farmer-milking-a-cow_1205-312

Catatan Kritis Revolusi Putih

Revolusi Putih di Dokumen Visi-Misi Pasangan Prabowo-Hatta

Revolusi Putih di Dokumen Visi-Misi Pasangan Prabowo-Hatta

Pasangan Prabowo-Hatta menuliskan soal Revolusi Putih ini di dokumen visi-misi yang disampaikannya kepada KPU. Untuk jelasnya, dokumen visi-misi pasangan Prabowo-Hatta bisa lihat disini. Revolusi Putih pada paparan visi-misi tersebut (seperti pada gambar diatas) tertulis begini, “Menggerakkan revolusi putih mandiri dengan menyediakan susu untuk anak-anak miskin di sekolah melalui peternakan sapi dan kambing perah”.

Sayangnya, agak susah mencari dokumen resmi yang menjelaskan konsep revolusi putih mandiri tersebut. Gambaran yang cukup lengkap bisa ditemukan pada website TIDAR (Tunas Indonesia Raya), TIDAR sendiri merupakan organisasi sayap partai Gerindra. Pada website tersebut ada artikel yang berjudul ‘Latar Belakang Informasi Revolusi Putih’, lengkapnya bisa baca disini. Jadi, untuk saat ini, artikel tersebut gue jadikan ukuran tentang konsep revolusi putih yang disampaikan oleh pasangan Prabowo-Hatta.

Berikut adalah beberapa kutipan dari artikel dengan judul Latar Belakang Informasi Revolusi Putih tersebut:

Revolusi Putih adalah gerakan meningkatkan konsumsi susu terutama bagi anak dan remaja agar terjadi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. Dengan tujuan agar terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan gizi sejak dini. Bagi negara, Revolusi Putih tidak sekedar meningkatkan konsumsi susu masyarakat tetapi juga produksi susu yang mampu menopang target konsumsi susu. Hal tersebut harus mulai dari politik anggaran yang memprioritaskan perbaikan sumber daya manusia Indonesia.

Survei yang dilakukan Kementerian Pertanian Republik Indonesia pada tahun 2011 memaparkan fakta bahwa konsumsi susu di Indonesia paling rendah dibandingkan konsumsi susu di negara ASEAN maupun Eropa. Konsumsi susu masyarakat per kapita per tahun di Cina 24 liter, Vitenam 12,1 liter, Filipina 22,1 liter, Malaysia 22,1 liter, Thailand 33,7 liter, India 42,8 liter, dan Indonesia 11,9 liter. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya lima tetes sehari, masih sangat rendah.

Di Indonesia prevalensi kekurangan gizi pada anak balita komposisinya sekitar 13 persen anak mengalami gizi kurang dan 4,9 persen gizi buruk sesuai dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010. Revolusi Putih berfungsi sebagai upaya memperbaiki gizi bangsa dan mengurangi bahkan mengentaskan gizi buruk. Dengan memperbaiki gizi bangsa berarti memperbaiki kualitas sumber daya manusia, meningkatkan indeks perkembangan manusia serta meningkatkan kesejahteraan. Semakin tinggi kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan maka kemiskinan juga dapat berkurang.

Pada awal tahun 1950-an Prof Poorwo Sudarmo (Bapak Gizi Indonesia) mencetuskan empat sehat lima sempurna dengan menempatkan susu pada urutan terakhir. Program peningkatan gizi tersebut sempat berjalan dengan baik selama beberapa waktu namun tidak mampu dijalankan secara konsisten dan nasional sehingga peningkatan gizi anak bangsa belum mencapai target yang diinginkan dan mengubah kualitas penduduk bangsa Indonesia seperti pada negara Jepang, Cina dan India.

Secara umum Revolusi Putih menyebutkan bahwa perbaikan gizi pada anak-anak miskin adalah dengan meningkatkan konsumsi susu. Ini yang gue kurang setuju, soal perbaikan ekonomi dengan peternakan sapi dan kambing perah, gue setuju, asal dikelola dengan jujur dan baik tentunya.

