father-and-son_53876-13661

Merayakan World Breastfeeding Week

Hari ini adalah hari terakhir World Breastfeeding Week atau Pekan Menyusui Sedunia. Iyah, Week disini sebenarnya berarti Pekan, bukan Minggu. Meskipun saya AyahASI yang memberi dukungan agar istri saya menyusui anak-anak kami (Anak ke-1 menyusui hingga 2.2 tahun, anak ke-2 masih menyusui dan saat ini umurnya 8 bulan), saya memilih untuk merayakannya. Saya bahkan membuat infografis soal ASI dan Menyusui selama 7 hari berturut-turut untuk @ID_AyahASI, dan menyebut puluhan kali “perayaan” ini di akun social media. Meski baru kali ini saya menyebutnya di blog pribadi.

Karena buat saya, hal ini berguna untuk memberikan informasi soal ASI dan Menyusui. Saya dan istri pernah mengalami kesulitan dalam hal menyusui, pun begitu dengan para pendiri AyahASI. Itu kenapa kami membuat buku Catatan AyahASI dan mendirikan @ID_AyahASI, agar cukup kami saja yang mengalami kesulitan atau kegagalan dalam hal pemberian ASI, orang lain jangan sampe gagal. Iyah, saya memang bangga mengalami kesulitan soal ASI dan Menyusui dan kemudian berhasil melewatinya. Justru itu, saya ingin mengajak semua ibu-ibu untuk tidak gagal dan agar berhasil memberikan ASI untuk anaknya. Saya dan teman-teman @ID_AyahASI justru ingin merangkul ibu-ibu yang belum bisa memberikan ASI untuk belajar lagi soal ASI dan Menyusui agar bisa membantu teman-teman, tetangga bahkan familinya.

Pertama, bagi sebagian orang memberi ASI adalah perjuangan yang luar biasa. Perjuangan ini levelnya berbeda-beda.

Ada yang merasa perjuangan adalah begadang semalaman untuk menyusui. Sebenarnya enggak perlu begadang semalaman, ajak dong suami untuk membantu ketika memberikan ASI dimalam hari. Jika ibu merasa harus beristirahat, perah ASI, lalu minta suami untuk memberikan ASIP ketika anak kita terbangun dimalam hari. Disinilah dukungan AyahASI penting. Iyah betul, ini kan anak berdua, bukan anak si ibu aja. Jangan biarkan istri kita berjuang sendirian bung! Jangan!

Ada yang merasa perjuangan adalah puting digigit berulang kali sampai berdarah-darah. Ini sebenarnya bisa dihindari dengan beberapa tips dan trik yang sudah sering dibagi di akun @ID_AyahASI atau @aimi_asi. Menyusui itu harus menyenangkan, jika ada kesulitan atau merasa sakit, itu tandanya kita harus bertanya dan mencari informasi.

Ada yang harus makan sayur setiap hari baru ASI bisa deras keluar. Sebentar, kenapa makan sayur setiap hari harus dianggap perjuangan? Bukankah makan sayur itu sehat? Pemerintah kita aja kesulitan mempromosikan Pedoman Gizi Seimbang, masa ketika ada ibu menyusui yang mau makan sayur dianggap kegiatan yang menyusahkan? Ini juga mitos yang tampaknya ada sejak zaman Saur Sepuh, makan sayur dianggap bisa membuat ASI deras keluar. Nope! Makan sayur enggak ada hubungannya sama ASI deras keluar. Ibu menyusui cukup makan dengan porsi semampunya dengan pedoman gizi seimbang. Prinsipnya, nikmati dan batasi.

Ada yang harus minum susu setiap hari. Gini..andaikan semua orang yang peduli soal ASI dan Menyusui mau merayakan Pekan ASI Sedunia dengan informasi yang penting, mungkin kita bisa bilangin ke ibu menyusui bahwa ENGGAK HARUS minum susu setiap hari. Sayang ada juga yang enggak mau merayakannya, lalu diam.

Ada yang shopping setiap hari. Wait, WHAT? Sis..shopping is in their blood. Masa shopping biar ASI lancar juga dianggap menyulitkan? Kalo enggak shopping kan kasihan abang tukang sayur enggak ada yang beli.

