seketika semua orang, termasuk gue tentunya, ngeluarin komentarnya masing-masing, suasana yang tadinya hening tiba2 jadi rame gila..hahaha…dan gue sendiri ikutan kasak kusuk sambil berkata dalam hati (gila loe a, 50 jeti tuh, masa mau disumbangin semua)…ga sampe 3 menit, aa bilang gini, ya ampun masa masih rencana aja udah pelit sih..kan uangnya juga belum adaa..hehehe, iya juga yaah, jadi malu deh gue..

ngelepasin sesuatu yang udah jadi milik kita emang rada susah, ga cuma rada deng, kayanya emang susah yah..susah karena kita tahu betapa ga mudahnya mendapatkan itu, susah karena kita tahu betul gimana diri kita harus mati-matian bekerja keras untuk hasil yang terbaik, dan kalo uang/materi itu kemudian hanya kita kasih begitu aja, kayanya ga relaaa deh..hehe

ust. yusuf mansyur pernah menasehati seorang aktor (gue lupa namanya) untuk memberikan semua bayaran maen filmya di kun fayakun untuk sedekah, dan loe tau apa yang aktor itu lakukan, ya, dia berikan semua bayarannya untuk sedekah. beberapa bulan kemudian, si ustadz mendapat kabar kalo istri sang aktor ini tengah mengandung, padahal selama ini pasangan suami istri tersebut sudah mencoba berbagai cara untuk mendapatkan seorang bayi.

Copyright 2019 hidayatrahmat.id © All Rights Reserved