father-and-son_53876-13661

Merayakan World Breastfeeding Week

Hari ini adalah hari terakhir World Breastfeeding Week atau Pekan Menyusui Sedunia. Iyah, Week disini sebenarnya berarti Pekan, bukan Minggu. Meskipun saya AyahASI yang memberi dukungan agar istri saya menyusui anak-anak kami (Anak ke-1 menyusui hingga 2.2 tahun, anak ke-2 masih menyusui dan saat ini umurnya 8 bulan), saya memilih untuk merayakannya. Saya bahkan membuat infografis soal ASI dan Menyusui selama 7 hari berturut-turut untuk @ID_AyahASI, dan menyebut puluhan kali “perayaan” ini di akun social media. Meski baru kali ini saya menyebutnya di blog pribadi.

Karena buat saya, hal ini berguna untuk memberikan informasi soal ASI dan Menyusui. Saya dan istri pernah mengalami kesulitan dalam hal menyusui, pun begitu dengan para pendiri AyahASI. Itu kenapa kami membuat buku Catatan AyahASI dan mendirikan @ID_AyahASI, agar cukup kami saja yang mengalami kesulitan atau kegagalan dalam hal pemberian ASI, orang lain jangan sampe gagal. Iyah, saya memang bangga mengalami kesulitan soal ASI dan Menyusui dan kemudian berhasil melewatinya. Justru itu, saya ingin mengajak semua ibu-ibu untuk tidak gagal dan agar berhasil memberikan ASI untuk anaknya. Saya dan teman-teman @ID_AyahASI justru ingin merangkul ibu-ibu yang belum bisa memberikan ASI untuk belajar lagi soal ASI dan Menyusui agar bisa membantu teman-teman, tetangga bahkan familinya.

Pertama, bagi sebagian orang memberi ASI adalah perjuangan yang luar biasa. Perjuangan ini levelnya berbeda-beda.

Ada yang merasa perjuangan adalah begadang semalaman untuk menyusui. Sebenarnya enggak perlu begadang semalaman, ajak dong suami untuk membantu ketika memberikan ASI dimalam hari. Jika ibu merasa harus beristirahat, perah ASI, lalu minta suami untuk memberikan ASIP ketika anak kita terbangun dimalam hari. Disinilah dukungan AyahASI penting. Iyah betul, ini kan anak berdua, bukan anak si ibu aja. Jangan biarkan istri kita berjuang sendirian bung! Jangan!

Ada yang merasa perjuangan adalah puting digigit berulang kali sampai berdarah-darah. Ini sebenarnya bisa dihindari dengan beberapa tips dan trik yang sudah sering dibagi di akun @ID_AyahASI atau @aimi_asi. Menyusui itu harus menyenangkan, jika ada kesulitan atau merasa sakit, itu tandanya kita harus bertanya dan mencari informasi.

Ada yang harus makan sayur setiap hari baru ASI bisa deras keluar. Sebentar, kenapa makan sayur setiap hari harus dianggap perjuangan? Bukankah makan sayur itu sehat? Pemerintah kita aja kesulitan mempromosikan Pedoman Gizi Seimbang, masa ketika ada ibu menyusui yang mau makan sayur dianggap kegiatan yang menyusahkan? Ini juga mitos yang tampaknya ada sejak zaman Saur Sepuh, makan sayur dianggap bisa membuat ASI deras keluar. Nope! Makan sayur enggak ada hubungannya sama ASI deras keluar. Ibu menyusui cukup makan dengan porsi semampunya dengan pedoman gizi seimbang. Prinsipnya, nikmati dan batasi.

Ada yang harus minum susu setiap hari. Gini..andaikan semua orang yang peduli soal ASI dan Menyusui mau merayakan Pekan ASI Sedunia dengan informasi yang penting, mungkin kita bisa bilangin ke ibu menyusui bahwa ENGGAK HARUS minum susu setiap hari. Sayang ada juga yang enggak mau merayakannya, lalu diam.

Ada yang shopping setiap hari. Wait, WHAT? Sis..shopping is in their blood. Masa shopping biar ASI lancar juga dianggap menyulitkan? Kalo enggak shopping kan kasihan abang tukang sayur enggak ada yang beli.

