GTM; sebuah opini

Iya, gue mungkin salah satu orang yang enggak percaya anak ga mau makan. Buat gue yang ada hanya anak belum mau makan. Itu kenapa gue ga percaya adanya GTM (Gerakan Tutup Mulut) pada anak. Kenapa harus bingung kalo anak ga mau makan? Beberapa jawaban kalo gue kasih pertanyaan itu pasti begini, “apa ga kelaperan nanti anaknya?” atau “nanti gizinya dari mana kalo ga makan?”.

Okeeeh..sebelum di rentet dengan berbagai pertanyaan, gue mau jelasin alasan kenapa gue ga percaya dengan GTM ini:

1.Kenalkan Rasa Lapar

Secara alami manusia udah dikasih rasa lapar. Prinsipnya sederhana, kalo lapar maka kita akan makan. Ini ga terjadi secara tiba-tiba tapi ada hormon yang mengaturnya.  Jadi sebenarnya anak ga akan membiarkan dirinya kelaparan. Pertanyaan mendasar buat kita orang tua adalah? Apakah anak kita merasa lapar? Atau hanya kita yang mengira-ngira kalo anak kita lapar?

Okeh, ini agak sedikit akademis, tapi menurut gue ini penting untuk tau bagaimana tubuh menciptakan rasa lapar dan rasa kenyang. Ini penting karena kalo anak ga pernah merasa lapar anak ga akan makan. Jadi, kenalkanlah anak dengan rasa lapar.

Jadi gini, didalam tubuh kita ada dua hormon yang bekerja kaya saklar lampu, matiin dan hidupin. Namanya Hormon Ghrelin dan Hormon Leptin, Hormon Ghrelin mengeluarkan rasa lapar dan Hormon Leptin menekan rasa lapar atau kasih tanda kalo kita udah kenyang. Lapar terjadi karena tubuh butuh energi untuk metabolisme, ketika butuh energi maka tubuh akan bekerja secara otomatis untuk meminta bahan bakar. Pada tahap ini biasanya tingkat gula darah dalam tubuh juga rendah. Ketika tidak ada bahan bakar didalam tubuh, yang itu berarti ketika perut kita kosong maka lambung akan mengeluarkan hormon ghrelin, hormon ini akan mengirim sinyal ke otak, menimbulkan rasa lapar dan memerintahkan kita untuk segera makan. Nah, coba tanya sama diri sendiri, anak kita udah lapar belum? Ini kenapa gue percaya seorang bayi / anak enggak akan membiarkan dirinya kelaparan.

Ada lagi yang namanya Hormon Leptin, hormon ini tugasnya untuk menekan rasa lapar atau bikin tanda kenyang. Leptin disimpan di lemak, makan dengan gizi yang tidak seimbang dan cenderung banyak lemak dapat merusak kadar leptin dan responnya. Sehingga kita bisa makan terus meski sebenarnya tubuh sudah cukup asupan. Disinilah obesitas dimulai.

Masalah anak ga mau makan menurut gue dimulai dari anak enggak mengenal rasa lapar. Karena kelewat parno, anak dijejelin mulu sama makanan kecil, apa aja dikasih asal masuk makanan. Atau bahkan sebagian besar akhirnya memilih memberikan susu formula atau UHT. Susu sapi seperti kita tahu adalah minuman tinggi lemak. Sederhana aja buat gue, kalo anak ga mau makan, jangan gantikan dengan minuman. Karena susu sapi tinggi lemak maka anak akan merasa mudah kenyang. Dalam jangka panjang, anak akan lebih memilih minum susu yang cenderung rasanya lebih enak, ga ribed minumnya dan dalam seketika bikin kenyang. Sederhana lagi kan, karena udah merasa kenyang dengan susu sapi, apakah salah kalo anak kita ga mau makan? Ada kalanya anak emang enggak mau makan pada jam makan, bisa karena menu belum pas, bisa karena belum mau makan karena masih mau main dan bisa karena belum mau makan karena masih kenyang.

