Hari ini adalah hari terakhir World Breastfeeding Week atau Pekan Menyusui Sedunia. Iyah, Week disini sebenarnya berarti Pekan, bukan Minggu. Meskipun saya AyahASI yang memberi dukungan agar istri saya menyusui anak-anak kami (Anak ke-1 menyusui hingga 2.2 tahun, anak ke-2 masih menyusui dan saat ini umurnya 8 bulan), saya memilih untuk merayakannya. Saya bahkan membuat infografis soal ASI dan Menyusui selama 7 hari berturut-turut untuk @ID_AyahASI, dan menyebut puluhan kali “perayaan” ini di akun social media. Meski baru kali ini saya menyebutnya di blog pribadi.

Karena buat saya, hal ini berguna untuk memberikan informasi soal ASI dan Menyusui. Saya dan istri pernah mengalami kesulitan dalam hal menyusui, pun begitu dengan para pendiri AyahASI. Itu kenapa kami membuat buku Catatan AyahASI dan mendirikan @ID_AyahASI, agar cukup kami saja yang mengalami kesulitan atau kegagalan dalam hal pemberian ASI, orang lain jangan sampe gagal. Iyah, saya memang bangga mengalami kesulitan soal ASI dan Menyusui dan kemudian berhasil melewatinya. Justru itu, saya ingin mengajak semua ibu-ibu untuk tidak gagal dan agar berhasil memberikan ASI untuk anaknya. Saya dan teman-teman @ID_AyahASI justru ingin merangkul ibu-ibu yang belum bisa memberikan ASI untuk belajar lagi soal ASI dan Menyusui agar bisa membantu teman-teman, tetangga bahkan familinya.

Pertama, bagi sebagian orang memberi ASI adalah perjuangan yang luar biasa. Perjuangan ini levelnya berbeda-beda.

Ada yang merasa perjuangan adalah begadang semalaman untuk menyusui. Sebenarnya enggak perlu begadang semalaman, ajak dong suami untuk membantu ketika memberikan ASI dimalam hari. Jika ibu merasa harus beristirahat, perah ASI, lalu minta suami untuk memberikan ASIP ketika anak kita terbangun dimalam hari. Disinilah dukungan AyahASI penting. Iyah betul, ini kan anak berdua, bukan anak si ibu aja. Jangan biarkan istri kita berjuang sendirian bung! Jangan!

Ada yang merasa perjuangan adalah puting digigit berulang kali sampai berdarah-darah. Ini sebenarnya bisa dihindari dengan beberapa tips dan trik yang sudah sering dibagi di akun @ID_AyahASI atau @aimi_asi. Menyusui itu harus menyenangkan, jika ada kesulitan atau merasa sakit, itu tandanya kita harus bertanya dan mencari informasi.

Ada yang harus makan sayur setiap hari baru ASI bisa deras keluar. Sebentar, kenapa makan sayur setiap hari harus dianggap perjuangan? Bukankah makan sayur itu sehat? Pemerintah kita aja kesulitan mempromosikan Pedoman Gizi Seimbang, masa ketika ada ibu menyusui yang mau makan sayur dianggap kegiatan yang menyusahkan? Ini juga mitos yang tampaknya ada sejak zaman Saur Sepuh, makan sayur dianggap bisa membuat ASI deras keluar. Nope! Makan sayur enggak ada hubungannya sama ASI deras keluar. Ibu menyusui cukup makan dengan porsi semampunya dengan pedoman gizi seimbang. Prinsipnya, nikmati dan batasi.

Ada yang harus minum susu setiap hari. Gini..andaikan semua orang yang peduli soal ASI dan Menyusui mau merayakan Pekan ASI Sedunia dengan informasi yang penting, mungkin kita bisa bilangin ke ibu menyusui bahwa ENGGAK HARUS minum susu setiap hari. Sayang ada juga yang enggak mau merayakannya, lalu diam.

Ada yang shopping setiap hari. Wait, WHAT? Sis..shopping is in their blood. Masa shopping biar ASI lancar juga dianggap menyulitkan? Kalo enggak shopping kan kasihan abang tukang sayur enggak ada yang beli.

Saya memang perlu merayakan semua hal tentang ASI dan Menyusui di World Breastfeeding Week. Ada juga teman-teman yang men-download sertifikat lulus ASI dan memamerkannya di social media. Atau ada juga yang menulis tentang tidak merayakan World Breastfeeding Week lalu memamerkannya di blog. Wait! Jadi sebenarnya merayakan World Breastfeeding Week dong, meski dari sudut pandang yang berbeda? anyway…

Pertanyaanya adalah? apakah semua upload foto soal ASI dan Menyusui lalu dianggap pamer? Lalu gimana dengan ibu hamil yang perutnya menonjol keluar? dianggap pamer? lalu harus menutupinya agar ibu-ibu yang belum bisa hamil terjaga perasaannya?

ya kan enggak begini juga kaaan…ya kan? ya ga sih? | kalau memang mau ngasih tau orang, kan bisa tulisannya dibuat positif gitu..

ya kalo pikirannya udah negatif ya susah juga sih…ini sama dengan orang yang enggak membolehkan ada pisau di rumah karena pisau bisa membunuh orang.