Saya memang perlu merayakan semua hal tentang ASI dan Menyusui di World Breastfeeding Week. Ada juga teman-teman yang men-download sertifikat lulus ASI dan memamerkannya di social media. Atau ada juga yang menulis tentang tidak merayakan World Breastfeeding Week lalu memamerkannya di blog. Wait! Jadi sebenarnya merayakan World Breastfeeding Week dong, meski dari sudut pandang yang berbeda? anyway…

Pertanyaanya adalah? apakah semua upload foto soal ASI dan Menyusui lalu dianggap pamer? Lalu gimana dengan ibu hamil yang perutnya menonjol keluar? dianggap pamer? lalu harus menutupinya agar ibu-ibu yang belum bisa hamil terjaga perasaannya?

ya kan enggak begini juga kaaan…ya kan? ya ga sih? | kalau memang mau ngasih tau orang, kan bisa tulisannya dibuat positif gitu..

ya kalo pikirannya udah negatif ya susah juga sih…ini sama dengan orang yang enggak membolehkan ada pisau di rumah karena pisau bisa membunuh orang.

“Ibu-ibu seperti saya ini yang biasanya men-judge ibu-ibu yang tidak bisa memberi ASI”.

Nah kan ngaku..gini loh, kita justru mau mengajak agar tidak mudah menghakimi orang lain. Seorang Ibu enggak bisa disebut gagal menyusui,kenapa? karena menyusui dan memberikan ASI bukan tugas seorang ibu saja, menyusui dan memberikan ASI adalah tugas semua orang. Iyah, kita dan kamu harus mendukung seorang ibu untuk bisa berhasil menyusui. Bukan men-judge! Ga boleh itu. Kalo ada ibu yang belum berhasil menyusui, itu berarti kita dan kamu juga belum berhasil mendukung si ibu untuk berhasil. Ya salah kita juga! Kenapa diam? kenapa enggak membantu? kenapa enggak merayakan?

“Secara biologis ya memang ASI itu natural. Tapi ada faktor-faktor pemicu lain yang membuat seorang ibu gagal memberi ASI. Seperti support system dan kondisi psikologis.” Betul, saya setuju..justru saya dan teman-teman semua mengajak semua orang untuk membentuk supporting system yang baik bagi ibu menyusui. Bukan dengan memperlebar jarak dan menganggap ada 2 kubu yang berseberangan: IBU YANG PAMER vs IBU YANG DIHAKIMI.

Coba deh pola pikirnya diubah biar agak positif sedikit gitu, kaya gini: IBU BISA MENYUSUI vs IBU YANG HARUS DIBANTU.

“Support system yang baik di mana suami mendukung pemberian ASI, orangtua dan mertua mendukung pemberian ASI, kantor yang menyediakan ruang pompa ASI, komunitas yang merangkul dan memberi semangat untuk tetap memberi ASI.” – nah betul, tuh paham.

“Sementara faktor kondisi psikologis ini cukup tricky. Di satu sisi ibu harus bahagia agar ASI mengalir deras, tapi di sisi lain saat ASI nya berkurang, ibu langsung merasa down, stres, susah untuk bahagia. Padahal stres membuat ASI semakin berkurang.” – betul, ini bisa diatasi dengan Supporting System yang mba sebutin tadi, justru jangan dianggap kaya enggak bisa diatasi dan kok kayanya dianggap perjuangan ibu sendiri. Kalo ASI nya lagi berkurang, teman kantor kan bisa kasih dukungan positif misalnya, “ih segitu banyak loh, nanti pas pompa lagi aku temenin yah, biar lebih seru”. Gitu, jangan malah dipanas-panasin, entar kalo malah memilih enggak mau perah lalu gimana? karena menganggap enggak bisa diatasi? hayooo loh..

“Menurut saya pamer sertifikat dan pamer jumlah stok ASI perah hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial dan membuat ibu yang “gagal” menyusui semakin stres, semakin tidak bisa memberi ASI. Dan yang diberi sertifikat adalah bayinya. Make sense kah?” – Ini kalo pikirannya negatif yah..kalo pikirannya positif akan seperti ini “Ih si Annis keren banget udah ada sertifikat ASI dan stok ASInya banyak, aku mau ah belajar sama dia, mau diskusi sama dia biar aku juga banyak..aku mau minta dia untuk dukung aku ah” Nah, kalo pikiran positif seperti ini justru akan semakin menghilangkan kecemburuan social dan membuat ibu yang “gagal” menyusui menjadi bangkit dan berhasil menyusui.

Iyah…masa ada orang yang lagi jatuh terus kita bilang gini…”ih kalian ini malah jalan-jalan, jaga dong perasaan orang yang lagi jatuh, ga bisa berdiri tuh..ini kalian malah pamer pake sepatu baru dan jeans baru”.