Saya memang perlu merayakan semua hal tentang ASI dan Menyusui di World Breastfeeding Week. Ada juga teman-teman yang men-download sertifikat lulus ASI dan memamerkannya di social media. Atau ada juga yang menulis tentang tidak merayakan World Breastfeeding Week lalu memamerkannya di blog. Wait! Jadi sebenarnya merayakan World Breastfeeding Week dong, meski dari sudut pandang yang berbeda? anyway…

Pertanyaanya adalah? apakah semua upload foto soal ASI dan Menyusui lalu dianggap pamer? Lalu gimana dengan ibu hamil yang perutnya menonjol keluar? dianggap pamer? lalu harus menutupinya agar ibu-ibu yang belum bisa hamil terjaga perasaannya?

ya kan enggak begini juga kaaan…ya kan? ya ga sih? | kalau memang mau ngasih tau orang, kan bisa tulisannya dibuat positif gitu..

ya kalo pikirannya udah negatif ya susah juga sih…ini sama dengan orang yang enggak membolehkan ada pisau di rumah karena pisau bisa membunuh orang.

“Ibu-ibu seperti saya ini yang biasanya men-judge ibu-ibu yang tidak bisa memberi ASI”.

Nah kan ngaku..gini loh, kita justru mau mengajak agar tidak mudah menghakimi orang lain. Seorang Ibu enggak bisa disebut gagal menyusui,kenapa? karena menyusui dan memberikan ASI bukan tugas seorang ibu saja, menyusui dan memberikan ASI adalah tugas semua orang. Iyah, kita dan kamu harus mendukung seorang ibu untuk bisa berhasil menyusui. Bukan men-judge! Ga boleh itu. Kalo ada ibu yang belum berhasil menyusui, itu berarti kita dan kamu juga belum berhasil mendukung si ibu untuk berhasil. Ya salah kita juga! Kenapa diam? kenapa enggak membantu? kenapa enggak merayakan?

“Secara biologis ya memang ASI itu natural. Tapi ada faktor-faktor pemicu lain yang membuat seorang ibu gagal memberi ASI. Seperti support system dan kondisi psikologis.” Betul, saya setuju..justru saya dan teman-teman semua mengajak semua orang untuk membentuk supporting system yang baik bagi ibu menyusui. Bukan dengan memperlebar jarak dan menganggap ada 2 kubu yang berseberangan: IBU YANG PAMER vs IBU YANG DIHAKIMI.

Coba deh pola pikirnya diubah biar agak positif sedikit gitu, kaya gini: IBU BISA MENYUSUI vs IBU YANG HARUS DIBANTU.

“Support system yang baik di mana suami mendukung pemberian ASI, orangtua dan mertua mendukung pemberian ASI, kantor yang menyediakan ruang pompa ASI, komunitas yang merangkul dan memberi semangat untuk tetap memberi ASI.” – nah betul, tuh paham.

“Sementara faktor kondisi psikologis ini cukup tricky. Di satu sisi ibu harus bahagia agar ASI mengalir deras, tapi di sisi lain saat ASI nya berkurang, ibu langsung merasa down, stres, susah untuk bahagia. Padahal stres membuat ASI semakin berkurang.” – betul, ini bisa diatasi dengan Supporting System yang mba sebutin tadi, justru jangan dianggap kaya enggak bisa diatasi dan kok kayanya dianggap perjuangan ibu sendiri. Kalo ASI nya lagi berkurang, teman kantor kan bisa kasih dukungan positif misalnya, “ih segitu banyak loh, nanti pas pompa lagi aku temenin yah, biar lebih seru”. Gitu, jangan malah dipanas-panasin, entar kalo malah memilih enggak mau perah lalu gimana? karena menganggap enggak bisa diatasi? hayooo loh..

“Menurut saya pamer sertifikat dan pamer jumlah stok ASI perah hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial dan membuat ibu yang “gagal” menyusui semakin stres, semakin tidak bisa memberi ASI. Dan yang diberi sertifikat adalah bayinya. Make sense kah?” – Ini kalo pikirannya negatif yah..kalo pikirannya positif akan seperti ini “Ih si Annis keren banget udah ada sertifikat ASI dan stok ASInya banyak, aku mau ah belajar sama dia, mau diskusi sama dia biar aku juga banyak..aku mau minta dia untuk dukung aku ah” Nah, kalo pikiran positif seperti ini justru akan semakin menghilangkan kecemburuan social dan membuat ibu yang “gagal” menyusui menjadi bangkit dan berhasil menyusui.