“Ibu-ibu seperti saya ini yang biasanya men-judge ibu-ibu yang tidak bisa memberi ASI”.

Nah kan ngaku..gini loh, kita justru mau mengajak agar tidak mudah menghakimi orang lain. Seorang Ibu enggak bisa disebut gagal menyusui,kenapa? karena menyusui dan memberikan ASI bukan tugas seorang ibu saja, menyusui dan memberikan ASI adalah tugas semua orang. Iyah, kita dan kamu harus mendukung seorang ibu untuk bisa berhasil menyusui. Bukan men-judge! Ga boleh itu. Kalo ada ibu yang belum berhasil menyusui, itu berarti kita dan kamu juga belum berhasil mendukung si ibu untuk berhasil. Ya salah kita juga! Kenapa diam? kenapa enggak membantu? kenapa enggak merayakan?

“Secara biologis ya memang ASI itu natural. Tapi ada faktor-faktor pemicu lain yang membuat seorang ibu gagal memberi ASI. Seperti support system dan kondisi psikologis.” Betul, saya setuju..justru saya dan teman-teman semua mengajak semua orang untuk membentuk supporting system yang baik bagi ibu menyusui. Bukan dengan memperlebar jarak dan menganggap ada 2 kubu yang berseberangan: IBU YANG PAMER vs IBU YANG DIHAKIMI.

Coba deh pola pikirnya diubah biar agak positif sedikit gitu, kaya gini: IBU BISA MENYUSUI vs IBU YANG HARUS DIBANTU.

“Support system yang baik di mana suami mendukung pemberian ASI, orangtua dan mertua mendukung pemberian ASI, kantor yang menyediakan ruang pompa ASI, komunitas yang merangkul dan memberi semangat untuk tetap memberi ASI.” – nah betul, tuh paham.

“Sementara faktor kondisi psikologis ini cukup tricky. Di satu sisi ibu harus bahagia agar ASI mengalir deras, tapi di sisi lain saat ASI nya berkurang, ibu langsung merasa down, stres, susah untuk bahagia. Padahal stres membuat ASI semakin berkurang.” – betul, ini bisa diatasi dengan Supporting System yang mba sebutin tadi, justru jangan dianggap kaya enggak bisa diatasi dan kok kayanya dianggap perjuangan ibu sendiri. Kalo ASI nya lagi berkurang, teman kantor kan bisa kasih dukungan positif misalnya, “ih segitu banyak loh, nanti pas pompa lagi aku temenin yah, biar lebih seru”. Gitu, jangan malah dipanas-panasin, entar kalo malah memilih enggak mau perah lalu gimana? karena menganggap enggak bisa diatasi? hayooo loh..

“Menurut saya pamer sertifikat dan pamer jumlah stok ASI perah hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial dan membuat ibu yang “gagal” menyusui semakin stres, semakin tidak bisa memberi ASI. Dan yang diberi sertifikat adalah bayinya. Make sense kah?” – Ini kalo pikirannya negatif yah..kalo pikirannya positif akan seperti ini “Ih si Annis keren banget udah ada sertifikat ASI dan stok ASInya banyak, aku mau ah belajar sama dia, mau diskusi sama dia biar aku juga banyak..aku mau minta dia untuk dukung aku ah” Nah, kalo pikiran positif seperti ini justru akan semakin menghilangkan kecemburuan social dan membuat ibu yang “gagal” menyusui menjadi bangkit dan berhasil menyusui.

Iyah…masa ada orang yang lagi jatuh terus kita bilang gini…”ih kalian ini malah jalan-jalan, jaga dong perasaan orang yang lagi jatuh, ga bisa berdiri tuh..ini kalian malah pamer pake sepatu baru dan jeans baru”.

Sementara disisi lain ada orang yang lagi jatuh terus kita bilang gini…”aku udah berhasil kasih ASI dan punya stok banyak..aku mau ah bantuin si Annis biar kaya aku..aku nanti kasih tau dia ah poto-poto aku menyusui..pokoknya aku pengen semua orang kaya aku, berhasil kasih ASI.”

Gituu..keliatan kan bedanya orang yang bikin panas sesuatu sama yang bikin adem?