Sementara disisi lain ada orang yang lagi jatuh terus kita bilang gini…”aku udah berhasil kasih ASI dan punya stok banyak..aku mau ah bantuin si Annis biar kaya aku..aku nanti kasih tau dia ah poto-poto aku menyusui..pokoknya aku pengen semua orang kaya aku, berhasil kasih ASI.”

Gituu..keliatan kan bedanya orang yang bikin panas sesuatu sama yang bikin adem?

“Untuk yang senang pamer kulkas berisi ratusan botol ASI perah, tahukah ada kondisi bernama hiperlaktasi di mana seorang ibu berlebihan memproduksi ASI? Ibu hiperlaktasi ini biasanya punya cadangan ASI perah berkulkas-kulkas karena ASI yang dia produksi lebih banyak dari yang dibutuhkan bayi.” – Begini..hiperlaktasi ini sebuah kondisi khusus yang positif,iyah betul..saya sebut kondisi khusus karena memang enggak semua ibu bisa seperti ini. Beberapa alasan hiperlaktasi adalah karena Alveoli yang banyak atau ada ketidakseimbangan hormon.

Jadi gini, kalo ada ibu yang punya stok ratusan botol ASI perah dikulkas itu bukan karena si ibu Hiperlaktasi..itu karena si ibu rutin memerah ASI. Jangan dianggap begini: “ih dia kan punya banyak stok ASI karena hiperlaktasi, aku kan enggak..sombong banget sih pamer-pamer foto”. Bukan gitu..boleh sih meng-kritik, tapi yang membangun sedikit dengan informasi dan data yang bener juga boleh kok. Produksi ASI itu prinsipnya sederhana, semakin sering ASI dikeluarkan, maka produksi ASI akan semakin cepat. Betul, itu bisa diatur, kita yang atur…bukan hiperlaktasi. Kita yang harus kasih informasi yang bener biar si ibu bisa memerah ASI dengan rutin.

Kedua, menurut saya ASI itu rezeki. Kalau rezeki tentu tidak sama bagi setiap orang dong.

Oh betul..ASI memang berbeda setiap orang, bahkan setiap hari aja kandungan ASI berbeda. Banyaknya ASI juga bisa berbeda, karena tergantung pada kebutuhan si bayi. Bayi A cuma butuh sedikit disbanding dengan Bayi B, yah ga apa-apa, memang segitu kebutuhannya.

“Sejak hamil, saya sendiri selalu menanamkan pola pikir rezeki ini. Bahwa saya akan bersyukur sekali kalau Tuhan melancarkan rezeki saya melalui ASI. Kalau pun ASI saya tidak keluar, saya berdoa agar diberi rezeki dalam bentuk lain karena susu formula kan mahal.” – Boleh ya enggak sependapat kan..lagian kan ini juga blog pribadi saya. Begini, saya beranggapan bahwa semua yang gratis dari Tuhan itu butuh usaha dari manusia. Contohnya begini..

Cinta itu gratis..tapi kita perlu usaha bertahun-tahun untuk mendapatkan jodoh? kalo diam saja kan juga enggak bisa. Tuhan justru pengen kita berusaha. ASI juga begitu, gratis dari Tuhan..tapi payudara perlu mendapat rangsangan, ibu perlu didukung agar pemberian ASI lancar ke bayi.

“Karena kalau pun ASI saya tidak lancar, masa mau menyalahkan Tuhan kan?” – Ya tentu enggak. Saya sih menyalahkan orang yang enggak mau bantuin nyebarin informasi penting di kala Pekan ASI Sedunia. Ada yang butuh bantuan, tapi enggak dibantu. Kan Kasihan. Kamu ih…

“Jadi memberi ASI ada yang memang sukses tanpa usaha,..” – oh mana adaaaa, coba tanya semua ibu menyusui…tanya apakah ada yang bisa memberi ASI dan sukses tanpa usaha? Kalo ada, sini saya traktir bakso 2 mangkok.

“Sangat tidak adil jika seorang ibu di-judge “tidak memberi yang terbaik” untuk anaknya karena gagal memberi ASI.” – ini seperti yang dibilang tadi –> “Ibu-ibu seperti saya ini yang biasanya men-judge ibu-ibu yang tidak bisa memberi ASI”. Ya jangan dong..jangan menghakimi. Ayo dibantu dengan merayakan World Breastfeeding Week, minggu lalu ada puluhan informasi yang beredar biar Ibu menyusui bisa sukses dikala bekerja. Bahkan AIMI diberbagai kota memberikan informasi gratis dengan dating ke kantor-kantor loh. Iyah, mereka bergerak. Bukan sekedar enggak mau merayakan lalu menghakimi.