Yang gue lakuin kalo anak gue ga mau makan cuma satu, gue berhenti kasih dia makan dan membiarkannya bermain dan tidak menggantikannya dengan yang lain.

So there you go, ada hormon dalam tubuh kita yang mengatur rasa lapar. Jadi seorang anak ga akan membiarkan dirinya kelaparan, tapi hormon lapar ini enggak akan pernah muncul kalo anak selalu merasa kenyang. Apalagi ketika ga mau makan malah dikasih makanan yang manis-manis, tentu asupan gula darah akan tetap meningkat, bahan bakar untuk energi akan tetap ada dan mekanisme alami seperti yang gue jelaskan diatas tidak akan pernah terjadi.

Hasilnya sederhana, tubuh ga merasa butuh bahan bakar, ga merasa lapar dan ga belum butuh makan.

2.Jangan jadi bos

Jadilah asisten pribadi buat anak kita yang tugasnya mengingatkan jadwal makan, menyiapkan makan dan bahkan me-nyuapi makan. Harusnya kita melanjutkan apa yang terjadi ketika menyusui, pada masa itu kan yang jadi bos malah anak kita. Kalo dia lapar tinggal minta lewat tangisan. Begitu pun ketika anak sudah makan. Ingatkan jadwal makannya, variasikan menu dan berhenti ketika dia sudah tidak mau makan.

Yang sering terjadi adalah kita kelewat jadi bos, menganggap anak udah waktunya makan dan menganggap anak harusnya udah lapar. Ga mau makan nasi akhirnya kita sediakan semua jenis makanan (baca: cemilan atau minuman).

Jadi kalo anak belum makan maka berhenti menawarkan dia makan. Tawarkan makan pada 30 menit atau 60 menit kemudian.Pada saatnya dia lapar maka mekanisme alami dalam tubuh akan bekerja. Pada saat ini, secara otomatis anak pasti akan meminta makan.

Yang jadi bos harus anaknya, biarkan dia yang mengatur kapan mau makan atau tidak. Tugas kita sekedar mengingatkan waktu makan dan menyiapkan makan.

3.Buang konsepsi kalo makan harus nasi

Ada yang lucu dengan istilah GTM-Gerakan Tutup Mulut ini, anaknya disebut ga mau makan karena ga mau makan nasi. Tapi masih mau makan pas dikasih buah, biskuit, susu atau cemilan lainnya. Okeh, itu berarti anak lo ga menutup mulutnya bukan?

Tau ga kalo 2 buah pisang nilai gizinya itu sama dengan 1 piring nasi? Dalam pedoman gizi seimbang (buat yang belum tau, pemerintah Indonesia udah enggak pake konsep 4 Sehat 5 Sempurna lagi sejak tahun 1995, iya itu berarti sejak 17 tahun yang lalu, sekarang namanya Pedoman Umum Gizi Seimbang) disebutin kalo nasi hanya SALAH SATU sumber karbohidrat, jadi masih banyak pilihan.

Buang jauh-jauh kalo yang namanya makan itu harus NASI. Anak kita makan buah-buahan, ya itu makan. Anak kita makan sayuran, ya itu juga makan bukan?

4.Libatkan anak

Biasakan selalu melibatkan anak dalam proses makan. Mulai dari menyiapkan makanan di dapur, posisi makan yang baik, berdoa sebelum makan hingga kebiasaan selesai makan. Pada akhirnya, ketika lapar anak akan mengikuti kebiasaan itu, mencari makanan sendiri ke dapur misalnya.

Kita terlalu sering menganggap bahwa anak itu engga tau apa-apa, tapi sebenarnya anak itu sedang merekam kebiasaan kita. Kita enggap pernah mengajarkan anak kita cara menelepon bukan? Tapi karena terlalu sering melihat kita menggunapan handphone untuk menelepon, seketika dia tau bahwa telpon harus diletakkan di telinga. Begitu juga dengan kebiasaan makan.

Ajarkan anak bahwa makan harus duduk, kebiasaan ini bisa dibentuk dari sejak kecil kok.

Leave a comment



Copyright 2019 hidayatrahmat.id © All Rights Reserved