Perjalanan Sejarah Pedoman Gizi Indonesia
Soal pedoman gizi ini enggak bisa enggak harus kita bahas, karena jelas berpengaruh sama pola makan masyarakat Indonesia, dan efeknya pada kesehatan masyarakat. Sorry to say, pemerintah seakan-akan terlalu menganggap remeh soal pedoman cara makan ini. Gue yakin, sebagian besar dari kita masih mengenalkan konsep 4 Sehat 5 Sempurna (4S5S) sebagai pedoman cara makannya, beberapa teman bahkan menyebutkan konsep 4S5S ini masih disampaikan di sekolah-sekolah TK dan SD.

Soekirman, Direktur Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI) mengatakan bahwa pada tahun 1930an, ilmu gizi hanya mengenal 3 zat gizi utama, yaitu protein, karbohidrat dan lemak, ketiganya sumber energi. Baru kemudian ditemukan vitamin dan mineral. Atas dasar DKBM hasil penelitian BPP, USDA menyusun Pedomanan Makanan (“Food Guide”) dengan mengelompokkan bahan makanan atas dasar sumber zat gizinya. Di tahun 1930an USDA mengelompokkan menjadi 12 kelompok makanan. Tahun 1940an dikecilkan menjadi 7 kelompok, dan tahun 1956 menjadi 4 kelompok yang di Amerika dikenal sebagai “Basic Four Food Guide”. Pedoman ini sejak tahun 1950an diikuti oleh banyak negara lain dengan Basic Fournya masing-masing, termasuk Indonesia dengan Empat Sehat Lima Sempurnanya.

Gambar Basic Four versi USDA

Gambar Basic Four versi USDA

Gambar: 4 Sehat 5 Sepurna

Gambar: 4 Sehat 5 Sepurna

Amerika kemudian melakukan studi untuk mengevaluasi pedoman gizi tersebut. Hasil survey gizi yang dikeluarkan pada 1970 tersebut mengatakan bahwa pola makan orang Amerika ternyata tidak berubah bahkan cenderung lebih buruk, yaitu  tinggi lemak, tinggi gula, tinggi garam, dan  rendah  serat.  Tidak ada keseimbangan antara asupan energi dari makanan yang masuk dengan pengeluaran energi.  Susunan makanan demikian  memicu timbulnya kegemukan. Akibatnya jumlah orang yang gemuk dan gemuk sekali (obis)  dengan dampak negatifnya terus meningkat di USA. Akhirnya disimpulkan bahwa  pedoman “Basic Four”  yang dipakai sejak tahun 1940an ternyata tidak efektif.

Sialnya, kita tidak melakukan evaluasi terhadap konsep 4 Sehat 5 Sempurna. Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan di Amerika sendiri melakukan kajian bersama untuk selalu melakukan evaluasi terhadap Pedoman Makanan (Food Guide) setiap 5 tahun sekali. Bayangkan ini, konsep 4 Sehat 5 Sempurna yang menjadi Pedoman ‘Resmi’ Makanan masyarakat Indonesia selama 45 tahun (1950-1995) tidak pernah dievaluasi. Padahal Amerika sudah banyak melakukan evaluasi.

Pada tahun 1991 ada kejadian yang menarik terjadi di Amerika, khususnya soal penetapan Pedoman Makanan (Food Guide) ini. Menteri Pertanian Amerika tampak ragu-ragu mengeluarkan Pedoman Makanan yang baru, ia mengatakan bahwa pedoman makanan yang baru ini tampak akan membingungkan bagi anak-anak. The Eating Right Pyramid yang baru itu sejatinya akan diluncurkan dengan ilustrasi angka 8 yang kurang lebih isinya adalah ada kelompok Gandum, Sayuran, Buah-buahan, dengan pengurangan konsumsi pada Daging dan Susu serta pengurangan konsumsi pada makanan yang tinggi lemak dan gula. Konsep ini kabarnya mendapat penentangan dari Industri Daging dan Produsen Susu, karena dikhawatirkan akan mengurangi produksi mereka. Dalam sejarahnya, penentuan Pedoman Makanan (Food Guide) di Amerika memang tidak pernah terlepas dari lobi-lobi industri makanan, pun termasuk produsen susu.

