Minat Baca (anak) Indonesia Tinggi!

Gue sama sekali engga begitu ngerti tentang dunia perbukuan sebelumnya, meski hobi membaca udah mulai disaat setiap hari Kamis pagi nungguin tukang koran anter majalah Bobo. Minat membaca (buku) baru ada ketika gue kuliah, bergabung dengan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) mendorong gue untuk membaca, itu karena semua orang pas lagi dikusi selalu mengutip kata-kata dan kalimat dari penulis bukunya. Edan, pinter banget! pikir gue saat itu.

Semenjak saat itu, tiap bulan pasti ada aja buku yang gue beli, kalaupun enggak, pinjam meminjam buku udah sangat lazim di antara temen-temen, anehnya engga ada satupun buku yang berkaitan sama kegiatan belajar di kampus. Tapi disitulah serunya, secara ga langsung, kita diajarkan menghubungkan teori yang ada di buku dengan ajaran yang ada di kampus.

Ga selesai sampe disitu, begitu gue lulus dan balik ke Jakarta, secara ga sengaja gue ketemu sama Komunitas 1001buku, komunitas ini yang kemudian mengenalkan gue kepada isu perbukuan di Indonesia, dan entah kenapa, gue merasa pas “berjuang” di isu ini. Informasi tentang dunia buku gue bertambah ketika gue akhirnya keterima di Penerbit Erlangga, salah satu penerbit besar di dunia buku pelajaran.

Di Komunitas 1001buku, gue dapet pencerahan, bahwa minat baca anak indonesia sebenarnya tinggi! gue bingung, karena selama ini yang gue denger, justru minat baca di Indonesia paling rendah, ga cuma di dunia, tapi juga di ASEAN. Sekarang gue percaya, minat baca anak indonesia emang tinggi, yang rendah justru akses terhadap buku. Bayangin aja, ke perpustakaan sekolah terbatas masalah waktu, bukunya pun terkadang tidak terawat dan tidak menarik, perpustakaan daerah biasanya jauh, sampai disini jangan berharap ada perpustakaan kelurahan atau RW yang bisa diakses, yang ada biasanya cuma formalitas aja, ada 1-3 buku yang terpajang, dan ditempel tulisan PERPUSTAKAAN.

Bandingkan dengan akses menuju rental PS, secara kasat mata saja, hampir di setiap sudut gang dengan mudah ditemukan, akses mudah, minat tinggi. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah kalau sudah ada taman bacaan, maka anak-anak akan senang membaca? hal inilah yang menjadi tantangan bagi pengelola taman bacaan anak, bahwa buku pada dasarnya bukan hanya untuk di baca, tapi juga diimplementasikan atau bahkan divisualisasikan, sehingga anak-anak tertarik untuk terus belajar dan hadir di taman bacaan.

Kalo menurut gue sih, jangan melulu menyalahkan anak yang tidak mau membaca, selain memang tidak dibiasakan untuk membaca, akses untuk ke bahan bacaannya juga terbatas, belum lagi kebiasaan membaca itu terbangun, teknologi sudah mengambil alih dengan kebiasaan menonton.

#justmention

Leave a comment



Copyright 2019 hidayatrahmat.id © All Rights Reserved