Iyah…masa ada orang yang lagi jatuh terus kita bilang gini…”ih kalian ini malah jalan-jalan, jaga dong perasaan orang yang lagi jatuh, ga bisa berdiri tuh..ini kalian malah pamer pake sepatu baru dan jeans baru”.

Sementara disisi lain ada orang yang lagi jatuh terus kita bilang gini…”aku udah berhasil kasih ASI dan punya stok banyak..aku mau ah bantuin si Annis biar kaya aku..aku nanti kasih tau dia ah poto-poto aku menyusui..pokoknya aku pengen semua orang kaya aku, berhasil kasih ASI.”

Gituu..keliatan kan bedanya orang yang bikin panas sesuatu sama yang bikin adem?

“Untuk yang senang pamer kulkas berisi ratusan botol ASI perah, tahukah ada kondisi bernama hiperlaktasi di mana seorang ibu berlebihan memproduksi ASI? Ibu hiperlaktasi ini biasanya punya cadangan ASI perah berkulkas-kulkas karena ASI yang dia produksi lebih banyak dari yang dibutuhkan bayi.” – Begini..hiperlaktasi ini sebuah kondisi khusus yang positif,iyah betul..saya sebut kondisi khusus karena memang enggak semua ibu bisa seperti ini. Beberapa alasan hiperlaktasi adalah karena Alveoli yang banyak atau ada ketidakseimbangan hormon.

Jadi gini, kalo ada ibu yang punya stok ratusan botol ASI perah dikulkas itu bukan karena si ibu Hiperlaktasi..itu karena si ibu rutin memerah ASI. Jangan dianggap begini: “ih dia kan punya banyak stok ASI karena hiperlaktasi, aku kan enggak..sombong banget sih pamer-pamer foto”. Bukan gitu..boleh sih meng-kritik, tapi yang membangun sedikit dengan informasi dan data yang bener juga boleh kok. Produksi ASI itu prinsipnya sederhana, semakin sering ASI dikeluarkan, maka produksi ASI akan semakin cepat. Betul, itu bisa diatur, kita yang atur…bukan hiperlaktasi. Kita yang harus kasih informasi yang bener biar si ibu bisa memerah ASI dengan rutin.

Kedua, menurut saya ASI itu rezeki. Kalau rezeki tentu tidak sama bagi setiap orang dong.

Oh betul..ASI memang berbeda setiap orang, bahkan setiap hari aja kandungan ASI berbeda. Banyaknya ASI juga bisa berbeda, karena tergantung pada kebutuhan si bayi. Bayi A cuma butuh sedikit disbanding dengan Bayi B, yah ga apa-apa, memang segitu kebutuhannya.

“Sejak hamil, saya sendiri selalu menanamkan pola pikir rezeki ini. Bahwa saya akan bersyukur sekali kalau Tuhan melancarkan rezeki saya melalui ASI. Kalau pun ASI saya tidak keluar, saya berdoa agar diberi rezeki dalam bentuk lain karena susu formula kan mahal.” – Boleh ya enggak sependapat kan..lagian kan ini juga blog pribadi saya. Begini, saya beranggapan bahwa semua yang gratis dari Tuhan itu butuh usaha dari manusia. Contohnya begini..

Cinta itu gratis..tapi kita perlu usaha bertahun-tahun untuk mendapatkan jodoh? kalo diam saja kan juga enggak bisa. Tuhan justru pengen kita berusaha. ASI juga begitu, gratis dari Tuhan..tapi payudara perlu mendapat rangsangan, ibu perlu didukung agar pemberian ASI lancar ke bayi.

“Karena kalau pun ASI saya tidak lancar, masa mau menyalahkan Tuhan kan?” – Ya tentu enggak. Saya sih menyalahkan orang yang enggak mau bantuin nyebarin informasi penting di kala Pekan ASI Sedunia. Ada yang butuh bantuan, tapi enggak dibantu. Kan Kasihan. Kamu ih…

“Jadi memberi ASI ada yang memang sukses tanpa usaha,..” – oh mana adaaaa, coba tanya semua ibu menyusui…tanya apakah ada yang bisa memberi ASI dan sukses tanpa usaha? Kalo ada, sini saya traktir bakso 2 mangkok.