“Ayo kampanye ASI, bahwa ASI makanan terbaik bagi bayi karena murah dan mudah. Karena membuat bayi lebih sering berada di pelukan ibunya. Kampanyekan pada para ayah untuk  membuat ibu selalu bahagia. Kampanyekan pada para nenek dan kakek bahwa ASI lebih baik dari susu formula.

Bukan berkampanye dalam bentuk perayaan ramai-ramai mengunggah foto sertifikat dan jumlah ASI perah. Yang membuat ibu-ibu lain semakin tertekan secara psikologis dan semakin sulit memberi ASI.”

Satu lagi..Ayo Berkampanye untuk tidak berpikiran negatif, yuk selalu ajak orang untuk berpikiran positif.

Disclaimer: Tulisan ini adalah sepenuhnya opini dan pandangan penulis dan tidak mewakili opini @ID_AyahASI secara komunitas/keseluruhan.

*blog sendiri sih, ga usah pake nama lah ya*

wedding-moments-newly-wed-couple-s-hands-with-wedding-rings_8353-5792

Same Sex Marriage; Yes or No?

Artikel dibawah ini terlalu menarik untuk enggak gue taro di blog ini. Kurang lebih mewakili pendapat gue soal Same Sex Marriage yang baru aja dilegalkan di US. Gue sendiri enggak ada masalah soal LGBT, bertahun-tahun kerjaan gue juga berhubungan sama temen-temen ini. Prinsip gue sederhana, elo udah dewasa, gue menghargai pilihan elo, soal dosa itu urusan elo sama Tuhan. Itu kenapa sampe sekarang gue berteman baik dengan temen-temen LGBT.

Tulisan ini menarik karena ditulis oleh seorang gay, meski dia menggunakan nama samaran. Silahkan dibaca.

____________________________________________________________

I’m Gay, And I Oppose Same-Sex Marriage; I want nothing in this world more than to be a father. Yet I can’t bring myself to celebrate same-sex marriage.

Gay marriage has gone from unthinkable to reality in the blink of an eye. A recent Washington Post/ABC News poll shows that support for gay marriage is now at 61 percent—the highest it’s ever been. On Tuesday, the Supreme Court will hear arguments in the case that many court-watchers believe will deliver the final blow to those seeking to prevent the redefinition of marriage. By all measures, this fight is over. Gay marriage won.

As a 30-year-old gay man, one would expect me to be ecstatic. After all, I’m at that age where people tend to settle down and get married. And there is nothing in this world I want more than to be a father and raise a family. Yet I can’t seem to bring myself to celebrate the triumph of same-sex marriage. Deep down, I know that every American, gay or straight, has suffered a great loss because of this.

I’m not alone in thinking this. The big secret in the LGBT community is that there are a significant number of gays and lesbians who oppose same-sex marriage, and an even larger number who are ambivalent. You don’t hear us speak out because gay rights activists (most of whom are straight) have a history of viciously stamping out any trace of individualism within the gay community. I asked to publish this article under a pseudonym, not because I fear harassment from Christian conservatives, but because I know this article will make me a target of the Gaystapo.

Marriage Is More than a Contract
The wheels of my Pride Parade float came off the moment I realized that the argument in support of gay marriage is predicated on one audaciously bald-faced lie: the lie that same-sex relationships are inherently equal to heterosexual relationships. It only takes a moment of objective thought to realize that the union of two men or two women is a drastically different arrangement than the union of a man and a woman. It’s about time we realize this very basic truth and stop pretending that all relationships are created equal.

Why was government invited to regulate marriages but not other interpersonal relationships, like friendships? This inherent inequality is often overlooked by same-sex marriage advocates because they lack a fundamental understanding of what marriage actually is. It seems as though most people view marriage as little more than a love contract. Two people fall in love, agree to stick together (for a while, at least), then sign on the dotted line. If marriage is just a love contract, then surely same-sex couples should be allowed to participate in this institution. After all, two men or two women are capable of loving each other just as well as a man and a woman.