Balik lagi soal 4 Sehat 5 Sempurna, jadi pada tahun 1970, Amerika saja sudah mengadakan studi terhadap pedoman makanannya dan hasilnya adalah  pedoman “Basic Four”  yang dipakai sejak tahun 1940an ternyata tidak efektif. Pedoman ini ternyata menimbulkan masalah baru, yaitu Obesitas dan Kegemukan. Sementara di Indonesia? Iya, kita terus menggunakan konsep itu dan tidak melakukan evaluasi hingga akhirnya dijadikan pedoman makan kita selama hampir lebih dari 45 tahun.

Basic Four yang kemudian diadaptasi oleh kita dengan slogan 4 Sehat 5 Sempurna berangkat dari kondisi perang dunia kedua. Pedoman Makanan ini dibuat sedemikian rupa agar masyarakat dapat dengan cepat dan mudah mempelajari apa yang harus dimakan agar tubuh sehat. Kondisi perang dunia kedua tentu sangat mengkhawatirkan, tingkat pendidikan rendah, ekonomi hancur lebur, komunikasi terbatas dan lain sebagainya. Sehingga konsep ini memang dibuat agar masyarakat belajar cara makan dengan mudah. Konsep ini menekankan pentingnya empat golongan makanan berupa sumber kalori untuk tenaga, protein untuk pembangun, sayur dan buah sumber vitamin dan mineral untuk pemelihara.

Beberapa kekurangan konsep 4 Sehat 5 Sempurna ini adalah:

  1. Kebutuhan nutrisi setiap orang berbeda tergantung berbagai faktor
  2. Susu bukan makanan sempurna. Susu adalah sumber protein hewani yang juga terdapat pada telur, ikan dan daging. Oleh karena itu, susu ditempatkan dalam satu kelompok dengan sumber protein hewani yang lain
  3. Tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan ilmu gizi
  4. Susunan makanan yang terdiri atas 4 kelompok belum tentu sehat, bergantung pada porsi dan jenis zat gizinya apakah telah sesuai dengan kebutuhan.

Kondisi Gizi di Indonesia

Menteri Kesehatan pada sebuah kesempatan pernah mengatakan bahwa permasalahan gizi yang masih sulit dikendalikan adalah terkait kekurangan gizi dan pendek (stunting). Pada tahun 2010 prevalensi anak stunting 35.6 %, artinya 1 diantara tiga anak kita kemungkinan besar pendek. Sementara prevalensi gizi kurang telah turun dari 31% (1989), menjadi 17.9% (2010). Dengan capaian ini target MDGs sasaran 1 yaitu menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi 15.5% pada tahun 2015 diperkirakan dapat dicapai.

Revolusi Putih yang dicanangkan oleh pasangan Prabowo-Hatta merujuk pada ‘Operation Flood” pada tahun 1970 di India. Artikel di website TIDAR tersebut menulis begini, “India adalah salah satu negara yang memulai Revolusi Putih pada tahun 1970 melalui programnya ‘Operation Flood’ yang diprakarsai oleh Dr. Verghese Kurien. Revolusi Putih India yang berhasil meningkatkan produksi dan konsumsi susu, gizi masyarakat, dan ekonomi rakyat. Berkat Revolusi Putih yang dilakukan, India berhasil meningkatkan angka konsumsi susu masyarakatnya hingga mencapai 42,8 liter per kapita per tahun dan menjadi produsen susu terbesar di dunia”.

Oke, sekarang lihat data dibawah ini..

Laporan Nutrisi UNICEF tentang Jumlah Anak Pendek (stunting)

Laporan Nutrisi UNICEF tentang Jumlah Anak Pendek (stunting)

Laporan Gizi yang dikeluarkan UNICEF pada tahun 2013 itu menyebutkan bahwa 80% jumlah anak pendek (stunting) didunia ternyata berada di 14 negara, dan India adalah negara terbanyak yang memiliki jumlah anak pendek (stunting), Indonesia sendiri berada di rangking ke-5. Pertanyaannya, apakah kita akan mengikuti Revolusi Putih India jika melihat bahwa ternyata India adalah negara tertinggi dengan populasi anak pendek (stunting) terbanyak di dunia?

Masih berdasarkan laporan UNICEF tersebut, Indonesia mengalami beban ganda terhadap masalah gizi ini. Beban ganda tersebut adalah terkait dengan kekurangan gizi dan kegemukan. 1 dari 3 anak di Indonesia yang berusia dibawah 5 tahun cenderung pendek dan secara bersamaan 1 dari 7 anak di Indonesia kegemukan atau kelebihan berat badan. Pola konsumsi yang baik tentu menjadi solusi untuk mengatasi permasalah gizi tersebut, dan tentu letaknya bukan hanya di peningkatan konsumsi susu.