“Sangat tidak adil jika seorang ibu di-judge “tidak memberi yang terbaik” untuk anaknya karena gagal memberi ASI.” – ini seperti yang dibilang tadi –> “Ibu-ibu seperti saya ini yang biasanya men-judge ibu-ibu yang tidak bisa memberi ASI”. Ya jangan dong..jangan menghakimi. Ayo dibantu dengan merayakan World Breastfeeding Week, minggu lalu ada puluhan informasi yang beredar biar Ibu menyusui bisa sukses dikala bekerja. Bahkan AIMI diberbagai kota memberikan informasi gratis dengan dating ke kantor-kantor loh. Iyah, mereka bergerak. Bukan sekedar enggak mau merayakan lalu menghakimi.

“Ayo kampanye ASI, bahwa ASI makanan terbaik bagi bayi karena murah dan mudah. Karena membuat bayi lebih sering berada di pelukan ibunya. Kampanyekan pada para ayah untuk  membuat ibu selalu bahagia. Kampanyekan pada para nenek dan kakek bahwa ASI lebih baik dari susu formula.

Bukan berkampanye dalam bentuk perayaan ramai-ramai mengunggah foto sertifikat dan jumlah ASI perah. Yang membuat ibu-ibu lain semakin tertekan secara psikologis dan semakin sulit memberi ASI.”

Satu lagi..Ayo Berkampanye untuk tidak berpikiran negatif, yuk selalu ajak orang untuk berpikiran positif.

Disclaimer: Tulisan ini adalah sepenuhnya opini dan pandangan penulis dan tidak mewakili opini @ID_AyahASI secara komunitas/keseluruhan.

*blog sendiri sih, ga usah pake nama lah ya*

farmer-milking-a-cow_1205-312

Catatan Kritis Revolusi Putih

Revolusi Putih di Dokumen Visi-Misi Pasangan Prabowo-Hatta

Revolusi Putih di Dokumen Visi-Misi Pasangan Prabowo-Hatta

Pasangan Prabowo-Hatta menuliskan soal Revolusi Putih ini di dokumen visi-misi yang disampaikannya kepada KPU. Untuk jelasnya, dokumen visi-misi pasangan Prabowo-Hatta bisa lihat disini. Revolusi Putih pada paparan visi-misi tersebut (seperti pada gambar diatas) tertulis begini, “Menggerakkan revolusi putih mandiri dengan menyediakan susu untuk anak-anak miskin di sekolah melalui peternakan sapi dan kambing perah”.

Sayangnya, agak susah mencari dokumen resmi yang menjelaskan konsep revolusi putih mandiri tersebut. Gambaran yang cukup lengkap bisa ditemukan pada website TIDAR (Tunas Indonesia Raya), TIDAR sendiri merupakan organisasi sayap partai Gerindra. Pada website tersebut ada artikel yang berjudul ‘Latar Belakang Informasi Revolusi Putih’, lengkapnya bisa baca disini. Jadi, untuk saat ini, artikel tersebut gue jadikan ukuran tentang konsep revolusi putih yang disampaikan oleh pasangan Prabowo-Hatta.

Berikut adalah beberapa kutipan dari artikel dengan judul Latar Belakang Informasi Revolusi Putih tersebut:

Revolusi Putih adalah gerakan meningkatkan konsumsi susu terutama bagi anak dan remaja agar terjadi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. Dengan tujuan agar terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan gizi sejak dini. Bagi negara, Revolusi Putih tidak sekedar meningkatkan konsumsi susu masyarakat tetapi juga produksi susu yang mampu menopang target konsumsi susu. Hal tersebut harus mulai dari politik anggaran yang memprioritaskan perbaikan sumber daya manusia Indonesia.

Survei yang dilakukan Kementerian Pertanian Republik Indonesia pada tahun 2011 memaparkan fakta bahwa konsumsi susu di Indonesia paling rendah dibandingkan konsumsi susu di negara ASEAN maupun Eropa. Konsumsi susu masyarakat per kapita per tahun di Cina 24 liter, Vitenam 12,1 liter, Filipina 22,1 liter, Malaysia 22,1 liter, Thailand 33,7 liter, India 42,8 liter, dan Indonesia 11,9 liter. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya lima tetes sehari, masih sangat rendah.