But this vapid understanding of marriage leaves many questions unanswered. If marriage is little more than a love contract, why do we need government to get involved? Why was government invited to regulate marriages but not other interpersonal relationships, like friendships? Why does every religion hold marriage to be a sacred and divine institution? Surely marriage must be more than just a love contract.
People have forgotten that the defining feature of marriage, the thing that makes marriage marriage, is the sexual complementarity of the people involved. Marriage is often correctly viewed as an institution deeply rooted in religious tradition. But people sometimes forget that marriage is also based in science. When a heterosexual couple has sex, a biological reaction can occur that results in a new human life.

Government got into the marriage business to ensure that these new lives are created in a responsible manner. This capacity for creating new life is what makes marriage special. No matter how much we try, same-sex couples will never be able to create a new life. If you find that level of inequality offensive, take it up with Mother Nature. Redefining marriage to include same-sex couples relegates this once noble institution to nothing more than a lousy love contract. This harms all of society by turning marriage, the bedrock of society, into a meaningless anachronism.

A Good Dad Puts Kids First
Same-sex relationships not only lack the ability to create children, but I believe they are also suboptimal environments for raising children. On a personal level, this was an agonizing realization for me to come to. I have always wanted to be a father. I would give just about anything for the chance to have kids. But the first rule of fatherhood is that a good dad will put the needs of his children before his own—and every child needs a mom and a dad. Period. I could never forgive myself for ripping a child away from his mother so I could selfishly live out my dreams.

Same-sex relationships, by design, require children to be removed from one or more of their biological parents and raised absent a father or mother. This hardly seems fair. So much of what we do as a society prioritizes the needs of adults over the needs of children. Social Security and Medicare rob the young to pay the old. The Affordable Care Act requires young and healthy people to buy insurance to subsidize the cost for the old and sick. Our schools seem more concerned with keeping the teachers unions happy than they are educating our children. Haven’t children suffered enough to make adults’ lives more convenient? For once, it would be nice to see our society put the needs of children first. Let’s raise them in homes where they can enjoy having both a mom and a dad. We owe them that.

At its core, the institution of marriage is all about creating and sustaining families. Over thousands of years of human civilization, the brightest minds have been unable to come up with a successful alternative. Yet in our hubris we assume we know better. Americans need to realize that same-sex relationships will never be equal to traditional marriages. You know what? I’m okay with that.

Paul Rosnick is a pseudonym.

artikel asli dapat dibaca di sini

top-view-of-blank-slate-with-apples-and-water-bottle_23-2147601786

Diet Mayo Yang Nyaho!

Disclaimer:

Gue pribadi sebenarnya bukan pendukung segala macam diet-dietan yang bertujuan untuk menguruskan badan. Buat gue pribadi, yang utama adalah tubuh mendapatkan asupan yang dibutuhkan, tubuh harus sehat, bukan kurus! Kalo badan sehat, maka berat badan yang turun adalah bonusnya. Tulisan soal Mayo Diet ini cuma sekedar meluruskan apa yang saat ini lagi nge-trend dan beredar di Indonesia. Kenapa harus diluruskan? Ya karena menurut gue udah beda jauh banget sama aslinya. Sayang kan, udah makan “ga enak” tapi ternyata salah. Gue sendiri adalah pelaku Food Combining.

Diet Mayo vs The Mayo Clinic Diet

Kok ada dua sih? itu sama apa beda?

Beda!

Diet Mayo 13 Days atau yang sekarang kita kenal dengan Tantangan 13 Hari Diet Mayo bukan bikinan Mayo Clinic seperti yang kebanyakan orang bilang. Dalam beberapa blog bahkan ada yang bilang kalo Diet Mayo ini diperkenalkan oleh Mayo Clinic pada tahun 2008. Aneh! Mayo Clinic aja baru bikin buku soal The Mayo Clinic Diet pada tahun 2010. Diet Mayo ini ga jelas asal muasalnya dan ga tau juga siapa yang bikin. Bahkan sebenarnya udah dimulai sejak tahun 1930an. Diet Mayo 13 Days ini punya banyak nama, sebut aja 13 Days Metabolism Diet dan Holywood Diet. Gue jelasin lebih lanjut dibawah.

The Mayo Clinic Diet. Nah, yang ini baru dikenalkan secara resmi pada tahun 2010. Bersamaan dengan terbitnya sebuah buku dengan judul yang sama. Jadi terkenal banget karena MayoClinic.org emang lembaga penelitian kesehatan ternama, dijadiin referensi soal kesehatan oleh jutaan orang, termasuk gue sendiri.

Terus apa bedanya?

Copyright 2019 hidayatrahmat.id © All Rights Reserved