Pemerintah Indonesia melalui Bappenas pada tahun 2013 telah meluncurkan program Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK). Gerakan ini tentu sebaiknya juga menjadi pegangan bagi Pasangan Capres untuk melakukan program perbaikan gizi di Indonesia.

1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak janin dalam kandungan hingga ulang tahun kedua seorang anak, merupakan periode yang sangat penting karena kebanyakan kerusakan atau terhambatnya pertumbuhan yang disebabkan oleh kurang gizi terjadi selama periode tersebut. Gagal tumbuh terjadi diantaranya karena terhambatnya perkembangan otak yang tidak dapat diperbaiki pada kehidupan selanjutnya. Oleh sebab itu, sangatlan penting untuk memfokuskan perhatian pada periode 1000 hari pertama kehidupan, dan memastikan bahwa ibu mendapat gizi yang cukup selama kehamilan dan bahwa berbagai langkah harus diambil untuk mencegah anak menjadi kurang gizi selama dua tahun pertama kehidupannya.

Beberapa penyebab kekurangan gizi di Indonesia secara umum adalah: 1) Permasalahan ketahanan pangan di rumah tangga, saat rumah tangga tidak mampu menghasilkan atau membeli makanan yang cukup, 2) Minimnya pola asuh yang baik, terutama pemberian ASI, makanan pendamping ASI, dan perawat terhadap ibu sebelum dan selama kehamilan serta setelah persalinan, 3) Air, Sanitasi dan hygiene yang buruk yang meningkatkan penularan berbagai penyakit seperti misalnya diare, 4) Layanan Kesehatan yang kurang memadai, 5) Kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan.

Dari beberapa penyebab kekurangan gizi di Indonesia yang tercantum dalam dokumen Bappenas tersebut, tidak ada satupun yang mengatakan bahwa rendahnya konsumsi susu menjadi penyebab anak Indonesia kekurangan gizi. Jadi, kita harusnya tidak perlu khawatir terhadap rendahnya konsumsi susu di Indonesia, atau jangan-jangan, ada lobi dari industri susu untuk mengangkat isu ini? Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, 80% susu di Indonesia adalah hasil impor. Jika Revolusi Putih berjalan, siapa yang akan diuntungkan? Peternak Sapi Perah atau justru Industri Susu? Dan, Revolusi Putih sebenarnya tidak perlu ada, justru sebaiknya mengedepankan Revolusi Hijau dan Pelangi, meningkatkan konsumi sayur-sayuran dan buah-buahan.

Balik lagi soal Pedomanan Makanan, lalu bagaimana nasib kita setelah 4 Sehat 5 Sempurna tidka dipakai lagi? Indonesia baru pada tahun 2009 secara resmi memasukkan istilah Gizi Seimbang pada UU Kesenatan No36/2009. Tahun 2014 ini Kementerian Kesehatan baru mengeluarkan Pedoman Gizi Seimbang. Prinsip Gizi Sseimbang terdiri dari 4 Pilar yang pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memonitor berat badan secara teratur. Empat pilar tersebut adalah:

  1. Mengonsumsi makanan beragam
  2. Membiasakan perilaku hidup bersih
  3. Melakukan aktifitas fisik
  4. Mempertahankan dan memantau berat badan ideal

Kementerian Kesehatan meluncurkan gambar untuk memudahkan promosi gizi seimbang. Ada 2 gambar yang dikenalkan, yaitu 1) Tumpeng Gizi Seimbang dan 2) Piring Makanku. Ini adalah gambar Tumpeng Gizi Seimbang.

Tumpeng Gizi Seimbang

Tumpeng Gizi Seimbang

Perhatikan, pada tingkat ke-3, Susu hanya menjadi salah satu bagian dari sumber protein. Susu tidak lagi menjadi hal yang istimewa, bukan penyempurna makanan.

Lalu ada juga gambar Piring Makanku, juga tidak ada gambar Susu. Perhatikan perbedaan antara Piring Makanku (versi Indonesia) dengan gambar MyPlate (versi Amerika).