Di Indonesia prevalensi kekurangan gizi pada anak balita komposisinya sekitar 13 persen anak mengalami gizi kurang dan 4,9 persen gizi buruk sesuai dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010. Revolusi Putih berfungsi sebagai upaya memperbaiki gizi bangsa dan mengurangi bahkan mengentaskan gizi buruk. Dengan memperbaiki gizi bangsa berarti memperbaiki kualitas sumber daya manusia, meningkatkan indeks perkembangan manusia serta meningkatkan kesejahteraan. Semakin tinggi kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan maka kemiskinan juga dapat berkurang.

Pada awal tahun 1950-an Prof Poorwo Sudarmo (Bapak Gizi Indonesia) mencetuskan empat sehat lima sempurna dengan menempatkan susu pada urutan terakhir. Program peningkatan gizi tersebut sempat berjalan dengan baik selama beberapa waktu namun tidak mampu dijalankan secara konsisten dan nasional sehingga peningkatan gizi anak bangsa belum mencapai target yang diinginkan dan mengubah kualitas penduduk bangsa Indonesia seperti pada negara Jepang, Cina dan India.

Secara umum Revolusi Putih menyebutkan bahwa perbaikan gizi pada anak-anak miskin adalah dengan meningkatkan konsumsi susu. Ini yang gue kurang setuju, soal perbaikan ekonomi dengan peternakan sapi dan kambing perah, gue setuju, asal dikelola dengan jujur dan baik tentunya.

Perjalanan Sejarah Pedoman Gizi Indonesia
Soal pedoman gizi ini enggak bisa enggak harus kita bahas, karena jelas berpengaruh sama pola makan masyarakat Indonesia, dan efeknya pada kesehatan masyarakat. Sorry to say, pemerintah seakan-akan terlalu menganggap remeh soal pedoman cara makan ini. Gue yakin, sebagian besar dari kita masih mengenalkan konsep 4 Sehat 5 Sempurna (4S5S) sebagai pedoman cara makannya, beberapa teman bahkan menyebutkan konsep 4S5S ini masih disampaikan di sekolah-sekolah TK dan SD.

Soekirman, Direktur Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI) mengatakan bahwa pada tahun 1930an, ilmu gizi hanya mengenal 3 zat gizi utama, yaitu protein, karbohidrat dan lemak, ketiganya sumber energi. Baru kemudian ditemukan vitamin dan mineral. Atas dasar DKBM hasil penelitian BPP, USDA menyusun Pedomanan Makanan (“Food Guide”) dengan mengelompokkan bahan makanan atas dasar sumber zat gizinya. Di tahun 1930an USDA mengelompokkan menjadi 12 kelompok makanan. Tahun 1940an dikecilkan menjadi 7 kelompok, dan tahun 1956 menjadi 4 kelompok yang di Amerika dikenal sebagai “Basic Four Food Guide”. Pedoman ini sejak tahun 1950an diikuti oleh banyak negara lain dengan Basic Fournya masing-masing, termasuk Indonesia dengan Empat Sehat Lima Sempurnanya.

Gambar Basic Four versi USDA

Gambar Basic Four versi USDA

Gambar: 4 Sehat 5 Sepurna

Gambar: 4 Sehat 5 Sepurna

Amerika kemudian melakukan studi untuk mengevaluasi pedoman gizi tersebut. Hasil survey gizi yang dikeluarkan pada 1970 tersebut mengatakan bahwa pola makan orang Amerika ternyata tidak berubah bahkan cenderung lebih buruk, yaitu  tinggi lemak, tinggi gula, tinggi garam, dan  rendah  serat.  Tidak ada keseimbangan antara asupan energi dari makanan yang masuk dengan pengeluaran energi.  Susunan makanan demikian  memicu timbulnya kegemukan. Akibatnya jumlah orang yang gemuk dan gemuk sekali (obis)  dengan dampak negatifnya terus meningkat di USA. Akhirnya disimpulkan bahwa  pedoman “Basic Four”  yang dipakai sejak tahun 1940an ternyata tidak efektif.

Sialnya, kita tidak melakukan evaluasi terhadap konsep 4 Sehat 5 Sempurna. Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan di Amerika sendiri melakukan kajian bersama untuk selalu melakukan evaluasi terhadap Pedoman Makanan (Food Guide) setiap 5 tahun sekali. Bayangkan ini, konsep 4 Sehat 5 Sempurna yang menjadi Pedoman ‘Resmi’ Makanan masyarakat Indonesia selama 45 tahun (1950-1995) tidak pernah dievaluasi. Padahal Amerika sudah banyak melakukan evaluasi.