“Untuk yang senang pamer kulkas berisi ratusan botol ASI perah, tahukah ada kondisi bernama hiperlaktasi di mana seorang ibu berlebihan memproduksi ASI? Ibu hiperlaktasi ini biasanya punya cadangan ASI perah berkulkas-kulkas karena ASI yang dia produksi lebih banyak dari yang dibutuhkan bayi.” – Begini..hiperlaktasi ini sebuah kondisi khusus yang positif,iyah betul..saya sebut kondisi khusus karena memang enggak semua ibu bisa seperti ini. Beberapa alasan hiperlaktasi adalah karena Alveoli yang banyak atau ada ketidakseimbangan hormon.

Jadi gini, kalo ada ibu yang punya stok ratusan botol ASI perah dikulkas itu bukan karena si ibu Hiperlaktasi..itu karena si ibu rutin memerah ASI. Jangan dianggap begini: “ih dia kan punya banyak stok ASI karena hiperlaktasi, aku kan enggak..sombong banget sih pamer-pamer foto”. Bukan gitu..boleh sih meng-kritik, tapi yang membangun sedikit dengan informasi dan data yang bener juga boleh kok. Produksi ASI itu prinsipnya sederhana, semakin sering ASI dikeluarkan, maka produksi ASI akan semakin cepat. Betul, itu bisa diatur, kita yang atur…bukan hiperlaktasi. Kita yang harus kasih informasi yang bener biar si ibu bisa memerah ASI dengan rutin.

Kedua, menurut saya ASI itu rezeki. Kalau rezeki tentu tidak sama bagi setiap orang dong.

Oh betul..ASI memang berbeda setiap orang, bahkan setiap hari aja kandungan ASI berbeda. Banyaknya ASI juga bisa berbeda, karena tergantung pada kebutuhan si bayi. Bayi A cuma butuh sedikit disbanding dengan Bayi B, yah ga apa-apa, memang segitu kebutuhannya.

“Sejak hamil, saya sendiri selalu menanamkan pola pikir rezeki ini. Bahwa saya akan bersyukur sekali kalau Tuhan melancarkan rezeki saya melalui ASI. Kalau pun ASI saya tidak keluar, saya berdoa agar diberi rezeki dalam bentuk lain karena susu formula kan mahal.” – Boleh ya enggak sependapat kan..lagian kan ini juga blog pribadi saya. Begini, saya beranggapan bahwa semua yang gratis dari Tuhan itu butuh usaha dari manusia. Contohnya begini..

Cinta itu gratis..tapi kita perlu usaha bertahun-tahun untuk mendapatkan jodoh? kalo diam saja kan juga enggak bisa. Tuhan justru pengen kita berusaha. ASI juga begitu, gratis dari Tuhan..tapi payudara perlu mendapat rangsangan, ibu perlu didukung agar pemberian ASI lancar ke bayi.

“Karena kalau pun ASI saya tidak lancar, masa mau menyalahkan Tuhan kan?” – Ya tentu enggak. Saya sih menyalahkan orang yang enggak mau bantuin nyebarin informasi penting di kala Pekan ASI Sedunia. Ada yang butuh bantuan, tapi enggak dibantu. Kan Kasihan. Kamu ih…

“Jadi memberi ASI ada yang memang sukses tanpa usaha,..” – oh mana adaaaa, coba tanya semua ibu menyusui…tanya apakah ada yang bisa memberi ASI dan sukses tanpa usaha? Kalo ada, sini saya traktir bakso 2 mangkok.

“Sangat tidak adil jika seorang ibu di-judge “tidak memberi yang terbaik” untuk anaknya karena gagal memberi ASI.” – ini seperti yang dibilang tadi –> “Ibu-ibu seperti saya ini yang biasanya men-judge ibu-ibu yang tidak bisa memberi ASI”. Ya jangan dong..jangan menghakimi. Ayo dibantu dengan merayakan World Breastfeeding Week, minggu lalu ada puluhan informasi yang beredar biar Ibu menyusui bisa sukses dikala bekerja. Bahkan AIMI diberbagai kota memberikan informasi gratis dengan dating ke kantor-kantor loh. Iyah, mereka bergerak. Bukan sekedar enggak mau merayakan lalu menghakimi.

“Ayo kampanye ASI, bahwa ASI makanan terbaik bagi bayi karena murah dan mudah. Karena membuat bayi lebih sering berada di pelukan ibunya. Kampanyekan pada para ayah untuk  membuat ibu selalu bahagia. Kampanyekan pada para nenek dan kakek bahwa ASI lebih baik dari susu formula.

Bukan berkampanye dalam bentuk perayaan ramai-ramai mengunggah foto sertifikat dan jumlah ASI perah. Yang membuat ibu-ibu lain semakin tertekan secara psikologis dan semakin sulit memberi ASI.”

Satu lagi..Ayo Berkampanye untuk tidak berpikiran negatif, yuk selalu ajak orang untuk berpikiran positif.

Disclaimer: Tulisan ini adalah sepenuhnya opini dan pandangan penulis dan tidak mewakili opini @ID_AyahASI secara komunitas/keseluruhan.

*blog sendiri sih, ga usah pake nama lah ya*