Perbadingan MyPlate dan Piring Makanku

Perbadingan MyPlate dan Piring Makanku

Perhatikan, di konsep MyPlate, masih ada tulisan DAIRY (Produk Susu), sementara konsep PIRING MAKANKU sudah tidak ada susu dan minumnya cukup Air Putih.

Jadi, jika memang berniat ingin mengentaskan permasalahan gizi di Indonesia, maka ikutilah Gerakan 1000 HPK dan promosikan Pedoman Gizi Seimbang. Ganti Revolusi Putih dengan #IndonesiaMakanSayur.

Dokumen terkait:

  1. Pedoman Gerakan 1000 HPK: http://www.bappenas.go.id/files/5013/8848/0466/PEDOMAN_SUN_10_Sept_2013.pdf
  2. FAQ tentang Gerakan 1000 HPK: http://www.bappenas.go.id/files/3913/8848/0509/FAQ-Indonesia-13-10-03.pdf
  3. Laporan Nutrisi UNICEF: http://www.unicef.org/publications/files/Nutrition_Report_final_lo_res_8_April.pdf
  4. Pedoman Gizi Seimbang 2014: http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2

Bahan Bacaan:

http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2

http://health.kompas.com/read/2013/05/21/09390826/Konsep.Gizi.Seimbang.Pengganti.4.Sehat.5.Sempurna

http://sosok.kompasiana.com/2014/02/11/prabowo-revolusi-putih-631168.html

http://partaigerindra.or.id/2012/01/29/partai-gerindra-canangkan-revolusi-putih.html

http://tidar.or.id/app/berita/176-latar-belakang-informasi-revolusi-putih

http://www.kfindonesia.org/index.php?pgid=12&contentid=22

http://www.danonenutrindo.org/sejarah_gizi_seimbang.php

http://health.kompas.com/read/2011/01/22/15365715/Tinggalkan.4.Sehat.5.Sempurna.

http://engkani.blogspot.com/2011/07/sejarah-lengkap-perkembangan-gizi-ilmu.html

http://www.michaelfarms.com/pdfs/BriefHistoryOfNutritionGuidelinesInU.S.pdf

http://www.pcrm.org/search/?cid=1536

http://theincidentaleconomist.com/wordpress/what-the-heck-are-we-supposed-to-be-eating/

http://www.rivertea.com/blog/evolution-food-pyramid/

http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_USDA_nutrition_guides

http://www.foodpolitics.com/wp-content/uploads/caduceus_93.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8375951

http://www.nal.usda.gov/fnic/history/7551v.gif

http://www.emedicinehealth.com/nutrition_and_diet/page4_em.htm

http://www.cnpp.usda.gov/Publications/MyPyramid/OriginalFoodGuidePyramids/FGP/FGPBackgroundAndDevelopment.pdf

http://finance.detik.com/read/2013/11/07/173233/2406625/1036/ini-penyebab-ri-ketergantungan-80-susu-impor

http://www.tempo.co/read/news/2014/05/23/090579827/Indonesia-Masih-Impor-Susu-45-Juta-Liter-per-Hari

http://health.kompas.com/read/2012/11/14/14190612/Status.Terkini.Gizi.Anak.Indonesia

elevated-view-of-fresh-vegetables-on-wooden-plank_23-2147882086

[Mungkin Emang] Ga Perlu Maksa Anak Makan Sayur

Sebenarnya udah lama mau nulis cerita ini, cerita soal anak gue, Keenandra Ilham, yang belakang ini doyan sayur. Gue dan istri juga kaget, ga ada petir, badai dan halilintar padahal. Ga ada yang memicu, udah aja tiba-tiba makan sayur.

Jadi gini ceritanya.

Gue dan istri pada awalnya memang sengaja mencoba mengatur pilihan asupan buat anak gue, MPASI jelas homemade, ga ada yang instan, bahkan biscuit sekalipun. MPASI yang dimasak pun ga pake gula-garam hingga anak gue berusia 1.5 tahun. Setelah itu boleh nyobain beberapa cemilan dan minuman yang manis, sudah tentu, Teh Botol menjadi favoritnya 😀

Sampai sini masih aman, MPASI dengan sayuran masih mau. Buah masih belum mau sampe sekarang. Khawatir? Kalo ngeliat sekarang doyan sayur sih, ga khawatir banget. Nah, setelah usia 1.5 tahun – 2 tahunan ada lah masa dimana kita enggak konsisten menyediakan sayur di asupan dia. Sampai ada masa dia mengeluarkan lagi semua sayuran dimakanannya, hingga akhirnya enggak mau makan sayur apapun.