Pada tahun 1991 ada kejadian yang menarik terjadi di Amerika, khususnya soal penetapan Pedoman Makanan (Food Guide) ini. Menteri Pertanian Amerika tampak ragu-ragu mengeluarkan Pedoman Makanan yang baru, ia mengatakan bahwa pedoman makanan yang baru ini tampak akan membingungkan bagi anak-anak. The Eating Right Pyramid yang baru itu sejatinya akan diluncurkan dengan ilustrasi angka 8 yang kurang lebih isinya adalah ada kelompok Gandum, Sayuran, Buah-buahan, dengan pengurangan konsumsi pada Daging dan Susu serta pengurangan konsumsi pada makanan yang tinggi lemak dan gula. Konsep ini kabarnya mendapat penentangan dari Industri Daging dan Produsen Susu, karena dikhawatirkan akan mengurangi produksi mereka. Dalam sejarahnya, penentuan Pedoman Makanan (Food Guide) di Amerika memang tidak pernah terlepas dari lobi-lobi industri makanan, pun termasuk produsen susu.

Balik lagi soal 4 Sehat 5 Sempurna, jadi pada tahun 1970, Amerika saja sudah mengadakan studi terhadap pedoman makanannya dan hasilnya adalah  pedoman “Basic Four”  yang dipakai sejak tahun 1940an ternyata tidak efektif. Pedoman ini ternyata menimbulkan masalah baru, yaitu Obesitas dan Kegemukan. Sementara di Indonesia? Iya, kita terus menggunakan konsep itu dan tidak melakukan evaluasi hingga akhirnya dijadikan pedoman makan kita selama hampir lebih dari 45 tahun.

Basic Four yang kemudian diadaptasi oleh kita dengan slogan 4 Sehat 5 Sempurna berangkat dari kondisi perang dunia kedua. Pedoman Makanan ini dibuat sedemikian rupa agar masyarakat dapat dengan cepat dan mudah mempelajari apa yang harus dimakan agar tubuh sehat. Kondisi perang dunia kedua tentu sangat mengkhawatirkan, tingkat pendidikan rendah, ekonomi hancur lebur, komunikasi terbatas dan lain sebagainya. Sehingga konsep ini memang dibuat agar masyarakat belajar cara makan dengan mudah. Konsep ini menekankan pentingnya empat golongan makanan berupa sumber kalori untuk tenaga, protein untuk pembangun, sayur dan buah sumber vitamin dan mineral untuk pemelihara.

Beberapa kekurangan konsep 4 Sehat 5 Sempurna ini adalah:

  1. Kebutuhan nutrisi setiap orang berbeda tergantung berbagai faktor
  2. Susu bukan makanan sempurna. Susu adalah sumber protein hewani yang juga terdapat pada telur, ikan dan daging. Oleh karena itu, susu ditempatkan dalam satu kelompok dengan sumber protein hewani yang lain
  3. Tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan ilmu gizi
  4. Susunan makanan yang terdiri atas 4 kelompok belum tentu sehat, bergantung pada porsi dan jenis zat gizinya apakah telah sesuai dengan kebutuhan.

Kondisi Gizi di Indonesia

Menteri Kesehatan pada sebuah kesempatan pernah mengatakan bahwa permasalahan gizi yang masih sulit dikendalikan adalah terkait kekurangan gizi dan pendek (stunting). Pada tahun 2010 prevalensi anak stunting 35.6 %, artinya 1 diantara tiga anak kita kemungkinan besar pendek. Sementara prevalensi gizi kurang telah turun dari 31% (1989), menjadi 17.9% (2010). Dengan capaian ini target MDGs sasaran 1 yaitu menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi 15.5% pada tahun 2015 diperkirakan dapat dicapai.

Revolusi Putih yang dicanangkan oleh pasangan Prabowo-Hatta merujuk pada ‘Operation Flood” pada tahun 1970 di India. Artikel di website TIDAR tersebut menulis begini, “India adalah salah satu negara yang memulai Revolusi Putih pada tahun 1970 melalui programnya ‘Operation Flood’ yang diprakarsai oleh Dr. Verghese Kurien. Revolusi Putih India yang berhasil meningkatkan produksi dan konsumsi susu, gizi masyarakat, dan ekonomi rakyat. Berkat Revolusi Putih yang dilakukan, India berhasil meningkatkan angka konsumsi susu masyarakatnya hingga mencapai 42,8 liter per kapita per tahun dan menjadi produsen susu terbesar di dunia”.

Oke, sekarang lihat data dibawah ini..

Laporan Nutrisi UNICEF tentang Jumlah Anak Pendek (stunting)

Laporan Nutrisi UNICEF tentang Jumlah Anak Pendek (stunting)

Laporan Gizi yang dikeluarkan UNICEF pada tahun 2013 itu menyebutkan bahwa 80% jumlah anak pendek (stunting) didunia ternyata berada di 14 negara, dan India adalah negara terbanyak yang memiliki jumlah anak pendek (stunting), Indonesia sendiri berada di rangking ke-5. Pertanyaannya, apakah kita akan mengikuti Revolusi Putih India jika melihat bahwa ternyata India adalah negara tertinggi dengan populasi anak pendek (stunting) terbanyak di dunia?

Masih berdasarkan laporan UNICEF tersebut, Indonesia mengalami beban ganda terhadap masalah gizi ini. Beban ganda tersebut adalah terkait dengan kekurangan gizi dan kegemukan. 1 dari 3 anak di Indonesia yang berusia dibawah 5 tahun cenderung pendek dan secara bersamaan 1 dari 7 anak di Indonesia kegemukan atau kelebihan berat badan. Pola konsumsi yang baik tentu menjadi solusi untuk mengatasi permasalah gizi tersebut, dan tentu letaknya bukan hanya di peningkatan konsumsi susu.

Pemerintah Indonesia melalui Bappenas pada tahun 2013 telah meluncurkan program Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK). Gerakan ini tentu sebaiknya juga menjadi pegangan bagi Pasangan Capres untuk melakukan program perbaikan gizi di Indonesia.

1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak janin dalam kandungan hingga ulang tahun kedua seorang anak, merupakan periode yang sangat penting karena kebanyakan kerusakan atau terhambatnya pertumbuhan yang disebabkan oleh kurang gizi terjadi selama periode tersebut. Gagal tumbuh terjadi diantaranya karena terhambatnya perkembangan otak yang tidak dapat diperbaiki pada kehidupan selanjutnya. Oleh sebab itu, sangatlan penting untuk memfokuskan perhatian pada periode 1000 hari pertama kehidupan, dan memastikan bahwa ibu mendapat gizi yang cukup selama kehamilan dan bahwa berbagai langkah harus diambil untuk mencegah anak menjadi kurang gizi selama dua tahun pertama kehidupannya.

Beberapa penyebab kekurangan gizi di Indonesia secara umum adalah: 1) Permasalahan ketahanan pangan di rumah tangga, saat rumah tangga tidak mampu menghasilkan atau membeli makanan yang cukup, 2) Minimnya pola asuh yang baik, terutama pemberian ASI, makanan pendamping ASI, dan perawat terhadap ibu sebelum dan selama kehamilan serta setelah persalinan, 3) Air, Sanitasi dan hygiene yang buruk yang meningkatkan penularan berbagai penyakit seperti misalnya diare, 4) Layanan Kesehatan yang kurang memadai, 5) Kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan.

Dari beberapa penyebab kekurangan gizi di Indonesia yang tercantum dalam dokumen Bappenas tersebut, tidak ada satupun yang mengatakan bahwa rendahnya konsumsi susu menjadi penyebab anak Indonesia kekurangan gizi. Jadi, kita harusnya tidak perlu khawatir terhadap rendahnya konsumsi susu di Indonesia, atau jangan-jangan, ada lobi dari industri susu untuk mengangkat isu ini? Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, 80% susu di Indonesia adalah hasil impor. Jika Revolusi Putih berjalan, siapa yang akan diuntungkan? Peternak Sapi Perah atau justru Industri Susu? Dan, Revolusi Putih sebenarnya tidak perlu ada, justru sebaiknya mengedepankan Revolusi Hijau dan Pelangi, meningkatkan konsumi sayur-sayuran dan buah-buahan.