Name it, semua cara udah gue coba, mulai dari ngumpetin makanan, menghias makanan, sampe sugesti positif. Enggak ada yang berhasil, bahkan sampe pernah kita bilang begini “adanya cuma sayur, kalo ga mau ya makan sendiri aja”. Dan beneran loh, anak gue makan sendiri…sayurnya dipinggirin 😀

Gue dan istri jelas khawatir, maklum, kita sehari-hari sebisa mungkin jalanin Food Combining, sarapan semaksimal mungkin selalu pake buah, sayuran pasti selalu ada dalam setiap menu makan. Kurang contoh apa coba? Indikator pup anak gue pun enggak bagus, selalu hitam atau abu-abu, padahal gue tau banget, pup yang baik itu berwarna kuning cerah merona #halah

Gue sampe baca buku yang menurut gue inspiring banget, judulnya French Kids Eat Everyhting – Karen Le Billon. Buku ini soal keluarga amerika yang pindah ke Perancis dan karena dorongan lingkungan akhirnya bisa makan semua jenis makanan, bahkan sayur dan buah, makanan yang sebelumnya jarang dimakan sewaktu di Amerika. Buku ini juga yang sedikit mengubah pola piker gue sama ‘American Style Parenting’

Tapi ternyata ga mudah mengaplikasikan apa yang ada dibuku itu meski menarik, faktor lingkungan dan pola makan masyarakat Perancis sangat jauh berbeda dengan di Indonesia. Jadi toh, pada akhirnya gue juga enggak bisa mengaplikasikan langsung, meski ada beberapa hal kecil yang bisa.

Pada akhirnya, kita agak sedikit “nyerah”, udah lah, ga mau maksa banget, pelan-pelan aja. Meski kita ga tau juga mau pake strategi apa. Jadi ya udah, kita ga pernah memaksa dan membahas lagi soal makan sayuran.

Beberapa kali istri gue emang mencoba memasukkan bin ngumpetin sayuran dimakanan, awalnya semua dilepeh, dikeluarin, anak gue minta sayurannya dipisahin. Kalo udah begini, biasanya kita bahas, “ini kan enak”, “ini cuma sedikit kok”, “cobain satuu aja” dan kalimat “memaksa” lainnya. Ternyata ini gengges juga yak buat anak…hahaha. Jadi ada awal istri gue masukin sayuran ke dalam makananya, tapi ga dibahas. Kalo makan ya syukur, kalo pas dia nemuin, ya udah woles aja, ga memaksa dia untuk makan. Mulai dengan jagung didalam telor dadar, tempe yang dia kira nugget (udah dibilangin itu tempe tapi anak gue maksa kalo itu nugget, ya udah, kita malah bersyukur..hahaha). Dan ketika anak gue makan itu semua, ya udah kita ga bahas-bahas banget, kalo makan itu dibilang pinter, kalo ga makan ya udah, ga maksa. Ternyata, pelan-pelan dia nyobain berbagai sayuran, istri gue sih iseng aja, eh tapi dimakan…hahaha, sayur sop dimakan, sayur daun singkong dimakan, sayur bayam dimakan, bahkan kangkung aja dimakan juga. Horeee.

Terus gue kan bingung, lah jadi apa yang sebenarnya memicu anak gue jadi doyan makan sayur? Dulu nyobain berbagai strategi para pakar ternyata gagal, eh tapi pas ga ngapa-ngapain malah dia makan sendiri. Jadi mungkin emang kita ga perlu maksa banget kali yah, meski untuk cemilan manis gue tetap membatasi, biar dia ga kelewat batas.