Balik lagi soal Pedomanan Makanan, lalu bagaimana nasib kita setelah 4 Sehat 5 Sempurna tidka dipakai lagi? Indonesia baru pada tahun 2009 secara resmi memasukkan istilah Gizi Seimbang pada UU Kesenatan No36/2009. Tahun 2014 ini Kementerian Kesehatan baru mengeluarkan Pedoman Gizi Seimbang. Prinsip Gizi Sseimbang terdiri dari 4 Pilar yang pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memonitor berat badan secara teratur. Empat pilar tersebut adalah:

  1. Mengonsumsi makanan beragam
  2. Membiasakan perilaku hidup bersih
  3. Melakukan aktifitas fisik
  4. Mempertahankan dan memantau berat badan ideal

Kementerian Kesehatan meluncurkan gambar untuk memudahkan promosi gizi seimbang. Ada 2 gambar yang dikenalkan, yaitu 1) Tumpeng Gizi Seimbang dan 2) Piring Makanku. Ini adalah gambar Tumpeng Gizi Seimbang.

Tumpeng Gizi Seimbang

Tumpeng Gizi Seimbang

Perhatikan, pada tingkat ke-3, Susu hanya menjadi salah satu bagian dari sumber protein. Susu tidak lagi menjadi hal yang istimewa, bukan penyempurna makanan.

Lalu ada juga gambar Piring Makanku, juga tidak ada gambar Susu. Perhatikan perbedaan antara Piring Makanku (versi Indonesia) dengan gambar MyPlate (versi Amerika).

Perbadingan MyPlate dan Piring Makanku

Perbadingan MyPlate dan Piring Makanku

Perhatikan, di konsep MyPlate, masih ada tulisan DAIRY (Produk Susu), sementara konsep PIRING MAKANKU sudah tidak ada susu dan minumnya cukup Air Putih.

Jadi, jika memang berniat ingin mengentaskan permasalahan gizi di Indonesia, maka ikutilah Gerakan 1000 HPK dan promosikan Pedoman Gizi Seimbang. Ganti Revolusi Putih dengan #IndonesiaMakanSayur.

Dokumen terkait:

  1. Pedoman Gerakan 1000 HPK: http://www.bappenas.go.id/files/5013/8848/0466/PEDOMAN_SUN_10_Sept_2013.pdf
  2. FAQ tentang Gerakan 1000 HPK: http://www.bappenas.go.id/files/3913/8848/0509/FAQ-Indonesia-13-10-03.pdf
  3. Laporan Nutrisi UNICEF: http://www.unicef.org/publications/files/Nutrition_Report_final_lo_res_8_April.pdf
  4. Pedoman Gizi Seimbang 2014: http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2

Bahan Bacaan:

http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2

http://health.kompas.com/read/2013/05/21/09390826/Konsep.Gizi.Seimbang.Pengganti.4.Sehat.5.Sempurna

http://sosok.kompasiana.com/2014/02/11/prabowo-revolusi-putih-631168.html

http://partaigerindra.or.id/2012/01/29/partai-gerindra-canangkan-revolusi-putih.html

http://tidar.or.id/app/berita/176-latar-belakang-informasi-revolusi-putih

http://www.kfindonesia.org/index.php?pgid=12&contentid=22

http://www.danonenutrindo.org/sejarah_gizi_seimbang.php

http://health.kompas.com/read/2011/01/22/15365715/Tinggalkan.4.Sehat.5.Sempurna.

http://engkani.blogspot.com/2011/07/sejarah-lengkap-perkembangan-gizi-ilmu.html

http://www.michaelfarms.com/pdfs/BriefHistoryOfNutritionGuidelinesInU.S.pdf

http://www.pcrm.org/search/?cid=1536

http://theincidentaleconomist.com/wordpress/what-the-heck-are-we-supposed-to-be-eating/

http://www.rivertea.com/blog/evolution-food-pyramid/

http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_USDA_nutrition_guides

http://www.foodpolitics.com/wp-content/uploads/caduceus_93.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8375951

http://www.nal.usda.gov/fnic/history/7551v.gif

http://www.emedicinehealth.com/nutrition_and_diet/page4_em.htm

http://www.cnpp.usda.gov/Publications/MyPyramid/OriginalFoodGuidePyramids/FGP/FGPBackgroundAndDevelopment.pdf

http://finance.detik.com/read/2013/11/07/173233/2406625/1036/ini-penyebab-ri-ketergantungan-80-susu-impor

http://www.tempo.co/read/news/2014/05/23/090579827/Indonesia-Masih-Impor-Susu-45-Juta-Liter-per-Hari

http://health.kompas.com/read/2012/11/14/14190612/Status.Terkini.Gizi.Anak.Indonesia

Copyright 2019 hidayatrahmat.id © All Rights Reserved