Oh ada satu hal yang gue setuju banget soal pola makan orang perancis. Menurut mereka, anak kecil itu belum paham apa yang dia mau, jadi mulai dari kecil harus diatur makannya, jangan dibiarin menentukan sendiri. Karena begitu kita memberikan kebebasan si anak untuk mengatur makanan, maka justru kita yang akan diatur. Coba deh, pernah ga elo bilang begini, “coklatnya satu aja, yah..besok lagi” 15 menit kemudian anak elo minta lagi, dan kita kasih, 1 jam kemudian minta lagi, dan kita kasih..begitu seterusnya. By the end of the day, our child rules the world. Hahahaha

Jadi pesen gue soal makan anak begini:

Tunggu Dia Lapar

Gue dan istri ga pernah memaksa anak gue makan, ga pernah juga khawatir anak gue kelaparan. Sejak dia mulai MPASI, kalo anak gue udah ga mau makan, kita berhenti, ga nawarin lagi dan ga maksain dia untuk makan lagi, meski kita tahu makannya baru sedikit. Tugas kita sebagai orang tua hanya menawarkan makan. Kalo ga makan seharian gimana? Ga mungkin, pasti anak kita makan, meski bukan nasi. Anak gue sih doyan makan biskuit, hasilnya jelas, dia udah kenyang dengan biskuit jadi ga doyan makan nasi. Gue nawarin, dia ga mau, ya udah kelar. Jadi, pliiis jangan memaksa anak buat makan, biarkan dia juga belajar mengetahui rasa lapar dan rasa kenyang. Tenang, seorang anak enggak akan membiarkan dirinya kelaparan kok. Bayi aja suka nangis kalo lapar kan?

Sugesti Positif

Jangan lupa selalu ngobrol juga sama anak, minta pendapatnya, dalam hal ini anak akan belajar soal makanan enak, makanan yang disuka, dan lainnya soal makanan. Gue dan istri selalu membiasakan menawarkan menu makanan ke anak, mau makan apa? mau ayam apa ikan? mau nugget apa telor? dan lainnya. Lalu juga membahas soal, mau berapa rotinya? enak ga makanannya? kamu suka kerupuk yah? dan lain-lain, menurut gue hal ini bisa ngajak anak jadi bertanggung jawab sama pilihan makanannya dan jadi ga parno sama yang namanya makan.

Udeh sih gitu aja…ntar kalo inget lagi gue tambahin

small-soft-bright-hearts-on-table_23-2147992962

Menyoal Poligami dan Akhwat

Disclaimer:

Tulisan ini mungkin akan terlihat sensitif dan dianggap sebagai kampanye hitam saat menjelang pemilu. Well, it’s not. Tulisan ini gue bikin karena gue pengen tahu soal poligami dan keingin tahuan gue soal kenapa “kalangan PKS” seperti akrab dengan poligami ini. Jadi, silahkan baca dulu hingga selesai

________________________________________________

Banyak orang termasuk gue yang memandang negatif poligami, bahkan di twitter beberapa minggu kemaren lagi rame sama hashtag #TolakPartaiPoligami, dalam 5 Panduan Memilih Caleg Bersih yang dibuat oleh akun @Bersih2014, poin pertamanya menyebutkan “Tidak memilih caleg yang melanggar HAM, Melakukan Korupsi, Berpoligami, Merusak Lingkungan, Berpihak Pada Buruh Murah, Anti Toleransi & Setuju dengan cara-cara kekerasan”.

Enggak dulu, enggak sekarang, melakukan Poligami adalah salah! paling enggak persepsi itulah yang tampaknya “sengaja” dibangun.

gue jadi mikir, kok kaya enggak ada yang bener soal Poligami ini, kalo emang enggak bener, lalu kenapa Rasulullah kasih contoh?

Membaca Ulang Lagi Soal Poligami

Eh bentar, gue baru tau ternyata ada tiga istilah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terkait Poligami ini, ketiganya yaitu:

poligami /po·li·ga·mi/ n sistem perkawinan yg salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dl waktu yg bersamaan;

poligini /po·li·gi·ni/ n sistem perkawinan yg membolehkan seorang pria memiliki beberapa wanita sbg istrinya dl waktu yg bersamaan

poliandri /po·li·an·dri/ n sistem perkawinan yg membolehkan seorang wanita mempunyai suami lebih dr satu orang dl waktu yg bersamaan

Copyright 2019 hidayatrahmat.id © All Rights Reserved